Kolom

Tak Sabar Sekolah Tatap Muka

Eri Hendro Kusuma - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 15:28 WIB
Suasana uji coba sekolah tatap muka di SMKN 1 Depok, Sleman, Senin (19/4/2021).
Suasana uji coba sekolah tatap muka di Depok, Jawa Barat (Foto: Jauh Hari Wawan S)
Jakarta -

"Pak, saya sudah menyerah jika anak saya sekolahnya dari rumah!" Keluhan dari salah satu orangtua tersebut saya terima ketika mendampingi wali kelas untuk membagikan laporan penilaian hasil belajar tengah semester ini. Salah satu orangtua siswa yang lain juga menyambung dengan pertanyaan, kapan pembelajaran tatap muka segera dilaksanakan? "Kan Pak Mendikbud sudah memperbolehkan pembelajaran tatap muka?"

Pertanyaan dari beberapa orangtua siswa tersebut sangatlah wajar, terlebih pada saat awal semester dulu, para oran tua siswa juga sudah menyerahkan surat pernyataan "setuju" pelaksanaan kegiatan pembelajaran tatap muka. Pemahaman orangtua siswa tentang diperbolehkannya pembelajaran tatap muka oleh Mendikbud juga tidak salah, karena memang begitu adanya. Meskipun demikian, agar para orangtua siswa tidak "gagal paham" terkait pernyataan Mendikbud tersebut, sekolah harus memberikan penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana prosedur dan mekanisme pembelajaran tatap muka yang dilakukan secara "terbatas".

Mendengar "curhatan" para orangtua siswa tersebut, dalam hati saya juga ingin menyampaikan hal yang sama, bahwa saya sebenarnya juga "mulai menyerah" dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti saat ini. Saya juga yakin bahwa guru di seluruh Indonesia merasakan hal yang sama, yaitu sangat "rindu" mendidik dengan metode tatap muka secara langsung di dalam kelas.

Apalagi, semakin hari pelaksanaan PJJ sangat tidak efektif. Para siswanya semakin banyak yang "menghilang". Jika dikonfirmasi oleh wali kelas, beragam alasan yang disampaikan. Tetapi alasan itu akhirnya terbantahkan dengan kehadiran orangtua di sekolah yang memberikan keterangan berbeda.

Orangtua siswa menyampaikan bahwa anaknya setiap hari mengikuti kegiatan pembelajaran dari rumah. Mereka menyampaikan bahwa setiap hari anaknya memakai seragam sekolah, membawa buku, dan gawai saat jam pembelajaran berlangsung. Meskipun demikian, data guru menunjukkan hal yang berbeda.

Semua menjadi jelas ketika di hadapan orangtua dan guru, siswa tersebut mengakui bahwa selama ini tidak mengikuti kegiatan pembelajaran secara daring, melainkan bermain game maupun menonton video di gawainya.

Kondisi seperti saat ini sebenarnya semua pihak saling memaklumi. Termasuk sekolah dan guru juga memberikan pemakluman terhadap kondisi siswa saat pelaksanaan PJJ ini. Sesuai dengan instruksi Mendikbud, sebenarnya sekolah dan guru juga tidak mengejar ketuntasan kompetensi yang hendak dicapai dalam tujuan pembelajaran.

Terpenting bagi guru adalah "ada" dokumen dari siswa yang dinilai. Meskipun demikian, banyak siswa yang tidak ada dokumen atau tugas yang dinilai sama sekali. Akhirnya pada saat mengisi nilai untuk laporan hasil belajar tengah semester pun kebingungan, kolom nilai itu dikosongi atau "ngaji" (ngarang biji/nilai).

Sebagai bentuk dorongan aktivitas belajar yang bermakna, untuk mengatasi permasalahan semacam itu sekolah memberikan kelonggaran dan dorongan pada siswa untuk kembali aktif pada kegiatan PJJ, serta memberikan toleransi untuk segera menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru sehingga ada dokumen yang dinilai.

Intinya sekolah menginginkan agar para siswa tersebut tetap "mau" dan semangat untuk terus melanjutkan sekolah meskipun dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

(Mengembalikan) Budaya Sekolah

Selain permasalahan akademik, para orangtua siswa juga mengeluhkan sikap dan penampilan anak-anaknya selama kegiatan PJJ. Mulai dari tidak bisa bangun pagi, malas mandi, rambutnya "gondrong", serta warna rambutnya yang dicat dengan warna yang bermacam-macam.

Menanggapi keluhan dari para orangtua tersebut, akhirnya sekolah berinisiatif untuk mengundang para siswa secara terbatas guna memberikan "sosialisasi" sambil sedikit "simulasi" tentang pelaksanaan pembelajaran tatap muka "terbatas" di sekolah.

Benar saja, selama kegiatan tersebut banyak sekali siswa yang datangnya terlambat dari jadwal yang ditentukan. Beberapa siswa datang ke sekolah tidak sempat mandi, rambut "acak-acakan", warna rambut yang sudah berwarna-warni, serta banyak perlengkapan seragam sekolah yang tidak dipakai karena hilang.

Berkaca dari permasalahan tersebut, tampaknya sebelum pemulihan dan penyelesaian masalah akademik siswa pasca-PJJ, "membudayakan" (kembali) sekolah pada diri siswa merupakan program utama yang harus dikerjakan ketika awal pelaksanaan pembelajaran tatap muka "terbatas" ke depan.

Satu tahun merupakan waktu yang sangat panjang untuk membentuk budaya baru yang berbeda dari sekolah, sehingga ke depan perlu kerja keras untuk mengembalikan budaya sekolah yang sudah mulai hilang pada pribadi para siswa tersebut. Tentu itu bukanlah hal yang mudah, mengingat waktu pembelajaran tatap muka di sekolah ke depan juga sangat terbatas.

Ketika saya berdiskusi dengan para siswa yang "bermasalah" tersebut, rata-rata mereka "malas" dengan pembelajaran dari rumah. Intinya mereka tidak bisa belajar dengan suasana rumah. Salah satu siswa dengan mata yang berkaca-kaca "curhat" pada saya, ingin segera melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah. Siswa tersebut juga mengatakan bahwa penampilannya akan berubah jika sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Eri Hendro Kusuma guru di Batu, Jawa Timur

(mmu/mmu)