Kolom Ramadhan

Makna Puasa Seorang Pecinta

Luluk Choiriyah - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 16:24 WIB
Saat bulan Ramadhan, seorang muslim  yang melakukan ibadah akan mendapatkan pahala berlipat ganda. Salah satunya dengan membaca kitab suci Al Quran.
Memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan untuk mengharap rida Tuhan (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Saya suka membaca kisah para sufi, baik sufi dari luar seperti Jalaluddin Rumi, Rabi'ah Al Adawiyah, maupun sufi dalam negri seperti Sunan Kalijaga dan Syeh Siti Jenar. Kisah-kisah mereka menginspirasi perenungan saya akan keilahian.

Bagi saya, pendapat mereka menarik justru karena perbedaan sudut pandang dengan apa yang selama ini berlaku di masyarakat umum. Kenapa pendapat mereka berbeda? Apa yang membuat pandangan mereka berbeda? Itulah pertanyaan yang sering mampir di kepala saya.

Karena tak terlalu sibuk, Ramadhan memberi saya lebih banyak waktu untuk merenungi kisah dan quote para sufi itu. Kali ini saya merenungi makna puasa di mata Rabi'ah Al Adawiyah. Bersama Jalaluddin Rumi, Rabi'ah Al Adawiyah adalah peletak mazhab cinta, mazhab yang tak banyak dikenal karena biasanya kita hanya mengenal empat mazhab.

Rabi'ah Al Adawiyah adalah sufi wanita yang melegenda karena keikhlasan ibadahnya. Dia berpendapat, selama ini orang-orang beribadah karena keinginan meraih surga dan menghindari neraka saja, bukan karena Allah semata. Itu sebabnya dia pernah berkata, "Aku ingin membakar surga dengan api dan menyiram api neraka dengan air, agar orang-orang tidak mengharapkan surga dan menakutkan neraka dalam ibadahnya."

Syairnya yang terkenal adalah:

Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi, karena cintaku pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku

Bagi Rabi'ah Al Adawiyah, tujuannya beribadah bukanlah untuk meraih surga dan menghindari neraka. Dia beribadah hanya untuk Allah semata, karena cintanya kepada Allah begitu besar sehingga dia ikhlas menyerahkan seluruh ibadahnya untuk Allah semata.

Ramadhan dikenal sebagai bulan ketika pintu surga dibuka dan pahala ibadah ditingkatkan berkali-lipat. Ramadhan juga dikenal sebagai bulan ketika setan dibelenggu dan pintu neraka ditutup agar tidak mengganggu manusia selama beribadah. Hal ini tentu saja membuat orang berlomba-lomba melakukan ibadah karena meyakini amalan di bulan Ramadhan akan mengantarkan kita ke surga dan menghindarkan kita dari api neraka, terutama amalan di sepuluh hari terakhir.

Menjadi menarik ketika Rabi'ah Al Adawiyah malah seperti ingin menghancurkan janji akan surga dan ketakutan pada neraka. Lantas apa makna Ramadhan bagi Rabi'ah Al Adawiyah kalau dia tidak mengharapkan surga dan menghindari neraka seperti yang didengungkan selama ini?

Kekurangan

Apa sih yang membuat kita berharap? Karena kita merasa kekurangan. Kita miskin akan hal yang kita harapkan. Kita berharap harta karena merasa kekurangan harta, miskin harta. Kita berharap cinta dari orang lain karena kita merasa diri kita kekurangan cinta. Kita berharap perhatian dari orang lain karena kita merasa diri kita kekurangan perhatian. Kita berharap kebahagiaan surga karena kita tidak merasa hidup di surga saat ini.

Coba kita renungkan. Jika kita sekarang sudah diberi harta berlimpah, kehidupan keluarga yang tenang, anak-anak yang baik, masihkah kita berharap kebahagiaan surga? Tentu saja kita akan menjawab iya. Kenapa begitu? Karena kita merasa semua itu belum cukup. Ketika tidak ada rasa berkecukupan, kita akan selalu merasa kurang.

Sebanyak apapun yang sudah kita miliki sekarang, kita akan selalu kekurangan. Ini artinya kita tidak merasa benar-benar bahagia saat ini. Kita masih mengharapkan kebahagiaan ultimate, kebahagiaan yang lebih tinggi lagi. Kita berharap ada kehidupan yang tak mengenal penderitaan (neraka) dan hanya berisi kebahagiaan saja seperti di surga. Kalau kita berpikir seperti itu, di mana makna ikhlas sebenarnya?

Saya malah merasa kita tidak ikhlas dengan kehidupan yang dihadirkan Allah sekarang. Kita tidak rida pada takdir yang diberikan Allah kepada kita. Kita tidak bisa benar-benar bersyukur atas semua ketentuan Allah.

Semua ketidakikhlasan itu membuat kita masih menginginkan kehidupan yang jauh lebih membahagiakan lagi. Ketidakikhlasan itu juga membuat kita ingin melarikan diri dari neraka yang sangat kejam. Itulah sebab kita beribadah selama ini --menginginkan kebahagiaan surga dan melarikan diri dari ketakutan akan neraka.

Bahagia saat ini artinya kita tidak mengharap lagi sesuatu yang lebih membahagiakan. Bahagia saat ini artinya kita juga tidak menghindari sesuatu yang menjadi sebab kita tidak bahagia. Ikhlas adalah ketika kita bisa bahagia saat ini, apapun yang terjadi pada hidup kita.

Di dalam rasa ikhlas itu, ada rasa cukup. Kita telah merasa terpenuhi sepenuhnya. Kita tidak butuh apa-apa lagi karena semua sudah terpenuhi sehingga kita tidak berharap apa-apa lagi. Bahkan kita tidak berharap surga karena kita sudah menikmati surga sekarang.

Seorang Pecinta

Membaca kalimat yang diucapkan Rabi'ah Al Adawiyah di atas, saya bisa menyimpulkan ada keikhlasan yang dalam pada diri Sang Sufi kharismatik tersebut. Dia ikhlas pada apapun yang diberikan Allah. Apapun! Dia tidak lebih memilih surga daripada neraka. Dia tidak peduli pada kebahagiaan atau ketidakbahagiaan karena dia benar-benar bahagia dalam keikhlasannya. Hal ini membuat saya mempertanyakan satu hal lagi, yaitu rida.

Rida berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, rida adalah menerima semua kejadian yang menimpa dirinya dengan lapang dada, menghadapinya dengan tabah, tidak merasa kesal dan tidak berputus asa rida berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam. Yaitu, rida Allah kepada hamba-Nya dan rida hamba kepada Allah.

Ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya, "Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya." (QS 98: 8).

Ada dua rida, yaitu rida Allah kepada hamba-Nya dan rida hamba kepada Allah. Selama ini kita diajari untuk selalu mengharap rida Allah. "Apapun yang kita lakukan, lakukanlah untuk mendapat rida Allah," kata seorang ustadz dalam sebuah ceramahnya.

Tetapi Rabi'ah Al Adawiyah justru mengajarkan hal lain. Seorang sufi, karena cintanya kepada Allah, sudah yakin bahwa Allah pasti rida kepadanya. Allah adalah sang maha pemilik segala sesuatu, termasuk rida. Tidak mungkin Allah yang maha pengasih dan penyayang tidak rida kepada manusia.

Karena Allah sudah rida, maka yang belum bisa rida adalah diri kita sendiri. Manusialah yang perlu belajar rida pada apapun yang diberikan Allah dan ikhlas menjalani semuanya, tidak peduli apakah itu kebahagiaan atau ketidakbahagiaan, surga atau neraka.

Bagaimana rida kita kepada Allah itu?

Kalau mengacu pada Rabi'ah Al Adawiyah, maka rida kita kepada Allah adalah kita rida pada surga dan nerakanya Allah. Kalau Allah memberi kita surga, kita rida. Kalau Allah memberi neraka, kita juga rida. Kita rida pada apapun yang diberikan Allah.

Maka makna puasa seorang sufi tidak lagi mengharap rida Allah pada ibadahnya, melainkan menjadi latihan baginya untuk rida kepada Allah. Puasa adalah latihan bagi kita untuk bisa ikhlas pada semua ketetapan Allah, latihan untuk mengikhlaskan pahala, hukuman, surga dan neraka Allah, agar kita bisa melihat wajah Allah yang abadi, seperti kata Rabi'ah.

Ramadhan kali ini bisa menjadi starting point untuk mulai mengizinkan diri kita berlatih puasa seperti puasanya para sufi, para pecinta Allah. Semoga.

(mmu/mmu)