Kolom

"Hentai", Pandemi, dan Pendidikan Seks

Rina Purwaningsih - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 13:10 WIB
Penyakit diubah jadi karakter anime
Anime atau komik Jepang (Foto ilustrasi: CDC Taiwan/Facebook)
Jakarta -
Suatu hari saya mendapati anak remaja saya Kimmy (14 tahun) uring-uringan. Semua orang rumah menjadi pelampiasan emosinya. "Mama hanya akan bicara dan membantumu kalau kamu sudah tenang!" tegas saya. Sejam kemudian dia mengetuk kamar saya. Singkat cerita akhirnya saya tahu, Kimmy mengalami kecemasan akut atas berbagai peristiwa yang terjadi pada hari itu. Di antaranya, tugas daring yang memberatkan, oknum guru yang marah-marah di kelas webinar, dan seorang kawan yang mengirimkan sebuah link anime hentai. Hentai?

Kata itu membuat saya terperanjat. Saya sering menemukan istilah itu dari WAG para penulis dari sebuah media online. Hentai berasal dari bahasa Jepang yang berarti mesum. Istilah ini tidak asing di antara pecinta anime dan manga Jepang. Hentai adalah salah satu genre dari sekitar 30-an jenis genre anime. Sebenarnya di setiap genre tertera jelas peruntukannya, apakah semua umur, khusus anak-anak, atau dewasa (18 ke atas). Tapi bagaimana bisa kawan Kimmy, sebut saja Dino, yang belum cukup umur itu bisa mengakses situs semacam itu dengan bebas?

Keluarga Tak Utuh

Dino adalah anak tunggal dari sebuah keluarga yang tak lagi utuh. Ayahnya sudah meninggal. Ibunya tinggal di luar pulau. Dia tinggal bersama kakek dan neneknya sebagai satu-satunya penerus keturunan. Secara ekonomi Dino adalah anak yang berkecukupan. Tapi dia tetaplah anak yang kesepian. Dia selalu ingin dikeliligi banyak teman. Selama pandemi ini dia sering mengumpulkan teman-teman melalui panggilan WA termasuk Kimmy, untuk mabar atau nonton anime bergenre hentai.

Tak hanya Dino, teman Kimmy yang bernama Dee juga pernah mengajak Kimmy nonton anime hentai berjenis yaoi dan yuri. Dee selalu memasang story di IG-nya yang bernuansa yaoi dan yuri. Yaoi dipakai untuk menggambarkan hubungan sesama jenis laki-laki, sedangkan yuri berarti hubungan sesama jenis perempuan. Dee dengan bangganya menge-tag beberapa teman termasuk Kimmy, yang dia anggap sama dengan dirinya sebagai fujoshi (cewek penggemar anime yaoi dan yuri). Tanpa menyadari bahwa salah satu teman yang dia kirimi (Kimmy) tengah mengalami resistansi psikiatri.

Kimmy sebagai penyintas anxiety disorder merasa berada di posisi yang sulit. Satu sisi dia membutuhkan teman, sesuai tahap perkembangan remaja awal yang mulai mengidentifikasikan dirinya selaras dengan lingkungan di sekitarnya. Di sisi lain orang-orang yang berada di dalam circle-nya membuat dia merasa tidak nyaman. "Aku takut, Ma. Aku takut belok," jelas Kimmy suatu hari. Kata "belok" yang dia maksud adalah memiliki orientasi ketertarikan seksual sejenis.

Sebenanya Kimmy sudah cukup mengerti tentang organ reproduksi dan arti hubungan seksual dari usia 11 tahun. Tapi paparan hubungan seks yang berlebihan yang disajikan anime hentai, yaoi, dan yuri membuat dia stres.

Saya masih ingat bagaimana dia sangat penasaran dari mana asalnya adik bayi saat masih kelas 4 SD. Saat itu, saya hanya dengan menunjukkan bekas luka di perut saya akibat proses caesar, dia sudah merasa puas. "Oh, adik bayi berasal dari perut," begitu pikir dia. Namun saya putuskan memberi tahu gambaran utuh tentang hubungan seks dan fungsinya tak lama setelah itu, tepat saat saya melihat sendiri dia melempar sandal kepada kucing kami yang sedang kawin dan meneriaki, "Kucing jahat!"

Saya bersyukur, komunikasi saya dengan Kimmy berjalan dengan baik. Selalu ada sesi diskusi di antara kami setiap harinya tentang masalah apapun. Saya meyakinkan Kimmy bahwa apapun yang terjadi di luar, rumah adalah tempat paling aman dan nyaman untuk berkeluh kesah. Berbeda dengan Dino si yatim dan Dee yang sehari-hari hanya "diasuh" oleh pembantu. Mereka memiliki waktu yang terbatas untuk berinteraksi dengan orangtua atau walinya. Sehingga lebih mempercayakan keingintahuan tentang seks pada grup sebayanya daripada keluarganya sendiri.

Generasi Pandemi

Sebenarnya ada pola yang sama antara Kimmy dan kedua temannya, baik Dino maupun Dee. Ketiganya adalah generasi pandemi yang mengalami kemudahan dan kesulitan pada saat yang sama. Kemudahan akses informasi berkaitan dengan adanya pembelajaran full daring dari rumah. Kesulitannya adalah ketika informasi datang dengan sangat cepat, mudah dan cenderung membludak, anak-anak belum memiliki kesiapan untuk mencerna sendiri tentang mana informasi yang bermanfaat dan mana yang bersifat merusak.

Tahun lalu sebelum pandemi, orangtua masih bisa memiliki kendali penuh terhadap penggunaan gadget anak-anak mereka. Saya memberikan kebebasan mengakses internet melalui HP maupun laptop hanya pada hari Sabtu dan Minggu, khususnya untuk hiburan seperti game dan menonton anime. Sistem sekolah full day juga memberi keuntungan tersendiri. Sejak jam 6.30 pagi sampai 15.00 untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Dilanjutkan dari jam 15.00 sampai 17.30 untuk kegiatan ekstrakurikuler (ekskul).

Selama tinggal di sekolah, anak-anak telah disibukkan dengan tugas-tugas akademis, kegiatan ekskul, maupun organisasi. Aturan yang melarang siswa membawa HP ke sekolah membuat fokus anak-anak berpusat pada kegiatan-kegiatan kreatif baik di bidang akademis, olahraga, ataupun seni. Namun saat pandemi semua berubah 180 derajat. Anak-anak terpaksa hidup terkungkung di dalam rumah. Tak ada sosialisasi secara fisik.

Bermacam kegiatan yang mendukung semua jenis kecerdasan anak yang berwarna-warni telah lenyap. Semua kegiatan dan proses sosialisasi hanya terfokus di satu warna yaitu daring. Depresi remaja berupa rasa jenuh, kesepian, marah, stres, dan lelah menjadi pemicu semakin tingginya akses konten mesum oleh anak-anak, terutama yang tengah menjadi tren yaitu hentai.

Perubahan itu semestinya juga mengubah mindset orangtua atau wali dari penyerahan tanggung jawab mendidik kepada pihak lain (sekolah) kembali kepada "pemilik" aslinya yaitu orangtua. Kelekatan emosi atau bonding antara anak dan orangtua juga sangat berperan terhadap sikap keterbukaan anak-orangtua. Anak yang didengarkan dan diakui keberadaannya akan lebih mudah mengatasi depresi masa remaja.

Membiasakan untuk selalu berdiskusi, mengajak bicara anak dan (yang paling penting) mendengarkan pendapat anak akan lebih baik dimulai saat anak masih belia. Tetapi memulainya saat ini jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Alangkah baiknya orangtua merevisi pendapat bahwa membicarakan seks adalah hal yang tabu. Karena seks adalah hal alami yang pasti dialami oleh setiap orang. Mengajak anak remaja untuk berdiskusi tentang seks juga perlu memperhatikan tips dan trik tertentu. Tak ada salahnya orangtua mengerti tren yang sedang terjadi belakangan ini, yang mudah didapat dari berbagai sosial media. Saya pun mengikuti hampir semua fans page anime yang sedang digandrungi anak remaja sekarang.

Kurang kerjaan? Mungkin. Tapi saya lebih suka jika anak saya menjadikan saya menjadi sumber referensi pengetahuan tentang seks, daripada dia mencari dan menghidupkan imajinasinya sendiri. Lebih pilih mana, anak-anak "berguru" kepada kita atau menjadikan hentai sebagai "guru"-nya?
Rina Purwaningsih seorang ibu

(mmu/mmu)