Kolom

Kasus Shopee dan Masalah Usang Efisiensi

Djunita Permata Indah - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 12:16 WIB
Pemerintah akan mensubsidi ongkos kirim belanja online saat Harbolnas Ramadhan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mendorong daya beli masyarakat.
Para kurir
Jakarta -

Dunia maya diramaikan dengan kasus kurir Shopee yang mogok karena tarif upah per pengiriman turun dari Rp 2.000 menjadi Rp 1.500. Dalam tangkapan layar percakapan yang beredar, disebut penurunan bukan pertama kali terjadi. Walau telah ditegaskan oleh Executive Director Shopee Indonesia bahwa tidak ada aksi demonstrasi dan skema insentif telah mengikuti tarif yang berlaku di pasar, tagar "ShopeeTindasKurir" makin jadi di Twitter.

Sebenarnya, kisruh serupa bukan hal baru di dunia e-commerce. Sebelum Shopee, ada Amazon. Cerita e-commerce dan marketplace terbesar di dunia itu sempat diulas oleh David W Hill (2020) dalam tulisannya yang berjudul The Injuries of Platform Logistic. David secara luas menyinggung perkara human cost, sebuah kerusakan atau kerugian yang ditimbulkan pada orang atau masyarakat. Termasuk di dalamnya kerugian materi, biaya sosial, kerusakan psikologis dan lainnya.

Efisiensi operasional merupakan resolusi yang diidam-idamkan seluruh pelaku bisnis dalam menjalankan usaha. Tidak terkecuali oleh e-commerce dan marketplace secara khusus, dan start-up secara umum. Hal ini juga yang Shopee coba lakukan dan sebagian perusahaan start-up besar yang Anda kenal di Indonesia. Dengan memangkas supply chain atau rantai nilai dari proses distribusi, mereka ingin memastikan bahwa tidak ada lagi rantai distribusi yang terlalu panjang dan tidak memberi nilai tambah (value added activity). Harapannya, jarak antara produsen dan konsumen makin pendek.

Apa konsekuensinya? Peningkatan permintaan eceran yang berasal dari kita, sebagai konsumen akhir, dan e-commerce/marketplace mulai merambah ke industri logistik. Mereka berusaha merampingkan perusahaan, meluaskan bidang bisnis, dan tentunya menekan biaya operasional, serta meningkatkan pendapatan perusahaan. Cara ini secara langsung memangkas proses distribusi, dan secara tidak langsung menyebabkan penyusutan karyawan.

Jurang Mitra

Penyusutan karyawan itu pun disiasati dengan pola rekrutmen baru, dari karyawan menjadi mitra --skema yang belakangan merebak di dunia start-up. Permainan diksi yang mengaburkan kewajiban perusahaan. Kehadiran mitra dirasa menjadi solusi bagi perusahaan rintisan. Mereka membutuhkan tenaga kerja untuk mendukung inovasi. Dalam kasus Shopee, mereka butuh kurir untuk perambahan industri logistik lewat Shopee Express.

Mitra dipandang jadi jawaban karena tidak mengikat dengan beban biaya per pekerjaan. Berbeda dengan sistem karyawan yang memunculkan biaya tenaga kerja tetap dan mengikat. Kemitraan menjadi solusi karena mengubah biaya tetap menjadi biaya variabel yang bersifat fleksibel. Artinya, perusahaan dengan mudah memangkas jika merasa beban yang dikeluarkan melebihi yang dianggarkan. Seperti yang Anda baca pada paragraf awal tulisan ini.

Pilihan Konsumen

Sebagaimana teori pasar, pada akhirnya konsumen menjadi sangat pemilih dan serba menuntut. Kebanyakan dari kita akan mulai protes ketika barang yang dipesan di e-commerce atau marketplace terlambat datang (terlebih jika barang tidak sesuai dengan gambar). Kekuasaan ini menjadi tuntutan berat bagi pelaku bisnis. Terdapat tekanan untuk bisa memenuhi indikator kinerja tersebut.

Mendapat ulasan maksimal yang ditandai dengan lima bintang adalah keharusan demi kepercayaan calon pelanggan. Sehingga kontrol ini memaksa diri dan menyebabkan mereka, para pekerja jalur distribusi, merasakan akibatnya: upah rendah, deskilling, intensifikasi pekerjaan yang monoton, dan semakin banyak beban pekerja lepas. Apa pun yang dapat menghambat proses bisnis harus mampu untuk diselesaikan, atau jika memungkinkan dihilangkan.

Masalah klasik lain yang menuntut perusahaan rintisan melakukan efisiensi operasional adalah membakar uang demi mengakuisisi pengguna baru dan mempertahankan pengguna lama. Dulu, promo gila-gilaan oleh e-commerce dan marketplace hanya ada pada tanggal 12 bulan 12. Namun, sekarang Shopee terus berpromosi hampir pada setiap tanggal cantik yang muncul setiap bulan. Mereka pun menggandeng artis K-Pop sebagai brand ambassador.

Upaya semacam itu dapat dikatakan berhasil, karena mendongkrak ketenaran Shopee. Dari urutan ketiga di Q4 - 2018, melesat ke posisi puncak pada Q4 - 2020. Shopee jadi e-commerce dengan pengunjung bulanan paling banyak, menyalip Tokopedia dan Bukalapak. Konsepnya sederhana: tak kenal maka tak sayang.

Sayangnya, pencapaian tersebut mengaburkan sejumlah hal, hingga muncul tagar "ShopeeTindasKurir". Kita terbiasa dengan masifnya iklan yang berjejalan di televisi hingga media sosial. Promo gratis ongkir, cash back, flash sale membuat bisnis ekonomi digital terlihat sangat berkilau. Sebagai konsumen, kita senang mendapatkan barang yang diinginkan dengan harga semurah mungkin. Namun hal ini mengaburkan bentuk "eksploitasi" terhadap orang-orang yang terlibat dalam rantai distribusi.

Dengan kata lain, ada yang tertindas dari paket yang sampai di depan pintu rumah kita. Di sisi lain, ada perusahaan yang berusaha mempertahankan bisnisnya pada masa persaingan yang tidak sehat. Sebagai konsumen, siapkah kita ikut mengupah kurir-kurir tersebut dengan layak?

Djunita Permata Indah dosen di Universitas Tanjungpura

Simak juga 'Saat Respons Shopee-Tokopedia soal Penjualan Invitation Clubhouse':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)