Kolom

Aksi Krusial Menghadapi Perubahan Iklim

Ica Wulansari - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 11:50 WIB
Para peserta aksi Asia Climate Rally berjalan di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (27/11/2020). Aksi yang dilakukan oleh anak-anak muda yang tergabung dalam Jeda untuk Iklim tersebut meminta pemerintah melakukan aksi nyata terkait konsekuensi perubahan iklim.
Aksi seruan untuk serius menghadapi dampak perubahan iklim (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Perubahan iklim telah nyata terjadi dan bangsa Indonesia mengalami dampak yang cukup serius baik keselamatan jiwa, kestabilan penghidupan, dan kesejahteraan. Pada tahun ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memastikan Indonesia mengalami perubahan iklim berdasarkan pengamatan dari 91 Stasiun Pengamatan BMKG. Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa suhu udara rata-rata antara tahun 1981 hingga 2010 mencapai 26,60 derajat Celcius. Sedangkan suhu udara rata-rata pada 2020 mencapai 27,30 derajat Celcius.

Kenaikan suhu udara merupakan wacana serius dalam tingkat global yang digaungkan dalam KTT Perubahan Iklim yang mendorong upaya bersama negara-negara untuk mencegah agar kenaikan suhu udara tidak melebihi 1,5 derajat Celcius. Mengutip berbagai pernyataan pakar meteorologi bahwa kenaikan suhu menyebabkan peningkatan kejadian cuaca ekstrem. Kejadian cuaca ekstrem memicu kejadian banjir di antaranya banjir Jakarta, banjir Semarang, dan banjir di Nusa Tenggara Timur.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 1 Januari hingga 9 Maret 2021 tercatat sebanyak 763 kejadian bencana yang didominasi oleh kejadian banjir hingga 337 kejadian. Berdasarkan data dan kejadian cuaca ekstrem yang intensitasnya semakin sering terjadi di Tanah Air, kita membutuhkan perubahan yang substansial dalam menyikapi kejadian cuaca ekstrem. Beberapa peristiwa kejadian banjir akibat cuaca ekstrem menunjukkan bahwa kejadian ini bisa terjadi di mana saja dan siapa pun warganya berpotensi menghadapi ancaman banjir. Perubahan substansial tersebut adalah kebutuhan untuk melakukan adaptasi.

Kebutuhan melakukan adaptasi bagi warga dapat dimungkinkan apabila penanganannya dilakukan secara holistik. Pertama, adaptasi dapat dilakukan apabila perangkat kebijakan negara, pembuat keputusan, hingga aparaturnya memiliki persepsi risiko terhadap perubahan iklim. Persepsi risiko ini ditandai dengan adanya cara untuk menangani risiko secara riil, misalnya membangun teknologi informasi mengenai potensi bencana yang dapat dideteksi di awal dan peta jalan maupun strategi yang rinci dalam menghadapi bencana yang dapat diakses dan dipahami oleh masyarakat.

Selain itu, negara bersama kelompok ilmuwan perlu memberikan akses pengetahuan mengenai resiko bencana maupun strategi komunikasi yang memadai sehingga masyarakat paham dan diberikan jalan untuk mengetahui risiko bencana dan upaya menghadapinya. Akses teknologi informasi dan akses pengetahuan merupakan investasi yang membutuhkan biaya yang besar, namun hal ini menjadi sangat vital mengingat potensi bencana yang akan terjadi di masa depan.

Kedua, persepsi risiko perubahan iklim menjadi kebutuhan bagi media massa. Media berperan penting membangkitkan kesadaran kepada masyarakat terhadap risiko perubahan iklim. Risiko merupakan suatu keadaan yang berpotensi menimbulkan krisis atau bencana sehingga membutuhkan persiapan untuk menghadapinya. Persepsi risiko ini perlu menjadi politik pemberitaan di media massa dengan tujuan agar media menjadi rujukan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat agar memiliki perubahan pola pikir dalam menyikapi kondisi saat ini.

Ketiga, yang paling krusial, adalah persepsi risiko masyarakat. Persepsi risiko ini terkait erat dengan akses pengetahuan maupun literasi sehingga masyarakat melek perubahan iklim dan risiko perubahan iklim. Apabila masyarakat paham akan risiko yang dihadapinya, maka dapat mempersiapkan diri menghadapi risiko. Risiko ini pun merupakan hal yang asing mengingat struktur masyarakat kita yang beragam.

Risiko ini merupakan ancaman yang tidak terlihat sehingga bagi masyarakat yang awam akan sulit untuk memiliki persepsi risiko terhadap perubahan iklim dan melakukan tindakan bersiap menghadapi perubahan iklim. Tindakan bersiap pun membutuhkan panduan yang rinci sehingga masyarakat memiliki kejelasan bertindak dan pilihan untuk bertindak menghadapi perubahan iklim.

Untuk mengasah kepekaan masyarakat terhadap risiko perubahan iklim adalah melalui literasi yang menghadirkan pewacanaan yang masif mengenai perubahan iklim. Tentu, literasi yang dihadirkan bukan untuk menakut-nakuti warga, tetapi literasi yang berisi jalan keluar yang aplikatif untuk mengatasi dan menghadapi perubahan iklim.

Maka, kesadaran masyarakat terhadap risiko perubahan iklim sangat tergantung pada kebijakan negara dan media dalam membangun wacana dan narasi mengenai risiko perubahan iklim. Apabila isu perubahan iklim menjadi isu minor, maka kita akan kerepotan menghadapi ancaman maupun kejadian bencana akibat perubahan iklim karena tidak memiliki kesiapan menghadapinya.

Prioritas Kebijakan

Adaptasi perubahan iklim merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat dan perlu menjadi prioritas kebijakan bagi pembuat kebijakan dan prioritas pemberitaan bagi media. Adaptasi perubahan iklim membutuhkan komponen sosial yakni membutuhkan kesigapan semua pihak untuk mempersiapkan diri dan menghadapinya.

Berdasarkan tulisan Mark Pelling (2011) dalam buku berjudul Adaptation to Climate Change: From Resilience to Transformation, masyarakat selaku aktor sosial merupakan komponen sosial yang vital untuk memiliki kemampuan memahami risiko dan memiliki mekanisme kesiapan menghadapi ketidakpastian. Perubahan iklim menyebabkan berbagai kejadian alam yang tidak dapat diprediksi dan aktor sosial menghadapi ketidakpastian baik kejadian bencana maupun besaran kerusakan akibat kejadian bencana. Misalnya kejadian banjir di Kampung Melayu yang semakin intensif bahkan baru awal 2021 sudah mengalami 8 kali.

Kejadian perubahan iklim yang semakin intens membutuhkan perspektif positif yaitu upaya membangun pembelajaran dalam masyarakat maupun pembelajaran dan evaluasi kebijakan bagi negara. Dalam konteks masyarakat, perubahan iklim perlu disikapi dengan tindakan pembelajaran yang dapat diawali melalui tindakan observasi warga.

Warga perlu membangun ingatan kolektif mengenai kejadian bencana dan mencatatnya. Tujuan membangun ingatan kolektif tersebut adalah untuk mencermati penyebab bencana, lokasi atau titik bencana hingga upaya untuk mengantisipasi apabila kejadian bencana berulang pada kejadian berikutnya. Ingatan kolektif ini perlu dibangun dan diwariskan kepada generasi selanjutnya agar proses pembelajaran menghadapi bencana diikuti dengan mekanisme bersama untuk mengatasinya. Maka, adaptasi merupakan keterampilan yang penting dan diperlukan bagi masyarakat saat ini.

Ica Wulansari pengajar lepas di Universitas Paramadina, pegiat studi sosial-ekologi

(mmu/mmu)