Kolom

Gejolak Cabai Rawit (Jangan) Bikin Panik

Faishol Amir - detikNews
Selasa, 13 Apr 2021 11:50 WIB
Harga cabai di Pasar Jembatan Lima, Jakarta Barat masih mahal, Kamis (16/1/2020). Di pasar ini harga cabai kriting dan cabai merah besar mencapai 80 ribu rupiah.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Malam itu saya menonton siaran langsung MotoGP seri Qatar 2021 di warung kopi Mak Enjun bersama para maniak balapan ini. Sesekali saya santap tempe goreng yang tersaji bersama cabai rawitnya dengan nikmat. Tak sadar sudah sembilan potong tempe yang saya lahap. Tak terhitung pula berapa cabai yang ikut serta masuk ke perut ini. Persis pada suapan terakhir, saat saya menjumput dua buah cabai rawit merah, tangan saya ditepis dengan kerasnya oleh Mak Enjun.

"Hei, cabe rawit mahal. Jangan banyak-banyak ngambilnya," omel Mak Enjun. Semua mata tertuju pada kami. Beberapa di antaranya tertawa menyeringai. Ah, benar juga, kerakusan saya membuat lupa bahwa saat ini harga cabai rawit meroket tinggi. Berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per 18 Maret 2021, harga rata-rata cabai rawit merah di tingkat konsumen secara nasional mencapai Rp 100.200/ kg.

Tingginya harga cabai rawit memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen pada Maret 2021. Sedangkan inflasi umum pada Maret 2021 sebesar 0,08 persen atau turun jika dibandingkan inflasi Februari 2021 sebesar 0,1 persen (BPS, 1 April 2021).

Memahami Inflasi

Bagi masyarakat awam sepintas terlihat aneh. Bagaimana bisa inflasi dikatakan turun, sedangkan harga beberapa komoditas pangan seperti cabai rawit, daging ayam, dan bawang putih merangkak naik? Merujuk dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi merupakan persentase kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang secara umum dikonsumsi rumah tangga. Hitungan perubahan harga tersebut tercakup dalam suatu indeks harga yang dikenal dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI). Persentase kenaikan IHK dikenal dengan inflasi, sedangkan penurunannya disebut deflasi.

Pendapat lain menyebutkan, inflasi didefinisikan sebagai (kecenderungan) kenaikan (secara relatif) harga-harga sekelompok barang dan jasa (komoditas) secara umum pada periode tertentu. Sekelompok berarti kenaikan/penurunan relatif harga pada satu atau beberapa komoditas bisa saja tidak sejalan dengan angka inflasi. Artinya kenaikan satu atau beberapa komoditas tersebut tertutup oleh kenaikan/penurunan relatif harga dari komoditas lainnya dalam sekelompok komoditas tersebut.

Selain itu, kemungkinan kenaikan/penurunan satu atau beberapa komoditas tersebut peranannya (bobot) kecil atau sangat kecil dalam penghitungan inflasi. Cabai rawit misalnya memiliki bobot 0,18 persen terhadap total nilai konsumsi dasar rumah tangga yang digunakan dalam perhitungan IHK.

Perubahan relatif berbeda dengan perubahan absolut. Sebagai contoh, misalkan secara berurutan harga daging ayam bulan Januari sampai Maret 2021 adalah Rp 20.000, Rp 30.000, dan Rp 40.000. Jelas terjadi kenaikan harga secara absolut Rp 10.000 per bulannya. Namun perubahan relatif pada Februari sebesar 50% terhadap Januari dan Maret sebesar 33,33% terhadap Februari. Artinya terjadi penurunan harga secara relatif pada perubahan harga daging ayam. Jadi sangat dimungkinkan terjadi kenaikan harga secara absolut, namun secara bersamaan perubahan relatif malah turun.

Rupanya Mak Enjun kembali berceloteh. Dia mengatakan bahwa akibat kenaikan harga bahan makanan, ia mendapatkan barang belanjaan yang lebih sedikit dari biasanya. Sebenarnya ini pengertian lain dari inflasi, yaitu penurunan nilai mata uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum. Artinya dengan jumlah uang yang sama, kita akan mendapatkan barang yang lebih sedikit dengan kualitas yang sama jika terjadi inflasi.

Jangan Panik

Inflasi menurut disagregasinya dapat dibagi menjadi inflasi inti dan inflasi non-inti. Inflasi inti merupakan komponen inflasi yang pergerakannya cenderung tetap (persisten) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor fundamental seperti interaksi permintaan-penawaran; pengaruh lingkungan eksternal seperti nilai tukar, harga komoditas internasional, dan inflasi mitra dagang; serta ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.

Inflasi non-inti adalah komponen inflasi yang pergerakannya cenderung memiliki volatilitas yang tinggi. Inflasi non-inti memiliki dua komponen, yaitu inflasi komponen bergejolak (volatile food) dan inflasi komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Inflasi volatile food adalah inflasi barang/jasa yang perkembangan harganya sangat bergejolak dan lebih dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti pada kondisi panen, gangguan alam, faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional. Sedangkan inflasi administered prices adalah inflasi barang/jasa yang perkembangan harganya diatur oleh pemerintah dan dominan dipengaruhi oleh shocks berupa kebijakan harga pemerintah, seperti harga BBM bersubsidi, tarif listrik, tarif angkutan, dll (BPS, 2020).

Cabai rawit masuk dalam kelompok komponen inflasi bergejolak. Dalam rilis BPS 1 April 2021 lalu disebutkan bahwa komponen bergejolak pada Maret 2021 mengalami inflasi terbesar yaitu 0,56 persen (m-to-m) dibandingkan komponen lainnya. Meningkatnya inflasi komponen bergejolak, khususnya cabai rawit disebabkan produksi yang terganggu oleh cuaca yang kurang bersahabat.

Merujuk pada data bulanan BMKG pada Januari-Februari 2021, curah hujan harian di Indonesia masih didominasi kriteria hujan lebat di atas 50% dan hujan sangat lebat pada kisaran 14-17%. Utamanya pada provinsi dengan produksi cabai rawit terbesar, yaitu Jawa Timur, NTB, dan Jawa Tengah dengan total produksi 69% dari total produksi nasional pada tahun 2019 (BPS, 2020), hujan selama Januari-Februari 2021 bersifat di atas normal dengan rata-rata curah hujan bulanan di atas 200 mm.

Kenaikan harga cabai rawit yang menggila dikhawatirkan oleh banyak pihak karena menjelang bulan Ramadhan. Namun Menteri Pertanian dalam rapat kerja dengan komisi IV DPR (18/3) menjanjikan harga cabai rawit ditingkat konsumen akan turun hingga kisaran Rp 60.000-70.000/kg pada masa Ramadhan dan Lebaran, April-Mei 2021.

Pemerintah melalui Kemendag juga mengupayakan adanya mesin penyimpan cabai dengan teknologi ozon yang bisa mempertahankan kualitas cabai sampai kurang lebih dua bulan. Mesin ini akan dibagikan pada daerah-daerah sentra cabai pada periode Juli-Agustus 2021 nanti. Harapannya, saat musim panen tiba, kelebihan stok cabai bisa disimpan untuk kemudian didistribusikan ketika tak ada panen.

Saya pun beranjak pulang dengan penuh kekecewaan karena jagoan saya, Valentino Rossi, tidak bisa naik podium dan tercecer di urutan belakang. Saya hampiri Mak Enjun dan menyerahkan uang Rp 10.000 untuk membayar secangkir kopi plus sembilan potong tempe goreng seperti biasanya.

"Duitnya kurang tiga ribu. Tempe gorengnya naik karena tadi makan cabenya banyak," sergah Mak Enjun.

Faishol Amir Statistisi Muda BPS

(mmu/mmu)