Kolom

Keuntungan Menjadi "Kpopers"

Salsabila Audrey - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 11:32 WIB
11 Comeback dan Debut Idola K-Pop Maret 2021
Idola K-pop (Foto: dok. istimewa)
Jakarta -

Korean Wave adalah istilah untuk penyebaran budaya populer Korea melalui produk-produk hiburan dan budayanya seperti drama, musik, gaya hidup, make up, gaya berbicara, bahasa bahkan hingga ke makanan serta minumannya. Namun, banyak orang yang tidak menyukai Kpopers. Banyak yang beranggapan bahwa Kpopers ini hanyalah fans yang 'alay' dan 'lebay'. Tak sedikit pula yang berpendapat bahwa menjadi Kpopers hanyalah membuang-buang waktu saja. Padahal, banyak sekali manfaat yang belum banyak orang ketahui, yang bisa kita dapatkan dengan menjadi Kpopers.

Manfaat pertama yaitu dapat memperluas area pertemanan. Yayasan yang berkontribusi dengan pemerintah Korea mencatat, ada 1.843 klub penggemar di 113 negara di dunia. Penggemar klub hallyu global totalnya berjumlah 89,19 juta. Angka itu naik sekitar 22 persen dari tahun 2017. Asia dan Oceania adalah negara berbasis paling banyak penggemar, karena Korea Selatan sendiri berasal dari Benua Asia. Wilayah ini memiliki 457 klub penggemar yang berisi 70,59 juta orang di dalamnya.

Bahkan, Amerika Selatan dan Utara pun ternyata juga banyak, ada 11,8 juta orang dari 712 klub. Di Eropa ada 534 klub penggemar yang berisikan 6,57 juta orang. Sementara di Afrika dan Timur Tengah ada 140 klub penggemar yang berisi sekitar 230.000 orang. Sepanjang 2016 sampai dengan 2017, mengutip Yonhap, ada pertumbuhan penggemar hallyu sampai 14 juta orang.

Dengan perhitungan itu, Yayasan yang melakukan penelitian tersebut memprediksi bahwa penggemar hallyu bisa mencapai 100 juta orang pada tahun 2020 (Afrisia, 2019). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan terus berkembang dan banyaknya klub penggemar dari berbagai belahan dunia, bisa menjadi kesempatan kita untuk mengenal dan berteman dengan orang banyak. Dan tentunya tidak hanya dari negara Indonesia saja, bahkan dari seluruh penjuru dunia.

Manfaat kedua adalah kita menjadi tertarik untuk mempelajari bahasa asing, khususnya dalam hal ini adalah bahasa Korea. Sebuah laporan Modern Language Association menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Korea di berbagai universitas di AS naik hampir 14 persen antara tahun 2013 dan 2016, sementara pengajaran bahasa-bahasa lain mengalami penurunan.

Data terbaru menunjukkan, sebanyak 14.000 mahasiswa mempelajari bahasa Korea di AS, dibandingkan dengan 163 orang pada dua dekade sebelumnya. Situs internet pelajaran bahasa Duolingo, misalnya, meluncurkan kursus bahasa Korea tahun 2017 karena peningkatan permintaan dan lebih dari 200.000 orang langsung menyatakan keterkaitannya. Bahkan peningkatan permintaan belajar bahasa Korea ini juga terjadi di universitas, salah satunya di University of Toronto, Kanada.

Profesor Andre Schmid menyatakan, ketika pada tahun 2008 universitas mengenalkan kelas bahasa Korea, muridnya hanya berjumlah 30 orang, namun tahun 2018 mengalami peningkatan bahkan sebesar 5 kali lipat yaitu 150 murid dan antreannya jauh lebih penting (Pickles, 2018). Data tersebut menunjukkan banyaknya ketertarikan masyarakat pada bahasa Korea.

Dengan tertarik mempelajari bahasa tersebut, kita akan mudah untuk mempelajarinya. Dengan demikian, kita dapat menambah ilmu dan wawasan kita tentang Korea, khususnya dalam hal bahasa. Sehingga nantinya saat kita berkunjung ke Korea Selatan, entah itu untuk bekerja atau sekadar berlibur kita sudah punya bekal pengetahuan terpenting yaitu bahasa.

Manfaat selanjutnya adalah menambah pengetahuan tentang budaya dari negara lain, khususnya budaya Korea. Di dalam sebuah film atau drama pasti terdapat adegan-adegan yang menunjukkan aktivitas tentang kebiasaan atau budaya pada suatu negara. Semisal saat makan, saat bertemu orang, cara berpakaian, cara merias diri, dan masih banyak lagi. Sehingga ketika kita menonton film atau drama tersebut, khususnya dalam hal ini film dan drama Korea, kita menjadi tahu apa saja budaya-budaya yang ada di Korea. Bahkan kita bisa meningkatkan ketertarikan kita terhadap negara Korea Selatan.

Dengan mengetahui budaya lain, kita bahkan bisa memadukan budaya lain dan budaya kita sendiri itu menjadi suatu perpaduan atau akulturasi budaya yang baik dan menarik, sehingga budaya kita yang masih belum terekspos akan bisa dikenal dan diangkat ke publik lokal maupun mancanegara. Sehingga selain menguntungkan untuk kita sendiri, menguntungkan juga untuk negara kita. Bahkan kita bisa menjadi pengembang budaya kita di mata dunia.

Kita pun juga bisa termotivasi untuk belajar menabung. Karena pastinya seseorang yang menyukai sesuatu pasti akan melakukan segala hal untuk bisa mencapainya. Contoh seorang Kpopers, yang mengidolakan grup musik Korea. Ia pasti menginginkan barang-barang yang berkaitan dengan idolanya. Semisal lightstick, merchandise, tiket konser, dan lain-lain. Saya termasuk Kpopers yang sedang melakukan itu --menabung untuk bisa membeli tiket konser dan lightstick grup musik Korea idola saya.

Selain musik, orang-orang pecinta drama misalnya, dengan melihat tempat-tempat yang ada di dalam drama, biasanya mereka ingin berkunjung langsung ke sana. Contoh tempat popular di Korea Selatan yang ada di drama adalah Namsan Tower, Sungai Han, Itaewon, dan lain-lain. Dengan mempunyai keinginan berlibur ke Korea Selatan inilah mereka mulai bertekad dan berprinsip bahwa ia harus bekerja keras dan menabung untuk bisa pergi ke tempat yang diimpikannya tersebut.

Di Indonesia sendiri pun fenomena Korean Wave membuat minat berlibur atau berkunjung ke Korea Selatan mengalami peningkatan. Rasa minat ini didorong oleh keinginan para penonton dan penikmat drama Korea (DraKor) yang ingin mengunjungi langsung tempat-tempat yang ada di drama Korea tersebut.

Menurut data yang berasal dari Korea Tourism Organization (KTO), pada tahun 2008, jumlah pengunjung asal Indonesia yang berkunjung ke Korea Selatan tercatat sebanyak 80.000 dan semakin meningkat setiap tahunnya. Bahkan, pada tahun 2017, data tersebut sudah mencapai 230.000 pengunjung (Nusyirwan, 2018). Hal ini menunjukkan bahwa betapa besarnya antusiasme masyarakat Indonesia pada Korea Selatan, khususnya setelah masuknya Korean Wave ke Indonesia.

Sesuatu yang kita lakukan atau kita sukai pasti ada kekurangan dan kelebihan atau manfaatnya masing-masing. Namun, ketika kita tidak menyukai suatu hal, jangan hanya berpikir tentang keburukan dari hal tersebut. Dan jangan memandang semua orang yang melakukan hal yang kamu tidak sukai itu sama. Hal buruk bisa terjadi juga tergantung dari orang itu sendiri. Jika orang itu tidak bisa memanfaatkan sesuatu dengan baik, maka sesuatu itu akan menjadi bumerang buruk juga bagi kita. Pandangan orang lain pun juga akan ikut buruk.

Oleh karenanya, kita harus bisa memanfaatkan suatu hal dengan baik dan tidak berlebihan. Dalam hal ini adalah ketertarikan akan budaya Korea. Tak sedikit orang yang mengecap bahwa fans Korea adalah fans yang buruk dan merugikan. Namun, di balik itu semua mereka mungkin kurang mengetahui bahwa menjadi seorang fans Korea itu juga ada (banyak) manfaatnya. Seperti memperluas area pertemanan, menjadi tertarik untuk belajar bahasa asing, memperluas pengetahuan kita terhadap budaya asing, dan belajar untuk bisa menabung dan bekerja keras demi mewujudkan apa yang kita mau.

Salsabila Audrey Kpoper

(mmu/mmu)