Kolom

Ancaman Ledakan Pengangguran Lulusan SMK

Yudha Priyono - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 14:40 WIB
SMK Negeri 26 Jakarta mempersiapkan diri jelang rencana sekolah tatap muka. Seperti diketahui, Kemendikbud telah mengijinkan sekolah tatap tahun 2021 mendatang.
Persiapan sebuah SMK untuk kembali membuka sekolah tatap muka (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

SMK merupakan pilihan utama bagi masyarakat yang tidak mampu membiayai putra-putrinya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Setelah lulus, dalam usia muda, mereka sudah mempunyai ketrampilan yang cukup untuk masuk ke dalam industri. Selain itu, mereka juga bisa melanjutkan kuliah dan berwirausaha, jika belum ingin bekerja setelah lulus.

Namun survei BPS menyampaikan bahwa pada Februari 2020, prosentase pengangguran terbuka pendidikan tertinggi adalah dari lulusan SMK. Prosentase tersebut mencapai 8,49 persen. Beragam argumentasi dikemukakan para ahli tentang penyebab besarnya angka tersebut, yang kemudian di bantah oleh pejabat pejabat Kemendikbud.

Untuk meningkatkan kualitas SMK, Presiden Jokowi mencanangkan revitalisasi SMK. Program tersebut bertujuan agar pendidikan di SMK sesuai dengan kebutuhan industri. Sehingga dilaksanakan pembenahan di beberapa bidang terutama bidang kurikulum dan tenaga pengajar.

Belum lama program tersebut dilaksanakan, datanglah pandemi Covid-19 yang menghambat program tersebut. Salah satu program dari revitalisasi, kemampuan guru dalam mengajar sesuai jurusan, tidak dapat dilaksanakan secara maksimal karena pembelajaran jarak jauh (PJJ). Belum lagi program program sekolah yang mendukung kemampuan siswa seperti magang dan kunjungan industri untuk SMK belum boleh dilaksanakan karena sedang pandemi. Padahal, dua kegiatan tersebut sangat penting bagi kemampuan siswa siswa SMK.

Sebagai warga negara saya siap mentaati kebijakan pemerintah untuk melaksanakan PJJ. Bagaimanapun keselamatan adalah yang paling utama Di sisi lain, sebagai pengajar dan pendidik, saya sangat prihatin dengan kualitas lulusan yang dihasilkan. Apakah mereka dapat bersaing di dunia kerja setelah lulus?

Bagaimana siswa dapat berkembang kemampuannya jika hanya melihat video atau membaca diktat yang diberikan guru di aplikasi pembelajaran? Bagaimana siswa dapat belajar pengalaman kerja yang sesungguhnya jika mereka tidak melakukan magang kerja atau kunjungan industri?

Siswa ibaratnya belajar untuk berenang.tanpa praktik --mereka hanya memahami teori. Sebagai misal, seorang siswi Jurusan Teknik Busana, tidak cukup hanya dengan belajar teori tentang bagaimana cara menjahit, tetapi harus pegang mesin jahit dan kain dan praktik secara nyata.

Begitu juga dengan siswa Jurusan Teknik Otomotif dan Teknik Elektro. Misal mereka tidak cukup hanya membaca atau melihat teori tentang bongkar pasang mesin, bagaimana mengelas dan menyolder yang baik dan lainnya tanpa memegang alat praktik? Ketrampilan dan kecakapan diperoleh dengan langsung memegang alat.

Selain pelajaran praktik di sekolah, magang atau praktik kerja industri merupakan kegiatan wajib yang masuk dalam kurikulum. Magang wajib dilakukan peserta didik selama 3 sampai 6 bulan. Kegiatan ini akan memberi pelajaran pada siswa tentang lingkungan kerja yang sebenarnya. Tidak cuma mempraktikkan ketrampilan yang di dapat di sekolah, tetapi juga mendidik mental siswa dalam menghadapi lingkungan kerja yang keras.

Pengalaman selama Praktik Kerja Industri (Prakerin) memberi bekal siswa dalam meniti karier di dunia industri. Mereka akan lebih mudah beradaptasi. Prakerin membentuk sikap disiplin, tertib, ulet, sabar dan sikap sikap positif lainnya. Siswa akan memiliki etos kerja yang tinggi yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap karier mereka di industri.

Selain program Prakerin, siswa SMK umumnya mengikuti Kunjungan Industri sesuai jurusan masing masing. Kegiatan tersebut akan memperluas wawasan siswa tentang industri dalam skala besar. Siswa akan melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan barang dari awal sampai akhir. Selain itu, siswa juga akan melihat secara langsung penerapan kedisiplinan dan ketertiban kerja, pemasaran dan lainnya.

Kunjungan industri akan memotivasi semangat siswa untuk belajar dengan giat supaya dapat diterima di perusahaan yang dikunjunginya. Siswa juga tidak akan gagap lagi jika setelah lulus diterima di perusahaan besar. Adaptasi akan lebih mudah dilakukan.

Namun, pandemi Covid-19 membuyarkan hal tersebut. Jangankan melaksanakan Program Prakerin dan Kunjungan Industri, pembelajaran rutin sehari hari saja belum tentu diikuti siswa. Saya membayangkan bagaimana mereka harus bersaing di dunia kerja tanpa bekal kemampuan yang memadai. Dengan alasan pandemi, saya yakin sekolah sekolah terutama pengajar juga akan banyak memberikan keringanan keringanan dalam hal penilaian kepada siswa. Masalah bagaimana kemampuan siswa setelah lulus, biarlah menjadi seleksi alam saja.

Jika siswa SMK semenjak masuk sampai lulus harus menjalani PJJ, ini menjadi masalah yang serius. Prosentase pengangguran SMK akan semakin meningkat karena terbentur dengan seleksi kerja yang ketat. Ketika kemudian mereka masuk kerja, mental etos kerja mereka belum terbentuk sehingga sulit untuk segera beradaptasi dengan lingkungan kerja.

Yudha Priyono guru SMK Negeri 1 Warungasem, Batang

(mmu/mmu)