Kolom

"Jalan Menulis" Kartini

Wahyu Kuncoro - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 14:32 WIB
Film Kartini garapan sutradara Hanung Bramantyo
Sosok Kartini dalam film (Foto: Legacy Pictures)
Jakarta -

Dalam lagu Ibu Kita Kartini karangan WR Soepratman, Kartini disebut 'ibu'. Konsep 'ibu' adalah sebuah konsep kejiwaan yang matang, yang stabil. Padahal, Kartini menjadi ibu --jika pengertian ibu adalah orang yang sudah melahirkan-- pada usia 25 tahun. Atau, dia menjadi ibu ketika usianya 24 tahun --jika pengertian ibu adalah perempuan yang sudah menikah.

Kartini pada masa itu justru menunjukkan ciri khas seorang remaja yang melawan serta memberontak. Dia bukan sebagai seorang ibu yang matang dan stabil. Namun, Orde Baru menampilkan sosok Kartini yang berbeda, sesuai selera politik yang diagendakan.

Sebagai negara yang sedang membangun, Indonesia butuh keharmonisan. Keberhasilan laki-laki yang bekerja untuk menghidupi keluarga harus didampingi istri yang bisa mengelola kebutuhan rumah tangga. Istri yang bisa mengelola rumah tangga adalah perempuan yang matang. Dia sebagai ibu yang stabil.

Pak Harto menjadi leader dari pembangunan bangsa ini yang didampingi oleh seorang perempuan yang stabil, Ibu Tien, sebagai penjaga keharmonisan bagi bangsa yang sedang membangun. Demikian juga perempuan Indonesia juga harus ambil bagian dalam pembangunan --di rumah tangganya-- sebagai istri-istri yang mampu menjaga keharmonisan agar pembangunan ekonomi rumah tangga berjalan lancar.

Singkatnya, ibu-ibu di Indonesia diharapkan perlu meneladani Bu Tien. Mungkin itu pesan Orde Baru. Bu Tien menjadi simbol perempuan stabil, matang, dan mampu menjaga keharmonisan rumah tangga. Maka, rasanya masih kurang kalau hanya Pak Harto yang mendapat gelar sebagai Bapak Pembangunan.

Jika Orde Baru masih melanjutkan kekuasaannya, Bu Tien mungkin bisa mendapat gelar Ibu Penjaga Keharmonisan atau Ibu Stabilitas Nasional. Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang digagas oleh Bu Tien tak lain sebagai monumen yang bercita rasa keharmonisan dari kebhinekaan Indonesia.

***

Menurut Pramoedya Ananta Toer, era Kartini merupakan permulaan dari babak baru dalam sejarah Indonesia. Kartini sangat mendambakan dunia Eropa --bukan hanya Holland-- yang dia kenal dari buku-buku yang dia baca dan dari korespondensinya dengan sahabat-sahabatnya. Dari situ pula dia mengenal demokrasi. Itu yang membuat dia kagum dengan lingkungan di luarnya, Eropa, yang menilai kemanusiaan bukan atas dasar 'darah' ningrat, tetapi karena tata tertib yang egaliter.

Di dunia Barat, setiap anak mempunyai hak yang sama dengan anak lainnya. Hal ini tidak mungkin terjadi di lingkungan Jawa yang masih mewarisi sistem kasta. Justru di sini tampak bahwa menjadi 'putri' bukanlah sesuatu yang dia impikan. Dia lebih mendambakan dunia egaliter yang menjadikan perempuan sama haknya di hadapan laki-laki. Syair 'puteri sejati' dalam lagu Ibu Kita Kartini justru memotret Kartini yang ningrat, lemah lembut, dan tidak melawan.

Dalam surat-suratnya yang ditulis untuk sahabat-sahabatnya di Eropa, Kartini tidak berbicara datar. Bahkan, di saat tertentu, dia cukup lantang menyuarakan ketidakadilan yang ditimbulkan oleh sistem penjajahan di Hinddia-Belanda. Suara Kartini seperti guruh saat membela kemiskinan rakyatnya dan seperti badai saat berkomentar pada ketidakrasionalan sistem feodal yang mengelilinginya.

Dia membaca Max Havelaar. Kutipan dari Max Havelaar yang dia sukai dan sangat mempengaruhi hidupnya, "Tugas manusia adalah menjadi manusia," memberi energi besar untuk membela kaumnya.

Suara Kartini, rupanya, merupakan suara yang ingin merekonstruksi kepatutan yang dimiliki seorang perempuan: tunduk oleh kekuasaan laki-laki dan mengurusi wilayah domestik. Suara lantangnya tak lazim bagi seorang perempuan yang begitu jujur melihat dunianya di penghujung dan awal abad ke-19 itu. Namun, akhirnya suaranya tetaplah menjadi suara dari kaum yang mesti tunduk pada tata tertib feodal. Tapi, dia telah mengawali.

Dari sepenggal suratnya kepada Nyonya Ovink-Soer, kita tahu, dia adalah wanita yang berjuang dalam kesunyian di belantara dominasi kekuasaan patriarkal. Kami akan goncangkan dia (baca: budaya feodal), Bunda, dengan seluruh kekuatan kami, sekalipun hanya sebuah batu saja yang runtuh dan dengan demikian kami tak bakal menganggap hidup kami sia-sia.

Kartini, yang dibesarkan dalam tata cara bangsawan Jawa, menjadi simbol sebuah gagasan tentang emansipasi sekaligus sebuah gerakan melawan dominasi kaum pria. "Panggil aku Kartini saja," katanya dalam salah satu surat yang dikirim kepada Nyonya Abendanon --yang kemudian dipakai oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai judul novelnya-- menunjukkan perlawanannya yang paling berani terhadap budaya patriarkal di lingkungannya.

Dia ingin melepaskan gelar kebangsawanannya yang dia anggap menjadikan dirinya terkungkung oleh kekuasaan yang tidak logis, yang membawanya untuk menerima tradisi 'pingitan' (dilarang keluar rumah dalam periode tertentu). Dia juga mempertanyakan tata cara feodal yang menaruh kehormatan manusia atas dasar kebangsawanan seseorang.

Begitulah Pramoedya Ananta Toer melihat Kartini berdasarlan risetnya atas tak kurang dari 80 dokumen Kartini (atau tentangnya). Berbeda dari kesan yang disampaikan WR Soepratman dalam syair lagunya yang menggambarkan Kartini puteri yang baik (mulia, dan harum namanya), Pram melihatnya sebagai sosok yang kuat dan berani.

WR Soepratman rupanya menangkap kesan akan Kartini yang berbeda. Karenanya, syair untuk Kartini dibuat menjadi sebuah ode atau pujian yang jauh dari sikap perlawanan. Frasa 'pendekar kaumnya untuk merdeka' tidak mencerminkan sebuah perlawanan. Juga frasa 'sungguh besar cita-citanya' belum memberi elaborasi apa yang sesungguhnya dicita-citakan oleh Sang Puteri.

Sisi epik dari representasi Kartini yang kuat dan berani tidak kentara karena memang WR Soepratman sedang memuji Kartini. Di zaman ketika frasa 'pendekar kaumnya untuk merdeka' lebih kita kenal sebagai 'emansipasi', kita baru mengerti apa yang diperjuangkan oleh Kartini dari teks tersebut.

Ode untuk Kartini sepertinya menyisakan hal lain lagi: perjuangan yang sia-sia melawan dominasi laki-laki karena Kartini tetap bersedia dimadu. WR Supratman membuat lagu dalam tempo andante maestoso. Tempo ini agak lambat, tidak terlalu cepat, jadi agak mendayu-dayu.

Maka, suasana lagu ini memang bukan untuk menceritakan kisah epik seseorang, tapi lebih cocok mengiringi kisah murung: sebuah cita-cita yang tidak mudah dicapai. Bahkan, ironisnya, Kartini sendiri tidak punya kekuatan untuk melawan saat dinikahkan dengan seseorang yang sudah beristri. Dia menerima itu 'demi cintanya pada Ayah', seperti yang sering dia katakan.

***

Pram ingin melupakan itu. Pram memberi sudut pandang yang lain tentang perlawanan Kartini. Lanjut Pram, Kartini memiliki pengamatan kuat dengan menggunakan contoh-contoh di sekitarnya. Kartini kemudian mencarikan 'asasnya' atas peristiwa yang diamati.

Hal ini bagi Pram bukanlah sebuah hal yang dilakukan khas pribumi khususnya bagi kaum perempuan. Ketajaman berpikirnya diasah karena penderitaan yang dia alami atau saksikan di sekitarnya. "Guru filsafatnya tak lain daripada penderitaan bertahun," kata Pram.

Jalan menulis yang dilakukan Kartini adalah perlawanannya yang paling gagah untuk keluar dari belenggu yang dialaminya. Observasinya atas ketidakadilan tersebut dilengkapi dengan kepekaan dan keprihatinan yang ia rasakan. Menulis adalah cara Kartini memberitahu dunia tentang ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya.

Wahyu Kuncoro penulis buku cerita anak dan peminat sastra, tinggal di Gianyar, Bali

(mmu/mmu)