Kolom

Nasib Hotel di Bali Eks Isolasi Pasien Covid

Bagus Septian - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 13:05 WIB
Hotel-hotel Bali bertabur promo di akhir tahun. Salah satunya adalah Fashion Hotel Legian. Nah lho, penasaran?
Sebuah hotel di Legian, Bali 'banting harga' karena pandemi (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta - Pulau Bali merupakan salah satu dari banyaknya kawasan wisata yang terdampak pandemi Covid-19. Dilansir dari situs Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi lapangan usaha di sektor pariwisata Bali pada 2020 terkontraksi sebesar 9,31% (y-o-y), transportasi dan pergudangan sebesar 31,79%, serta penyediaan akomodasi dan makan-minum sebesar 27,52%.

Kunjungan wisman ke Bali sudah anjlok di kisaran 50-100 kunjungan per bulan sepanjang 2020 dari 400-500 ribu kunjungan per bulan pada 2019. Bahkan pada musim liburan, kunjungan wisman bisa mencapai hingga 600 ribu kunjungan per bulan. Selain itu, rata-rata lama menginap wisman di Bali hanya 3 hari pada 2020 yang mana tergolong rendah. Hal ini mempengaruhi bisnis perhotelan di Bali yang pada 2020 tentu mengalami penurunan okupansi yang drastis.

Penurunan okupansi hotel merupakan dampak dari penurunan wisatawan yang menggunakan hotel di saat pandemi. Di sisi lain, peningkatan kasus positif Covid-19 di Provinsi Bali sejak awal Januari 2021 telah menimbulkan tekanan pada tempat isolasi perawatan di rumah sakit dan tempat karantina. Demikian juga dengan Bed Occupancy Ratio (tingkat keterisian tempat tidur) di 58 rumah sakit perawatan Covid-19 juga terus mengalami peningkatan.

Pemerintah Provinsi Bali membutuhkan banyak shelter untuk merawat pasien Covid-19 kategori OTG-GR, sehingga muncul inisiatif pemilihan hotel sebagai sarana perawatan pasien. Kebutuhan yang tiba-tiba muncul tersebut serta dibarengi dengan penurunan wisatawan yang menggunakan hotel menjadi sebuah win-win solution antara pihak pemerintah dan pihak hotel jika prosesnya berjalan sesuai dengan ketentuan atau yang direncanakan.

Biaya dan Stigma

Jumlah hotel hingga Februari 2021 yang digunakan oleh pemerintah sebagai tempat karantina mencapai 15 hotel dengan pembiayaan menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) BNPB hanya sampai 28 Februari 2021. Berdasarkan hasil rapat koordinasi secara daring antara Sekretaris Satgas Covid-19 Bali dan Satgas Kabupaten dan Kota di seluruh Bali diputuskan bahwa seluruh kabupaten di Bali telah menyanggupi kelanjutan biaya hotel karantina menggunakan dana APBD.

Selain itu, terkait keresahan para pihak hotel mengenai total tunggakan biaya hotel sebesar Rp 30 miliar yang belum dibayarkan oleh pemerintah telah menemukan titik temu meskipun belum sepenuhnya dilakukan pelunasan. Sampai saat artikel ini selesai dibuat, Satgas Covid-19 baru berhasil melunasi tunggakan hotel sebesar Rp 10 miliar, atau dengan kata lain sisa tunggakan yang belum dibayar mencapai 66.67%.

Pemerintah hendaknya segera melunasi sisa tunggakan hotel agar pihak hotel bisa menutupi biaya operasional dan beban umum administrasi saat hotel beroperasi di masa pandemi. Sementara itu, dari sisi stigma masyarakat, hasil penelitian menunjukkan bahwa hotel yang digunakan sebagai tempat isolasi pasien Covid-19 berpengaruh terhadap preferensi wisatawan untuk menyewa penginapan di Bali.

Kesediaan wisatawan untuk menggunakan hotel tersebut sebagai akomodasi selama berkunjung ke Bali menunjukkan hasil yang sejalan dengan pandangan mereka terhadap hotel tersebut, yaitu takut tertular sehingga sebagian besar menyatakan tidak bersedia menginap di hotel yang pernah digunakan sebagai tempat isolasi pasien Covid-19. Hal ini tentu saja berdampak pada tingkat kunjungan hotel tersebut yang akhirnya menyebabkan pendapatan hotel diprediksikan menurun.

Berdasarkan kuesioner yang telah dibagikan kepada 100 responden secara acak, diketahui bahwa 72% atau 72 responden memiliki pandangan takut tertular apabila menyewa hotel yang digunakan sebagai tempat isolasi pasien Covid-19. Sementara, 26% atau 26 responden memiliki pandangan biasa saja (aman), dan 2% atau 2 responden merasa tertantang dan penasaran.

Selain karena tingkat kunjungan yang diproyeksikan menurun, hal tersebut diperparah dengan adanya kenaikan biaya operasional hotel selama masa pandemi yang harus menerapkan protokol kesehatan. Demi meyakinkan para tamu sebagai pengunjung hotel, pihak hotel hendaknya mengiklankan diri bahwa pihak hotel telah menerapkan protokol kesehatan sehingga aman disewakan kepada masyarakat umum tanpa harus ada rasa kekhawatiran akan tertular Covid-19.

Selain itu, demi menarik minat pengunjung, pihak hotel hendaknya memberikan insentif berupa promo/diskon tarif kamar hotel selama menginap.

Tonton juga Video: Keterisian Hotel untuk Isolasi Mandiri Pasien Corona di DKI Tembus 90%

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)