Jeda

Ziarah dan Renungan Kematian

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 18 Apr 2021 11:00 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Kemarin saya membaca status Facebook seorang teman satu komunitas yang sudah pulang ke kampungnya di Jambi sana. Dalam statusnya ia curhat kalau ia iri dengan orang-orang yang masih memelihara dan menjalankan tradisi nyadran (berziarah ke makam leluhur menjelang bulan Ramadhan). Ia memang lahir dari keluarga transmigran yang mencelat jauh dari tanah nenek moyang. Di Sumatera, ia tidak punya makam leluhur yang bisa diziarahi. Seandainya ada pun, keluarganya tidak mengajarinya untuk nyekar ke makam leluhur, apalagi buat perempuan.

Membaca statusnya, saya ikut bersimpati. Saya boleh jadi lebih beruntung karena dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang sangat kental dengan tradisi ziarah kubur. Tapi sebenarnya saya juga ikut sedih. Karena suatu hal, sudah setahun ini saya tidak bisa pulang ke kampung. Tidak bisa pulang membuat saya dua kali tidak nyekar ke makam bapak dan para leluhur.

Untuk membayar rasa rindu saya untuk berziarah, saya biasa jalan-jalan ke TPU Pracimaloyo, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, tidak jauh dari tempat indekos saya. Kompleks pemakaman ini memang luas dengan tanaman bunga kamboja yang memenuhi makam. Jika ingin berkunjung ke rumah teman saya di dekat area makam, saya biasa bersepeda pelan-pelan agar bisa menikmati indahnya bunga kamboja yang sedang mekar dan mampir untuk berziarah ke makam K.H. Ahmad Siradj (Mbah Siradj), seorang ulama kharismatik dari Solo. Selain berziarah saya juga senang mengobrol dengan para pengepul bunga kamboja yang ada di kompleks pemakaman ini.

Entahlah, saya memang punya ketertarikan dengan bunga kamboja putih yang kata kebanyakan teman saya adalah bunga kuburan. Saking sukanya, saya sampai menulis cerpen dan cerkak (cerita cekak, cerpen berbahasa Jawa) yang menceritakan tentang keterikatan seseorang dengan bunga kamboja. Di rumah, kakak saya menanam bunga kamboja putih (Plumeria acuminata). Di kampung, kami menyebutnya kembang semboja. Bunga yang daunnya sering diminta tetangga untuk diambil getahnya sebagai obat sakit gigi.

Di kompleks pemakaman ini saya bertemu dengan simbah-simbah pengepul bunga kamboja. Simbah putri yang biasa dipanggil Mbah Harjo itu mengaku sudah berumur 90 tahun dan sudah menjadi pengepul bunga kamboja selama 20 tahun. Bunga kamboja itu nanti setelah dikumpulkan lalu dijemur agar mengering. Bunga kering nantinya disetorkan kepada pengepul untuk dijadikan bahan obat nyamuk. Saya terakhir bertemu dia tahun lalu, ketika Covid-19 melanda, dia masih semangat mengumpulkan bunga kamboja. Caranya berjalan dengan tongkat kayu dan caping yang selalu dipakainya selalu terkenang dalam ingatan saya.

Obrolan di pemakaman dengan Mbah Harjo dan dengan ibu-ibu pengepul lainnya malah tidak membicarakan tentang kematian, tapi malah rasan-rasan tentang segala hal. Yang jelas mereka terus bersemangat untuk hidup dan menghidupi.

Selain berziarah di TPU Pracimaloyo, saya dulu juga sering berziarah ke makam Habib Anis bin Alwi Al Habsyi di area Masjid Riyadh, Kampung Gurawan, Pasar Kliwon, Solo. Biasanya saya mampir ke Pasar Kembang dulu untuk membeli bunga tabur. Kebetulan ibu adik kos saya dulu berjualan di sana. Di makam Habib Anis, saya selalu kerasan sampai tak terasa tarhim sudah berkumandang. Beberapa peziarah yang saya temui di sana banyak yang berasal dari luar kota Solo. Bahkan saya mendapat teman perempuan, seorang peziarah dari Probolinggo yang minta antar untuk berziarah ke Makam Ki Ageng Henis di Laweyan setelah berziarah dari makam Habib Anis.

Pemakaman bagi saya memang tidak melulu menyeramkan apalagi pemakaman Tionghoa dekat rumah teman saya. Katanya dulu ia sering merindukan perayaan Ceng Beng karena akan banyak sesajen buah-buahan (dari kesemek, apel merah, jeruk, sampai buah pir), kue-kue yang enak, dan uang koin dan kertas yang jumlahya lumayan. Masa kecilnya dipenuhi dengan berburu sesajen itu. Belum 10 meter para peziarah itu pergi, ia dan teman-temannya sudah menyerbu sesajen yang ditinggalkan. Tentu saja kalau ketahuan orangtua, mereka akan dimarahi karena kalau sudah berebut buah pir antarsesama teman mereka bisa gelut.

Pir adalah buah yang mewah di kampung teman saya karena itu menjadi favorit anak-anak di kampungnya. Begitu pula di dekat rumah teman SMA saya dulu, anak-anak di kampungnya biasa bermain di area pemakaman. Bahkan juga tempat untuk belajar kelompok, sampai nisan di pekuburan itu dijadikan meja belajar saking tidak takutnya --meski mereka kerap diomeli orangtuanya karena dianggap tidak sopan.

Wajar karena pemakaman tersebut memang berlampu terang, tidak seperti makam di kampung saya yang gelap dan wingit sekali. Kalau malam-malam lewat di situ saking takutnya, membayangkan akan dikejar pocong Mumun atau pocong Jefri, yang keluar dari mulut saya bukan ayat kursi, tapi malah tasrifan. Nashara yansuru nashran, fahuwa nashiru wadzaka manshurun, unshur laa tanshur, mansharun mansharun minsharun. Lah, demit kok malah diajari sharaf!

***

Kalau saya berziarah biasanya memang ke makam orang yang sudah dikenal, baik leluhur atau makam wali, lain dengan teman saya, seorang kiai nyentrik dan mendaku sebagai "mualaf" Jawa. Dia tidak hanya seorang "sarkub" (sarjana kuburan), tapi sudah setingkat rektor atau accessor BAN (Badan Akreditasi Nasional) PT (Pekuburan Tua, plesetan dari Perguruan Tinggi). Tidak hanya makam yang sudah dikenal, tapi makam-makam tua atau terbengkalai dia bersihkan dan tidak lupa selalu mendoakan untuk ahli kubur tersebut. Karena dia percaya tidak ada hadiah yang lebih menyenangkan untuk ahli kubur selain dikirimi doa.

Selama pengakuannya, dia tidak pernah mendapatkan pengalaman yang seram-seram karena memang niatnya mendoakan si mati, bukan mencari nomor togel. Ya, walau dia ini sering membuat saya kesal karena suka mengirim foto nisan menjelang dini hari. Ya, bayangkan jam segitu dikirimi foto kijing! Biasanya dia minta bantuan untuk membaca tulisan yang kebetulan beraksara Jawa. Beberapa bisa langsung terbaca (hal ini penting untuk mengetahui sejarah dan mengirim doa), tapi kebanyakan tidak, karena beberapa tulisan tidak jelas akibat gripis dimakan usia.

Nah, hal itu yang selalu membuat saya mikir karena harus menebak atau menggabungkan aksara-aksara yang kurang jelas tersebut. Tidak heran kalau galeri foto di handphone saya penuh dengan foto kijing. Dia kalau bukan kiai dan qori terkenal dengan langgam Jawanya pasti sudah saya pisuhi karena mengganggu mimpi indah saya.

Soal aksara Jawa ini saya pernah berurusan dengan seorang pemahat nisan dan pemesannya. Waktu itu saya sedang berjalan-jalan dan melewati sentra pembuatan kijing. Kata teman, keluarganya pernah memesan nisan di sana, bisa pesan yang bagaimanapun bentuknya. Langkah saya terhenti ketika ada tulisan yang ganjil. Tulisan di nisan itu menggunakan aksara Jawa berbunyi "Sri Rejeki" tapi dengan aksara yang keliru bagian "Re". "Re" dalam "rejeki" yang "e"-nya dibaca seperti "empat" seharusnya tidak menggunakan aksara "ra" dipepet, tapi ada aksara penggantinya yaitu "pa cerek".

Karena lama berdiri di depan nisan itu, saya didatangi pemahatnya, ketika ditanya, saya jelaskan apa yang menjadi unek-unek saya tentang tulisan yang terpahat. Si pemahat kurang paham; ia hanya tinggal pahat saja sesuai pesanan. Lalu kami ngobrol tentang bisnis kijing tersebut. Pemahat itu sempat menanyai nama saya dan saya jawab dengan jujur. Ternyata kelakuan saya menjadi penyebab gegeran di kemudian hari antara si pemahat dan pemesan. Pemesan kijing tersebut berhasil menemukan akun medsos saya dan mengirimi pesan dan bertanya sungguh-sungguh apakah memang aksara itu salah. Saya jelaskan sebisa mungkin.

"Wah, teman saya menyesatkan berarti, Mbak. Padahal saya sudah pesan kijing dengan bahan yang mahal buat ibu saya," tulisnya dengan disertai emot menangis. Saya jadi merasa bersalah karena terlalu cerewet mengurusi orang lain. Tapi akhirnya pemesan kijing tersebut tetap mengganti bagian nama ibunya di nisan dengan tulisan yang benar.

***

Ketika saya merasa suntuk, saya sering pergi ke makam terdekat dan berlama-lama di sana. Sering ditanya teman, apakah tidak takut? Entahlah, saya malah merasa damai ketika berada di sana. Mungkin karena terbawa kebiasaan di kampung dulu yang sering ikut rombongan yaroh (ziarah) ke makam wali yang selalu dimulai dengan menziarahi makam Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Tarub di Grobogan lalu berlanjut ke Pati ke makam Saridin atau Syekh Jangkung.

Jika berkunjung ke Kudus, saya bisa betah berlama-lama berada di makam Sunan Kudus atau Sunan Muria, apalagi ketika sedang tidak terlalu ramai didatangi oleh peziarah. Kebiasaan selalu terbawa ketika berkunjung di suatu kota, pasti saya akan tanya teman yang paham daerah situ di mana makam wali yang bisa diziarahi. Kalau sedang tidak bisa bepergian jauh, saya cukup ke Klaten saja, menziarahi beberapa makam seperti Sunan Pandananaran, R. Ng. Ranggawarsita, Panembahan Rama, Syekh Dumbo, dan lain-lain. Belum semua saya ziarahi karena banyak makam wali di sana.

Saya sepakat kalau makam sebaiknya memang tidak terkesan menyeramkan. Seorang teman pernah guyon kalau San Diego Hills memang makam yang jauh dari kesan menyeramkan, tapi harganya yang seram. Halo, ya, memang bukan kamu targetnya. Tapi walau tidak menyeramkan, saya masih suka kalau makam itu tetap ada kesan sakralnya. Kemarin saya dicurhati teman yang sedang mudik dan akan nyekar ke makam orangtuanya.

"Ya ampun, pusing aku. Ya masa makam dicat warna-warni ngejreng. Bisa-bisa orangtuaku bangkit lagi gara-gara matanya blereng," katanya sambil ngomel-ngomel. Untung saja makam orangtuanya belum dicat karena memang belum rampung agenda mengecat makam tersebut.

Saya tahu maksud pemuda desa baik agar makam tidak terkesan angker. Tapi, ya jangan terus kebablasan. Saya paling mumet dengan apa-apa harus latah warna-warni ngejreng. Kampung warna-warni, bukit warna-warni, sampai batu-batu di kali pun dicat warna-warni. Padahal lebih bagus warna aslinya.

Dari orang-orang yang saya temui di pemakaman, saya jadi merenung. Penjaga makam, penggali kubur, pemahat nisan, penjual bunga tabur, pengepul bunga kamboja, adalah orang-orang yang mencari hidup dari kematian orang lain. Sungguh sangat bermanfaat ketika kematian kita masih bisa menjadi sumber kehidupan bagi orang lain.

Pas masih hidup saja saya sering mikir apakah saya benar-benar berguna untuk orang lain, apalagi ketika sudah meninggal. Ada yang mendoakan saya saja sudah bersyukur, apalagi dibersihkan makamnya. Itu juga kalau masih kebagian lahan untuk dikubur.

Gondangrejo, 16 April 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)