Kolom

Menyiapkan Detail Pembelajaran Tatap Muka

Kurniawan Adi Santoso - detikNews
Senin, 12 Apr 2021 11:49 WIB
Sekolah Tatap Muka
Foto: Pradita Utama/DetikNews
Jakarta -

Akhirnya pemerintah memutuskan seluruh sekolah wajib menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas pada tahun ajaran baru Juli nanti. Kebijakan ini berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang disiarkan langsung lewat channel YouTube Kemendikbud, Selasa (30/3).

SKB Empat Menteri soal PTM terbatas tersebut tentu membawa angin segar bagi dunia pendidikan kita. Guru, siswa, dan orangtua sangat menginginkan PTM kembali diaktifkan. PTM dianggap sebagai solusi atas sejumlah masalah yang ditimbulkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi Covid-19 ini.

PJJ yang tujuannya mengurangi risiko agar tidak terpapar Covid-19 malah membuat motivasi belajar siswa terus menurun. Ini karena anak didik bosan tidak ketemu tatap muka dengan pendidik dan temannya. Daftar keluhan PJJ bisa diperpanjang. Seperti sulit dan mahalnya koneksi internet, terbatasnya perangkat akses, sulitnya memenuhi kompetensi praktik, dan kurang siapnya pendidik melaksanakan PJJ.

Selain itu, Mendikbud Nadiem Makarim sendiri menyatakan PJJ selama satu tahun ini berpotensi menimbulkan dampak sosial negatif yang berkepanjangan. Risiko siswa mengalami putus sekolah juga akan meningkat karena anak terpaksa membantu keuangan keluarga di tengah krisis pandemi. Tak hanya itu saja, dampak lainnya ialah adanya penurunan capaian belajar, kekerasan kepada anak, dan risiko eksternal lainnya.

Karena itu, untuk segera merealisasikan PTM, kini Kemendikbud tengah mengebut program vaksinasi Covid-19 bagi lima juta guru dan tenaga pendidik. Vaksinasi guru ditargetkan selesai hingga akhir Juni. Sehingga pada tahun ajaran baru 2021/2022, pembelajaran dapat dilakukan secara tatap muka.

Tentu ketika Covid-19 masih terus menghajar, PTM belum sepenuhnya aman. Masih ada risiko-risiko yang harus dihadapi. Masih mungkin menimbulkan kluster baru. Masih mungkin dunia pendidikan menyumbang jumlah kasus Covid-19. Hanya, risiko-risiko itu bisa diminimalkan atau dihilangkan jika hal-hal yang memungkinkan Covid-19 menyerang bisa diatasi.

Setidaknya saat ini yang harus dilakukan adalah pendataan kesiapan sekolah. Dinas Pendidikan setempat bisa menyigi perihal kesiapan pihak sekolah/madrasah dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka. Seperti fasilitas kesehatan, kesiapan guru dan siswa dalam menaati protokol kesehatan.

Kepatuhan warga sekolah terhadap protokol kesehatan mutlak jadi syarat utama. Itu berarti siapa pun nanti yang terlibat di dalam sistem PTM harus mengenakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, mengonsumsi makanan yang sehat, dan menjaga imunitas tubuh.

Dengan menjalankan protokol kesehatan, sangat mungkin peserta didik dan yang mendidik akan berada dalam situasi yang "aman dan imun". Ini syarat yang tak boleh ditinggalkan ketika kita ingin sukses menyelenggarakan PTM. Tanpa itu, pihak sekolah/madrasah tidak diizinkan untuk melaksanakan PTM.

Lima Hal Penting

Sebelum sistem PTM diberlakukan lagi, keamanan dan kenyamanan belajar-mengajar harus dipersiapkan lebih dulu. Hanya masalahnya, apakah pihak sekolah atau madrasah telah merencanakan PTM secara detail? Jika belum, maka lima hal penting di bawah ini perlu disiapkan.

Pertama, sosialisasi rencana PTM antara pihak sekolah/madrasah, guru, siswa, dan orang tua. Sosialisasi ini bersifat penting, mengingat belum banyak siswa atau orangtua yang mengerti akan rencana PTM pada Juli mendatang. Sosialisasi dapat dilaksanakan secara daring atau luring. Jika sosialisasi dilaksanakan secara luring di sekolah, maka perlu diterapkan protokol kesehatan yang ketat.

Di dalam acara sosialisasi itu, pihak sekolah/madrasah wajib menyediakan opsi PTM. Orangtua boleh menentukan anak-anak mereka mengikuti PTM atau PJJ. Apabila bersedia, nanti orang tua dan anak ikut simulasi pra PTM. Dengan simulasi diharapkan nantinya PTM bisa berjalan lancar.

Namun, bila ada orangtua yang tidak mengizinkan anaknya untuk ikut PTM, maka anak tetap mendapat layanan pendidikan dengan sistem daring atau pihak guru melakukan kegiatan home visit ke rumah anak tersebut.

Kedua, terkait kesediaan dari pihak orangtua untuk mendukung rencana PTM di sekolah. Hal ini bisa dibuktikan dengan surat pernyataan menyetujui PTM. Lalu, didukung dengan kesediaan menyampaikan informasi secara jujur perihal kesehatan keluarga bebas dari Covid-19. Si anak dipastikan sehat sebelum berangkat ke sekolah. Bila ada gejala sakit, disampaikan izin tidak masuk sekolah kepada pihak guru atau wali kelas.

Ketiga, tindak lanjut dari butir pertama dan kedua, pihak sekolah dapat melakukan sejumlah hal. Di antaranya, jumlah siswa dan guru yang ikut PTM di kelas separuh dari total yang ada. Lalu, mengatur intensitas pertemuan. Jika misalnya semula enam jam, pertemuan bisa dilakukan tiga jam. Jika pelajaran dulu hanya berada di ruang tertutup, bisa saja dicoba di tempat-tempat yang terbuka. Pendek kata mesti dicari sistem PTM yang aman dan nyaman.

Sekolah juga perlu menyederhanakan kurikulum. Artinya, sekolah membuat kurikulum adaptif. Ini dengan memilah dan memilih standar isi, penilaian, proses dan kompetensi kelulusan pada Kurikulum 2013 yang mendesak diajarkan sesuai dengan jumlah jam yang telah disederhanakan karena kondisi PTM terbatas.

Keempat, ada pengujian tes GeNose setiap tiga hari sekali bagi siswa dan guru di sekolah. Ini dimaksudkan untuk mengantisipasi jika ada siswa atau guru yang terinfeksi virus Covid-19 secara tiba-tiba atau mendadak. Karena itu, sekolah harus selalu bekerja sama dengan Puskesmas setempat.

Kelima, pihak sekolah dan masyarakat sekitar dapat bekerja sama demi kelancaran PTM. Partisipasi masyarakat sekitar sekolah, misalnya dengan ikut mencegah adanya kerumunan orangtua siswa saat mengantarkan anaknya dan menertibkan lalu lintas. Intinya sinergi dari masyarakat sekitar amat dibutuhkan. Itu semua demi kesuksesan PTM di tengah pandemi Covid-19. Semoga.

Kurniawan Adi Santoso guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim

(mmu/mmu)