Kolom Ramadhan

Kembali "Menjadi Manusia"

Alena Blawo - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 15:20 WIB
Silhoutte of muslim woman praying during fasting holy month of ramadan
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Menahan diri untuk tidak mengkonsumsi milik sendiri sesungguhnya mengandung arti bahwa kepemilikan manusia tidaklah hakiki. Selalu ada hak dan peran sesama manusia dalam segala pencapaiannya . Pun selalu ada kesempatan bagi Tuhan untuk mencabut dan mengambilnya. Karena itu, keangkuhan dan kesombongan atasnya adalah sebentuk pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan dan ciptaan-Nya.

Ramadhan sepertinya hendak menggugah sambil mempertanyakan sejauh mana kemanusiaan kita dipandang penting dan penuh makna. Sebagai ritual tahunan, puasa acap hanya menyisakan mereka yang lapar dan dahaga. Atau mereka yang hanya menunaikannya sebagai sebentuk keyakinan tentang datangnya lipat ganda pahala, tanpa disertai perhitungan dan evaluasi tentang sejauh mana kualitas puasa memberi perubahan bagi kemanusiaan.

Melalui medium puasa, kita diberi pilihan antara kembali kepada eksistensi alamiah (pra-manusiawi) atau "mengembangkan diri" hingga mencapai tingkat "menjadi manusia". Hal itulah yang disinyalir dalam pernyataan Tuhan: Mereka bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS Al-A'raf: 179).

Kecenderungan akut pada perburuan jasmani tidak lebih seperti kelaziman kehidupan pra-manusiawi. Selain karena entitas kemanusiaan dipandang sebelah mata, manusia tidak lebih sebagai mangsa atas sesamanya (homo homini lupus). Mereka yang kuat akan muncul sebagai pemenang dalam rantai "makanan" hewani yang mendefinisikan relasi antarmanusia semata sebagai objek produksi dan komoditas. Tidak ada "cinta" dan "kasih sayang" yang melatarinya.

Relasi kemanusiaan yang tandus dan kering mengabaikan tujuan "menjadi manusia". Seperti yang disinggung oleh Erich Fromm (1955), kering dan tandusnya hubungan tersebut disebabkan ketiadaan "cinta" yang mampu menyatukan segala perbedaan dan kepentingan dalam sebuah rumusan "ke-kita-an".

"Menjadi manusia" berarti menjalin hubungan dengan sesama dan dunia. Sebuah hubungan yang dilandasi kesadaran bahwa manusia mengalami dunia sebagai realitas objektif, bukan subjektif yang hanya mampu dimaknai oleh kepentingan masing-masing individu.

Kemanusiaan dalam "ke-kita-an" pada dasarnya menegaskan tentang cara ber-"ada" manusia di dunia. Manusia yang tidak hanya berarti ada-dalam-dunia, tetapi sekaligus ada-bersama-dunia. Dengan kata lain, seperti ditegaskan oleh Martin Heidegger (1953), ada-dalam-dunia bermakna ada secara bersama. Dunia adalah tempat yang dimukimi bersama dengan orang-orang lain. Hubungan terajut atas dasar eksistensi sebagai manusia semata, bukan karena apa yang tersandang atau tersemat padanya.

Pemaknaan eksistensial (the meaning of life) tersebut menjadi penting untuk dipahami demi menghasilkan efek ritualitas yang berdampak pada kehidupan. Kewajiban berpuasa bukanlah sekadar pemenuhan rukun Islam sekaligus menegaskan jati diri sebagai seorang Muslim. Lebih dari itu, untuk menunjukkan bahwa praksis ajaran keagamaan yang ditunaikan secara individual akan dirasakan secara bersama-sama. Bahkan sebagai solusi atas persoalan yang mendera kehidupan kemanusiaan itu sendiri.

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga berlalu, suasana kebersamaan itu sedang berada dalam ujian. Setahun lebih aktivitas kemanusiaan kita cenderung tertahan. Kita pun masih diperhadapkan pada dunia yang sedang menahan diri dari segala kebiasaannya. Boleh jadi, kelaziman selama ini telah menodai nilai-nilai keseimbangan.

Kerumunan bukan ihwal yang terlarang. Mobilitas interaktif tanpa jarak bukanlah kebiasaan yang diharamkan. Memakai masker pun kiranya bukanlah pilihan di tengah anjuran untuk menyebar senyuman sebagai bagian dari sedekah untuk sesama. Bahkan mudik ke kampung halaman adalah perjalanan tradisional yang mampu menggairahkan relasi kemanusiaan, bertemu dengan sanak saudara dan handai taulan, bukanlah kebiasaan yang merugikan.

Tapi, boleh jadi kerumunan, mobilitas, dan kedekatan kemanusiaan kita selama ini bersifat semu. Terpupuk saat dilatari kesenangan, keuntungan, dan kepentingan. Senyuman yang merekah tidak lebih sebagai retorika dan hiasan wajah, sementara di baliknya tersirat sinisme dan kebencian yang akut. Suasana haru, canda, dan tawa di kampung halaman lebih diwarnai cerita tentang kesuksesan ketimbang narasi tentang kehidupan kampung yang membutuhkan uluran tangan.

Kesemuan inilah yang hendak ditepis melalui segala aktivitas kebajikan di bulan Ramadhan. Upaya mengekang kelaziman jasmaniah dengan menggelorakan aktivitas ruhaniah adalah salah satu cara memaknai eksistensi kemanusiaan. Manusia membutuhkan oase yang dipenuhi ladang spiritual agar kesadaran tentang "diri" dan sesamanya lahir dari ruang yang dirimbuni sebentuk pengabdian. Bukan semata atas dasar kepentingan apalagi keuntungan material.

Hakikat pengabdian itulah yang terwujud dalam relasi manusia dengan Tuhannya. Semakin erat hubungan itu, semakin manusia merasakan kedekatan dengan sesamanya. Pada saat yang sama, manusia merasa terlibat dalam dunia dengan segala persoalan yang melingkupinya. Dengan demikian, puasa akan melahirkan manusia-manusia baru yang tidak lagi direduksi oleh kepentingan jasmaniah, tapi juga juga spirit ruhaniah yang mengantarkannya menjadi "manusia" seutuhnya.

Muhammad Adlan Nawawi pengajar Pascasarjana PTIQ Jakarta

(mmu/mmu)