Kolom Ramadhan

Ramadhan sebagai Pesantren Kemanusiaan

Muhammad Radhi Mafazi - detikNews
Rabu, 14 Apr 2021 15:06 WIB
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar sholat tarawih akbar di Masjid Istiqlal.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -
Ketertarikan saya dengan kisah perjuangan para narapidana dalam menemukan jalan lurus tidak pernah ada habisnya. Kisah perjuangan mereka banyak yang unik, terkadang membuat hati pilu, walaupun juga ada yang membuat darah tinggi, rasanya gado-gado, hingga tanpa sadar di tengah perbincangan, mulut sering nyeletuk kalimat tanya, "Kok bisa?" Kisah yang mereka ceritakan penting sebagai bagian dari data laporan penelitian kemasyarakatan.

Kisah kali ini saya dapatkan, saat berbincang dengan narapidana berinisial MJ, dalam rangka pembuatan laporan penelitian kemasyarakatan. Seperti pada umumnya, saya buka dengan perkenalan. Ada satu ciri khas pertanyaan yang coba saya langgengkan pada saat berbincang dengan narapidana. Berangkat dari keingintahuan tentang proses mental mereka selama menjalani pembinaan mendorong saya untuk menanyakan hal ini di tengah obrolan, "Apa yang kamu dapat selama di sini (lapas/rutan)?"

Jawaban diplomatis biasanya sering muncul dari para narapidana. Tetapi jawaban dari pertanyaan tersebut kali ini saya dapatkan berbeda pada jawaban narapida berinisial MJ. Dari sekian narapidana yang pernah saya ambil datanya, jawaban MJ membuat saya terkesan. "Saya bisa hafal surat Ar-Rahman, Pak, walaupun belum sepenuhnya."

Saya tak lantas percaya. Saya selalu menguji narapidana yang saya ambil datanya. Saya meminta MJ mempertanggungjawabkan jawabannya, mengetes dirinya, "Coba kamu baca surat Ar-Rahman." Karena saya hanya hafal sampai ayat ke-5, dengan sigap saya keluarkan HP dari saku untuk menyimak bacaannya.

Tak disangka ia mampu sampai ayat ke-27 dari 78 ayat. Tetapi usaha MJ hanya mampu menaikkan kepercayaan saya terhadap dirinya pada persentase 30%. Sisa 70% rasa curiga menggelitik saya untuk mengajukan pertanyaan pancingan, "Kamu hafalnya di luar lembaga?"

Dengan menundukkan kepala, dia menjawab, "Tidak, Pak." Raut wajahnya seketika menjadi memelas. Bekas dua titik hitam yang samar-samar di dahinya menarik perhatian saya; hal ini menambah kepercayaan saya menjadi 50%. First impression memiliki peran vital bagi saya saat akan menilai sikap narapidana.

"Saya hafal surat Ar-Rahman dan mulai melakukan salat sunah saat di dalam lembaga," lanjut MJ. Dugaan yang saya simpan dalam hati, sedari melihat dua titik hitam di dahinya, yang terlihat samar-samar teruji oleh jawabannya tadi. Hal ini mengubah kepercayaan saya, menjadi 70%, sisanya saya simpan untuk kecurigaan. Sebagai upaya mawas diri saat dia menjalani proses integrasi sosial.

Lelaki berusia 21 tahun yang sedang di hadapan saya itu merupakan buah dari tujuan mulia sistem pemasyarakatan, gagasan dari Sahardjo dalam pidato penganugerahan Doktor Honoris Causa di bidang ilmu hukum oleh Universitas Indonesia, berjudul Pohon Beringin Pengayoman. Gagasan yang diformulasikan sebagai sistem pembinaan narapidana di Indonesia yang menggantikan sistem kepenjaraan pada 27 April 1964.

Inti dari gagasan tersebut adalah mengembalikan hidup, kehidupan dan penghidupan narapidana. sebuah upaya mengembalikan sisi kemanusiaan. Hingga saat ini saya masih percaya, manusia-manusia yang hari ini masih bisa menghirup udara bebas, haha-hihi bersama teman-temanya di luar tembok, memiliki peluang yang sama untuk melakukan kesalahan yang berakibat pada hilangnya sisi kemanusiaan.

Kelebihan Manusia

Kemanusiaan tentu bukan hanya dibentuk melalui cetakan, dari tatanan sistem pendidikan umum, yang hanya mengedepankan pembentukan perilaku, dengan metode reward dan punishment, sistem yang bermuara pada pe-ranking-an, hingga membentuk perilaku melegalkan segala cara untuk meraihnya.

Kemanusiaan tidak dapat diukur dengan sistem pe-ranking-an, baik buruknya tercermin pada bagaimana manusia memilih perilakunya dalam menjalani kehidupan. Kemanusiaan merupakan bagian dari jiwa manusia yang paling dasar. Ibarat bangunan ia merupakan fondasi dasar yang harus tetap kokoh. Apabila ia roboh, hancurlah manusia, hingga menjadi makhluk yang tidak berharga, bahkan derajatnya bisa lebih rendah daripada binatang.

Saya teringat pada sebuah buku berjudul Lembaga Budi karya seorang ulama yang terkenal tegas dalam pendirian, namun sejuk dalam bersikap kepada sesama manusia. Ia adalah Buya Hamka. Dalam karyanya itu ia menuturkan bahwa kelebihan manusia daripada binatang bukanlah karena makan dan melihat. Tetapi karena manusia mempunyai kesanggupan meninjau dan merenungkan hakikat sesuatu.

Kembali pada Hakikat

Manusia secara tidak sadar dipaksa merenungkan suatu hakikat dengan pandemi, tetapi tidak berhasil. Terbukti dari rentetan peristiwa yang mengguncang jiwa kemanusiaan menguap di permukaan, mulai dari teror hingga kasus-kasus yang jauh dari gambaran manusia sejati.

Detoksifikasi jiwa perlu dilakukan agar manusia kembali pada hakikat jiwa kemanusiaannya. Tentu hal ini memerlukan kekompakan bersama. Ramadhan datang di saat yang tepat sebagai pesantren kemanusiaan, tempat nyatrinya jiwa-jiwa yang merindukan kemanusiaan. Secara gaib Ramadhan mengompakkan seluruh semesta, membawa pada suasana ketenangan bersama, yang tidak bisa didapatkan pada bulan lainnya.

Ketenangannya membuat manusia kembali kepada hakikatnya. Sebagai makhluk yang lemah, pastilah membutuhkan perlindungan dari yang lebih besar darinya. Menarik kembali jiwanya pada ketundukan kepada aturan, hingga hidupnya menjadi tertata dengan rapi.

Maka apabila Ramadhan dianggap sebagai pesantren dengan materi nyatrinya kemanusiaan, sudah selayaknya para santri yang lulus nantinya mendapatkan gelar fithratallah. Saya meminjam istilah itu dari Fahruddin Faiz (2020) dalam karyanya berjudul Menjadi Hamba, Menjadi Manusia. Fithratallah berarti kembali kepada jalur yang benar, perilakunya menggambarkan jiwa manusia sejati, dengan prinsip memanusiakan manusia.

Layaknya Lembaga Pemasyarakatan,sebagai tempat nyantrinya MJ sebagai para narapidana yang sedang tersesat jiwanya pada kejahatan, Ramadhan memiliki peran yang sama pentingnya dalam mengembalikan jiwa kemanusiaan pada manusia yang telah luntur.
Muhammad Radhi Mafazi pembimbing kemasyarakatan

(mmu/mmu)