Kolom

Surplus Neraca Perdagangan di Tahun Pandemi

Tita Rosy - detikNews
Jumat, 09 Apr 2021 11:04 WIB
Setelah beberapa bulan mengalami defisit alias tekor, pada Mei 2019 posisi neraca perdagangan berbalik menjadi surplus.
Foto: Pradita Utama
Jakarta - Tidak terasa sudah setahun berlalu pandemi Covid-19 melanda dunia. Termasuk di Indonesia, hingga saat ini kondisi pandemi masih berlanjut di tahun 2021. Terdapat banyak sekali perubahan proses bisnis yang memaksa penduduk di seluruh dunia agar beradaptasi dengan kondisi ini. Protokol kesehatan yang terus digaungkan pemerintah merupakan wujud dari kepedulian pemerintah yang ingin melindungi masyarakat dari dampak pandemi yang masih berlangsung ini.

Upaya pemerintah tidak hanya ingin melindungi kesehatan masyarakat sebagai prioritas utama, namun juga dari sisi ekonomi diharapkan dapat distimulus agar kesejahteraan masyarakat tidak terlalu dalam dampak penurunannya.

Tahun 2020 ditutup dengan beberapa catatan penting sebagaimana yang telah disampaikan Badan Pusat Statistik dalam rilisnya yang memuat berita resmi tentang pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan pengangguran. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi selama tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 2,07 persen dibandingkan tahun 2019.

Sejalan dengan ekonomi yang menurun, peningkatan terjadi pada indikator pengangguran dan kemiskinan. Tahun 2020 periode Agustus tercatat pengangguran Indonesia mencapai 7,07 persen, meningkat 1,84 persen poin dibandingkan Agustus 2019. Kemiskinan juga tak luput dari dampak hantaman pandemi. Pemerintah telah berupaya menghambat laju kemiskinan dengan memberikan stimulus bantuan kepada masyarakat melalui program yang dikenal dengan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Namun laju kemiskinan akibat pandemi ternyata lebih besar daripada upaya pemerintah untuk meredamnya, sehingga tahun 2020 Badan Pusat Statistik mencatat terdapat sekitar 27,55 juta penduduk miskin atau setara dengan 10,19 persen penduduk Indonesia. Kemiskinan September 2020 mengalami peningkatan sekitar 0,97 persen poin dibanding September 2019.

Kondisi perekonomian Indonesia yang terpuruk selain tergambar pada pertumbuhan ekonomi yang negatif, juga dapat dilihat dari kondisi neraca perdagangan Indonesia saat itu. Posisi neraca perdagangan pada setidaknya dua tahun sebelum pandemi berada pada kondisi net impor, artinya besaran nilai impor lebih besar daripada ekspor.

Memasuki tahun 2020, Indonesia menghasilkan kinerja ekspor yang lebih besar daripada besaran impor yang dilakukan sehingga menempatkan neraca perdagangannya mengalami posisi surplus pada waktu itu. Ekspor Indonesia 2020 mencapai 163 juta US$ dan impor mencapai lebih dari 141 juta US$.

Terlepas dari permasalahan pandemi, pemerintah sebetulnya memang sangat menginginkan perekonomian nasional mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Kondisi neraca perdagangan yang berada pada posisi surplus ini memberikan informasi bahwa terdapat pengurangan nilai impor yang sangat besar sehingga dapat membalik arah neraca perdagangan yang pada sebelumnya tahun 2019 masih mengalami net impor. Baguskah kondisi ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dilihat dulu struktur atau komposisi barang-barang yang diimpor oleh Indonesia. Lebih dari 70 persen impor Indonesia didominasi oleh bahan baku/penolong untuk kegiatan memproduksi suatu barang lainnya. Selanjutnya, porsi terbesar kedua impor Indonesia setelah bahan baku adalah barang modal yang juga digunakan pada kegiatan ekonomi. Porsi barang modal mengambil peran lebih dari 15 persen pada komposisi impor Indonesia. Pada tahun 2020, kedua jenis barang konsumsi ini mengalami penurunan yang sangat besar. Sisanya merupakan barang impor yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi.

Melihat proporsi struktur barang-barang impor ini, dapat tercermin bahwa kondisi perekonomian di tahun 2020 memang sedang lesu dan mengalami penurunan. Bahan baku dan barang modal yang dapat digunakan sebagai mesin produksi kegiatan ekonomi yang mengalami penurunan menjadi indikasi bahwa kegiatan produksi pada tahun tersebut memang tengah mengalami pelemahan. Jadi, penurunan nilai impor yang besar juga perlu diwaspadai sebagai indikasi atas lesunya perekonomian saat itu.

Pada tahun 2017, Indonesia juga pernah mengalami kondisi net ekspor. Namun saat itu ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh positif di atas 5 persen (5,07%). Nilai impor juga pada tahun 2017 juga masih mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya, namun peningkatan nilai impor mampu ditutupi oleh peningkatan ekspor yang juga terjadi di tahun tersebut.

Kondisi tahun 2020 terjadi sebaliknya, ekspor Indonesia mengalami penurunan. Namun penurunan ekspor di tahun 2020 ini masih tertutupi oleh penurunan impor yang jauh lebih dalam sehingga terjadi net ekspor juga di tahun 2020. Lantas bagaimana kondisi di tahun 2021?

Memasuki awal tahun 2021, Indonesia masih berada pada posisi net ekspor. Badan Pusat Statistik mencatat pada bulan Januari dan Februari 2021 terjadi lagi net ekspor masing-masing 1,96 juta US$ dan 2 juta US$. Ekspor masih mengalami peningkatan dibandingkan Januari-Februari 2020, namun impor juga mengalami penurunan utamanya di bahan baku dan barang modal.

Kondisi ekonomi tahun 2021 selanjutnya diharapkan dapat membalik arah mesin ekonomi Indonesia yang tadinya menghasilkan kelesuan ekonomi menuju ke arah pertumbuhan ekonomi yang positif dengan berbekal pembelajaran ekonomi yang sudah ditakar di tahun 2020 dengan ekspor yang masih tumbuh positif.

Tita Rosy Statistisi ahli madya BPS Prov. Kalsel

Lihat juga Video: Airlangga Klaim Pemulihan Ekonomi RI Selama Pandemi Covid-19 Telah V-Shape

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)