Kolom

Kartini, Gadis Modern

Mumu Aloha - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 11:05 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Saya tertegun di lobi itu. Aktivitas check in jadi terasa begitu syahdu saat saya tahu, berdasarkan informasi yang tertempel di dinding, bahwa lobi itu dulunya adalah stasiun kereta api Mayong, Jepara. "Bangunan" stasiun itu diboyong utuh, dan dijadikan "pintu masuk" kompleks MesaStila, sebuah resort mewah dan eksklusif berkonsep alam di lereng Gunung Andong, Losari, Kecamatan Grabag, Magelang.

Kala itu saya tengah menghadiri acara tahunan lari maraton yang diinisiasi oleh pemilik resort, Sandiaga Uno. Soal prosesi lari maratonnya sendiri yang unik, mengikuti jalur kuno kereta api wisata Ambarawa, kita bisa bercerita lain kali. Tapi, bangunan lobi itu, yang anggun dan nostalgis, terbuat dari kayu, mirip sebuah rumah mungil yang eksotik di tengah hutan, membuat saya mendadak menjadi melankolis, mengamatinya dengan detail, lalu saya keluar dan memotretnya berkali-kali.

Stasiun Mayong! Saya langsung teringat Kartini. Dulu Kartini pernah ada di sini, ketika bangunan ini masih berada di tempatnya. Saya bayangkan Kartini dengan kebaya dan kain batik duduk gelisah dan tak sabar menunggu kereta api yang akan membawanya ke Semarang untuk pelesiran, nonton pasar malam, bersenang-senang, sampai "lupa diri" dan hilang. Ya, hilang dalam arti harfiah: terpisah dari rombongannya, tersesat di keramaian.

Hari ini, tanggal 21 April, segera kita akan mendengar dan membaca ungkapan-ungkapan semacam "Kartini masa kini", Kartini milenial", "Kartini modern" di berbagai obrolan, di media massa, dan di media sosial. Istilah "Kartini modern" untuk merujuk perempuan-perempuan muda abad ini sungguh tidak tepat. Dulu, pada zamannya, Kartini sudah sangat modern, bahkan mungkin jauh lebih "maju" dari kebanyakan perempuan hari ini --tidak hanya dalam visi dan pemikiran, tapi juga dalam pergaulan.

Jika di era Twitter dan Instagram sekarang ngetren orang pamer traveling, maka Kartini adalah traveler pada zamannya. Dia jalan-jalan sampai ke Batavia, Priangan, Bogor. Dan, seperti kita tahu, cita-cita terbesarnya pergi ke Eropa. Dan, karena dia anak bupati, sering ikut blusukan ayahnya ke desa-desa. Kartini juga gemar pergi ke pantai, melamun, merenung, dan mandi di laut.

Jika kini anak-anak Jakarta keranjingan ke Bandung tiap weekend, atau orang Solo suka dolan ke Jogja naik KRL (dulu Pramex), maka dulu Kartini gaulnya ke Semarang. Kartini adalah bagian generasi pertama di Hindia yang merasakan kereta api yang diusahakan oleh pemerintah kolonial di Jawa pada 1900. Sebagai saksi munculnya alat transportasi modern, ia kalau naik kereta suka heboh sendiri. Anak zaman sekarang mungkin akan mengatainya "norak". Dia tidak mau turun, dan berharap keretanya jangan cepat sampai ke tujuan.

Kartini hidup sezaman dengan Mas Marco Kartodikromo, wartawan pertama di Hindia, penulis novel yang menerbitkan jurnal juga. Bayangkan, betapa modern kala itu! Dan, seperti yang digambarkan Mas Marco di novelnya Student Hidjo, putri-putri priyayi zaman itu memang sudah mengenal pelesiran ke luar kota, menikmati suasana hingga "blanja-blanja".

***

Pergi ke Eropa! Itulah cita-cita Kartini yang menggebu. Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, sahabat penanya, seorang feminis muda di negeri Belanda, Kartini bahkan pernah guyon: ah, seandainya tubuhku bisa mengecil dan masuk ke amplop bersama suratku ini....

Tentu saja, Kartini tak pernah bisa mengecil, dan keinginannya untuk melihat "negeri penjajah" yang telah memberinya inspirasi tentang kemajuan dan perubahan itu tak pernah terwujud sampai akhir hayatnya. Ia mati muda, setelah melahirkan anaknya dari pernikahannya yang muram.

Kartini amatlah sinis terhadap pernikahan, kalau tak bisa dibilang "anti". Namun, perlawanannya akhirnya kalah oleh adat; ada masa ketika ia akhirnya tak bisa menolak untuk dipingit. Lalu, lebih rumit lagi, atas nama rasa hormat dan cintanya pada sang ayah, ia pun menyerah ketika dinikahkan dengan seorang bupati. Itulah salah satu kelemahan terbesar Kartini: kepatuhannya pada sang ayah.

Memangnya apa yang salah dengan kepatuhan pada orangtua? Tentu saja tidak ada, dan justru merupakan semacam kewajiban. Tapi, pada Kartini, yang bisa melawan hampir apa saja, kepatuhan itu telah menghancurkannya. Karena tak mau menyakiti hati sang ayah yang begitu dicintainya melebihi apapun, ia pun "rela" dijodohkan dengan seorang bupati yang telah beristri, dan itu seperti melawan prinsip-prinsip perjuangannya sendiri pada kesetaraan dan kemandirian.

Kartini yang bergelora, selalu marah, dan keras pada tata nilai feodalisme Jawa, dan begitu terobsesi pada kebebasan dan kemodernan ala Eropa, akhirnya "menyerah" atas nama bakti pada orangtua. Putri Jawa yang malang, mati muda, yang kemudian dimitoskan oleh generasi berikutnya menjadi sosok super-raksasa yang abadi. Itulah ironi dan tragedi Kartini: pernikahannya, kematiannya, dan pemitosannya.

Bangsanya yang besar ini, yang tak pernah belajar sejarah ini, telah "membunuh" Kartini setelah kematiannya: menjadikannya semata-mata simbol yang dimitoskan. Novelis Okky Madasari, yang mengangkat isu-isu kesetaraan dalam karya-karyanya, hari ini mengingatkan kembali dengan sangat tepat: Kartini tak selayaknya diperlakukan sebagai mitos. Merayakan Kartini adalah merayakan pikiran-pikirannya, membaca dan mengkaji ulang tulisan-tulisannya, menggunakannya untuk memahami permasalahan hari ini.

Ya, Kartini telah melakukan apa yang perlu dilakukan oleh seorang intelektual yang lahir dari pergolakan zamannya. Kartini menulis di jurnal dan majalah berbahasa Belanda, dan dengan penuh semangat membahas buku-buku yang dibacanya dalam surat-suratnya, terutama kepada Stella. Selain mengusahakan pendidikan untuk anak-anak perempuan, ia juga menghimpun para pengrajin kecil, dan mendampingi mereka tampil dalam pameran di luar kota. Seni ukir kayu Jepara yang masih eksis hingga hari ini tak lain berkat upaya yang pernah dilakukan Kartini.

Kartini yang kerap mendampingi ayahnya "turba", selalu tersentuh dengan kehidupan rakyat kebanyakan yang menderita oleh ketidakadilan pemerintahan kolonial, serta kekejaman para priyayi pribumi yang berkuasa. Kartini dengan marah pernah mengecam status kebangsawanan, yang sebenarnya juga disandangnya sendiri. Tak pelak lagi, Kartini adalah kaum berprivilese pada eranya, tapi ia tidak elitis.

***

Tentu penting bagi kita untuk memperhatikan konteks politik pada saat itu untuk memahami arti penting "perjuangan" Kartini. Kartini menulis --surat, artikel, jurnal-- pada saat terjadi perubahan yang cepat dan saat berlangsung perdebatan seru tentang agenda reformasi kolonial. Sebuah "zaman baru" yang kemudian kita kenal sebagai masa lahirnya "politik balas budi".

Kartini, seperti terbaca dari surat-suratnya, secara terang-terangan memanfaatkan suasana dalam menanggapi perdebatan saat itu mengenai kebijakan kolonial. Dari surat-suratnya jelas bahwa perhatian Kartini tidak hanya tertuju pada "isu-isu perempuan" saja, tetapi lebih dari itu, dia juga bereaksi atas kondisi-kondisi kolonial. Meskipun, perjuangan nasionalisme Kartini kala itu memang masih Jawa-sentris.

Joos Cote dalam pengantarnya untuk edisi bahasa Inggris buku Aku Mau: Feminisme dan Nasionalisme (Surat-Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903) yang dihimpun oleh Monash Asia Institute, Monash University merangkum aspek-aspek dasar "pemikiran" nasionalisme Kartini yang tersuarakan lewat surat-suratnya. Antara lain; pertama, sikap penolakan pada kebangsawanan Jawa atau Budaya Kraton. Kedua, penolakanya pada kolonialisme. Ketiga, usahanya untuk memperoleh akses pembelajaran dan teknologi bagi rakyat (Jawa) baik laki-laki maupun perempuan.

Aspek-aspek itu kiranya jelas menggambarkan kepekaan, kepedulian, serta visi intelektual Kartini yang menurut saya masih tetap relevan untuk digemakan hari ini, dan menjadi inspirasi bagi kaum terpelajar kita, orang-orang modern masa kini. Itulah warisan Kartini yang terus-menerus perlu dibaca kembali dan dirayakan, terutama jika kita memang benar-benar ingin memperjuangkan "visi kerakyatan" di tengah situasi politik yang dari hari ke hari makin terasa lebih berpihak pada kekuatan-kekuatan modal, oligarki, kapitalisme, dan berbagai ketimpangan oleh kuasa-kuasa lain yang tak kasat mata.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

Tonton juga Video: Melihat Monumen Ari-ari RA Kartini di Jepara

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)