Kolom Ramadhan

Puasa dan Lorong Waktu

Marz Wera - detikNews
Kamis, 15 Apr 2021 15:30 WIB
Couple of glowing Moroccan ornamental lanterns on the table. Greeting card, invitation for Muslim holy month Ramadan Kareem, festive blue night background with glittering golden bokeh lights.
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Tabitazn
Jakarta -
Menunggu sebuah perjalanan waktu adalah pengalaman yang sangat membosankan. Namun, merenungkan narasi hidup yang telah berlalu terasa penting. Bila kita mencoba untuk menengok ke belakang, maka memori kita akan mengingatkan kita dengan sederetan waktu dan rentetan peristiwa hidup. Kita akhirnya mengungkapkan setiap kenangan yang kita lewati dengan ruang dan waktu yang berbeda.

Kini umat Muslim telah memasuki bulan keberkahan, untuk menjelajahi perjalanan spiritual selama bulan suci Ramadhan 1442 H (2021 Masehi). Bulan penuh inspirasi dan tantangan bukan hanya bagi umat Muslim, tapi semua umat manusia. Setiap tahun di bulan Ramadhan, umat Muslim masuk dalam balutan keheningan. Berjalan dalam rentetan peristiwa hidup untuk merefleksikan kedalaman iman dan penghayatan nilai-nilai otentik keislaman dan kemanusiaan. Saatnya untuk kembali ke kedalaman pribadi manusia; menelusuri jejak-jejak kesunyian sembari merenungkan arah dan tujuan hidup serta hakekat individu sebagai manusia dan sesama.

Hidup itu terus bertumbuh, ada saatnya bagi kita untuk kembali dan melihat penjelajahan kita sebagai manusia dalam menjalani hidup. Dalam konteks agama, ada saatnya kita untuk berpulang pada refleksi ke dalam diri tentang pentingnya esensi dari otentisitas iman keagamaan. Ramadhan membuka ruang bagi kita semua, dan lebih khusus bagi umat Muslim, untuk berkontemplasi dalam haru biru peristiwa hidup yang panjang dan melelahkan.

Saatnya untuk sejenak melatih diri mengurangi atau berhenti dari hal-hal duniawi, dan mencoba membuka mata hati kita untuk melihat kedalaman antara yang inti dan tidak atas hidup, antara yang melampaui segalanya dan yang hanya menjadi formalitas semata.

Prihatin

Di samping kita memaknai perjalanan hidup di bulan penuh rahmat ini, kita juga prihatin akan situasi bangsa kita saat ini. Kita masih berjuang melawan Covid-19, hiruk pikuk serta kebisingan situasi bangsa kini berakibat pada munculnya kesenjangan sosial, ekonomi, dan politik, serta persoalan hukum yang mengabaikan keadilan bagi sesama. Isu SARA mengapung ke permukaan. Kehidupan beragama di ambang tantangan serius.

Lihat saja berbagai tindakan kekerasan, intimidasi, terorisme yang melanda bangsa kita akhir-akhir ini, semuanya berkedok pada kepatutan doktriner iman agama tertentu. Agama dimanfaatkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab.

Kita terus dikekang dalam krisis multidimensi. Kepemimpinan populis masih berada dalam persimpangan jalan karena terhimpit oleh kaum oligarki. Warga bangsa hanya menjalankan apa yang sudah ditata dan diatur oleh kepentingan kelompok yang memanfaatkan kekuasaan yang ada. Identitas agama hanya dipergunakan untuk kepentingan politik kaum tak bermoral. Agama akhirnya menjadi institusi yang ikut melegitimasi posisi seseorang dalam ruang dan ranjang kekuasaan.

Di tengah sistem ekonomi yang terus menghimpit, patut prihatin juga akan penyakit sosial yang terus melilit etika dan moralitas publik. Jiwa kejuangan akhirnya terkurung oleh tebalnya semangat SARA yang terus membingkai opini publik warga bangsa. Persoalan hukum kini di persimpangan jalan. Para penegak hukum justru menjadi tokoh utama dalam berbagai skandal. Adagium klasik mengatakan, hukum tampil meruncing tajam ke bawah, sedangkan tumpulnya mengarah ke atas. Intinya semua berorientasi pada uang.

Namun sepanjang bulan suci Ramadhan, kita dipanggil dan diberi kesempatan untuk sejenak merenung dan merefleksikan. Saat ketika teladan hidup Nabi Muhammad harus diteladani agar mengakar dalam realitas hidup berbangsa dan bernegara. Tugas dan semangat kenabian harus menjalar menjejaki jejak-jejak kesalehan sosial agar iman keislaman mewujud dalam setiap peristiwa hidup kebangsaan.

Pengalaman Mistik

Era globalisasi ditandai dengan fenomena kecepatan informasi, serta tantangan dan menggenggam erat pemahaman akan keagamaan. Persoalan iman menjadi konsep yang ilusif dan abstrak, sedangkan perkembangan teknologi menuntut rasionalitas nalar manusia. Cara orang menalarkan Tuhan menjadi multitafsir.

Kebebasan akses ke mana pun membuat pemahaman akan ajaran iman keagamaan menjadi gamang, karena dari ortodoksi ke heterodoksi. Ada perbedaan antara ajaran dan kenyataan dari ajaran agama, terutama orang-orang yang menginterprestasikan Tuhan itu sendiri.

Pola pemahaman akan iman keagamaan harus punya cara baru. Era keterbukaan menuntut perbuatan iman yang nyata. Bukan hanya pandai menyusun kata dan kalimat dalam menebarkan ajaran iman. Dalam konteks ini, puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan nafsu belaka. Juga bukan hanya sekadar menjalankan rutinitas keagamaan semata. Melainkan terkandung cara kita memaknai hidup kita. Kita semua dipanggil ke kedalaman iman kita untuk merenungkan ajaran dan pesan moral keislaman, serta nilai-nilai luhur dan semangat merajut persaudaraan sejati.

Bulan Ramadhan harus menjadi momen pembaharuan diri yang utuh dan luhur dalam pemuliaan martabat manusia. Manusia dipanggil untuk masuk ke keheningan mistik --relasi personal dengan Sang Khalik. Manusia boleh saja mempertanyakan keberadaan Tuhan, tetapi manusia juga sadar akan sejarah bahwa manusia punya keterbatasan dalam memahami segalanya di luar nalarnya.

Di sinilah pengalaman mistik hadir membawa manusia pada sebuah proses, baik secara lahiriah maupun batiniah menuju dimensi misteri atas hal-hal mendasar. Misteri tersebut dapat termaknai ketika manusia masuk ke sebuah realitas yang dikelola dalam kondisi tertentu. Kondisi di mana manusia mengarahkan niat dan batinnya pada satu fokus perhatian untuk menemukan pemurnian diri sebagai manusia autentik.

Proses kemisterian tersebut dapat kita alami dalam nuansa pengalaman mistik yang bernama puasa. Dalam puasa, konsep ketuhanan harus dipahami sebagai pengalaman mistik manusia, relasi yang intim dan sangat personal dengan yang Maha itu. Sebuah pencarian yang tak berujung, tanpa disadari oleh manusia, bahwa "kedamaian dan jalan keselamatan menuju kesempurnaan adalah gairah cinta Sang Khalik mewarnai hidup kita".

Cahaya Kesalehan

Hingga saat ini, Indonesia diyakini dan diakui sebagai negara dengan mayoritas pemeluk Islam terbesar di dunia. Saat yang sama, kita diakui sebagai negara yang paling lihai mengelola perbedaan dan keberagaman. Hal ini diperkuat dengan beberapa tahun terakhir, tokoh-tokoh agama dari Indonesia diundang untuk berbicara tentang hal tersebut di forum-forum internasional. Patut diapresiasi, meskipun masih ada pihak-pihak yang belum sepenuhnya menerima hal ini.

Pada titik inilah, perjalanan spiritualitas Sang Nabi SAW yang mengagungkan dan menginspirasi umat manusia perlu diteladani. Padanya, ketika setahun berlalu kita berjuang melawan pandemi global Covid-19 memberi makna hakiki bahwa sikap hidup baru sebagai pembaruan diri lebih dari sekadar mencuci tangan dan memakai masker.

Di bulan keheningan dan penuh rahmat ini, kita diingatkan akan dimensi-dimensi dasar keislaman dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Kita saling merajut kebersamaan, dan genggam erat membangun solidaritas sosial menuju bangsa yang beradab. Keheningan tersebut memberikan ruang dan waktu bagi kita untuk saling melempar senyum, canda, dan tawa bersama meskipun sedang menjaga jarak.

Sebulan perjalanan spiritual dan refleksi atas hidup, kita diajak untuk memupuk kejujuran dan ketulusan. Kesempatan untuk memperbaharui diri dalam keutuhan ciptaan-Nya yang luhur dan mulia. Momen puasa menyiratkan perwujudan cahaya untuk menerangi pikiran kita, memperindah jiwa, serta menyinari tubuh untuk menjelma menjadi cahaya kesalehan sosial. Itulah lorong waktu bernama puasa.

Marz Wera peneliti tinggal di Jakarta

(mmu/mmu)