Kolom

Memulihkan Kesehatan Mental Siswa Pasca-PJJ

Lita Edia Harti - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 14:27 WIB
Uji coba sekolah tatap muka di SMK 15 Jakarta (Foto: Tiara/detikcom)
Uji coba sekolah tatap muka di SMK 15 Jakarta (Foto: Tiara/detikcom)
Jakarta - "Aduuuh, coba ya...jangan belok dong, Nak!" Sudah kesekian kali saya memberikan teguran dengan sedikit bercanda. Istilah "belok" adalah istilah buatan saya yang menunjukkan mereka melipir dari kelas online-nya ke platform sebelah yang sedang memutar film favoritnya.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah dimaklumi bersama oleh "emak-emak" sejagad raya; banyak sekali dramanya. Saya termasuk yang mengalaminya bolak-balik. Ada saja cerita para bocah ini. Sejauh ini sih saya lebih banyak merespons dengan tawa saja. Bukan saya tidak risau, hanya saya pikir, kondisi saat ini sulit untuk semua, termasuk untuk anak-anak kita. Haruskah saya tambah beban mereka dengan marah-marah?

Mereka pun sering mengalami tertinggal tugas, tidak mengumpulkan, lembar kerja terselip dan hilang. Malu? Ya, tentu saja, sering malu, dan kasihan juga kepada guru. Namun saya memposisikan diri sebagaimana mereka sedang sekolah normal, dalam arti menempel anak-anak ketika mereka sedang belajar online.

Kenapa saya lebih banyak memberikan umpan balik dengan memperbanyak humor? Kenapa saya juga lebih memberikan mereka kesempatan untuk mengeksplorasi potensi lain selain akademik? Karena saya pikir kesehatan mental anak-anak jauh lebih penting daripada pencapaian akademiknya saat ini.

Pencapaian akademik mudah untuk dikejar nanti pascapandemi, tapi memulihkan kesehatan akibat luka pengasuhan jauh lebih sulit.

Oleh karenanya, saya sangat antusias untuk lebih menghargai munculnya keterampilan lain selain akademik, seperti menghabiskan banyak judul buku untuk dibaca, menulis berlembar-lembar cerita, menggambar berlembar-lembar komik, semangat membantu ibu mereka membereskan rumah, dan lainnya.

Drama-drama yang saya alami saat PJJ dan juga saya dengar dialami oleh anak-anak lain membuat saya sebagai pimpinan di sekolah teringat pada persiapan kami terkait tahun ajaran baru.

Sesuai dengan adanya sinyal dari Menteri Pendidikan bahwa sekolah bisa tatap muka jika program vaksin untuk guru sukses, maka kami mulai bersiap-siap. Guru sudah siap dengan mengikuti program yang diselenggarakan. Kami sebagai pihak sekolah tinggal menunggu instruksi selanjutnya. Terlepas dari seperti apa model pembelajaran tatap muka yang akan dilakukan, kami siap menyambut siswa-siswa kami dengan penuh suka cita.

Kesehatan Mental

Adalah sebuah fakta bahwa sebagian besar anak memiliki jam tatap layar lebih panjang dari sebelum pandemi. Masalahnya adalah berapa banyak orangtua yang terampil mengelola hal tersebut?

Jika menyimak keluhan orangtua dalam forum-forum belajar para emak, saya mengasumsikan bahwa tidak banyak orangtua yang terampil membantu anak mengelola penggunaan gawainya untuk hal positif dan memberi batasan yang jelas pada anak terkait layar ini.

Saya bayangkan anak akan tergagap saat masuk sekolah. Bukan hanya dalam hal akademik, namun juga dalam hal perilaku, seperti rentang konsentrasi, minat belajar, kedisiplinan, kemandirian, dan regulasi emosi. Karena penggunaan gawai dengan durasi yang panjang dalam keseharian anak membuat anak kurang terstimulasi panca inderanya. Hal ini bagaimanapun cukup menghambat tumbuh kembang anak, baik aspek motorik, bahasa, sosial, dan emosi.

Sebagai catatan, persoalan gawai ini hanya satu dari sekian masalah yang anak alami selama pandemi. Ada banyak masalah lain, seperti kehilangan anggota keluarga, kesulitan keuangan keluarga, luka pengasuhan, konflik keluarga, dan perceraian orangtua.

Peran Sekolah

Pasca-PJJ, diharapkan sekolah cukup sabar dalam memulihkan kesehatan mental anak. Jangan terburu-buru untuk mengejar pencapaian akademik. Mengapa?

Pada dasarnya, kita sebagai pendidik perlu memahami bahwa pandemi ini adalah bencana nasional. Pemerintah tentu tidak begitu saja mengkategorikan pandemi sebagai bencana, dan kemudian ditangani Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hal ini dikarenakan pandemi memang memberikan dampak luar biasa baik secara fisik maupun psikologis. Bukan hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga kepada finansial dan juga pada kondisi psikologis masyarakat, termasuk anak-anak.

Kita saja, sebagai orang dewasa harus berjuang menjaga diri agar tetap sehat mental, apalagi anak-anak yang masih sangat perlu bimbingan dan bantuan, ya kan?

Mari mulai sambut anak-anak dengan memperbanyak kesempatan mereka untuk bergerak. Sediakan aktivitas motorik yang menyenangkan bagi mereka. Jika kondisi masih new normal, tentu sekolah perlu merancang kegiatan tersebut dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

Bimbingan terkait regulasi emosi sangat diperlukan oleh anak-anak. Kita dapat mengenalkan berbagai jenis emosi pada anak melalui metode yang sesuai dengan perkembangan anak. Lalu mengajak anak mengenal emosi yang mereka rasakan, dan memperkenalkan cara-cara agar mereka bisa mengalirkan

Beri kesempatan anak untuk melakukan proses self healing. Mengajak mereka dalam aktivitas seni seperti menggambar bebas, atau membuat prakarya kreatif akan membantu anak untuk rilis emosi yang mereka alami. Akan lebih baik jika anak-anak diajarkan berbagai teknik self healing lainnya, seperti menulis buku harian, dan berbagai macam teknik relaksasi.

Sederhananya, ajaklah anak-anak untuk banyak bermain terlebih dahulu dengan jenis permainan yang disesuaikan dengan usia anak. Pilihlah permainan yang melibatkan anak untuk bergerak, dan berteriak melepas ekspresi emosi dengan spontan. Diharapkan dengan permainan tersebut, anak belajar bahwa mengelola emosi negatif tidak selalu harus dengan bermain game online atau menonton film dalam waktu yang terlalu lama, seperti yang sering anak lakukan selama PJJ ini.

Menyiapkan Guru

Pihak pimpinan sekolah perlu memberikan edukasi kepada guru, sekaligus memberikan ketenangan kepada mereka bahwa sebelum sekolah memicu pencapaian akademik, penting sekali untuk memulihkan kesehatan mental anak lebih dahulu. Karena kesehatan mental ini pada dasarnya akan mempengaruhi keterampilan belajar anak.

Rentang konsentrasi, daya ingat, dan daya tangkap anak sangat dipengaruhi oleh kondisi emosi anak. Semakin dominan emosi positif dalam diri anak, mereka akan semakin terampil dalam belajar.

Karena tugas guru pasca-PJJ ini lebih ke memulihkan kesehatan mental anak, maka sebagai pimpinan sekolah kita perlu memperhatikan kondisi emosi guru. Bagaimana guru bisa mengalirkan emosi positif pada anak, jika ia tidak memiliki emosi positif tersebut kepada anak?

Ajaklah guru untuk rileks dengan aktivitas yang menyenangkan. Ajak mereka untuk bersenang-senang dalam sebuah aktivitas bersama, lebih baik lagi jika ada hadiah-hadiah yang walaupun sederhana, namun berkesan untuk mereka.

Semoga semua upaya ini bisa memulihkan kesehatan mental para siswa, dan mereka dapat kembali antusias untuk belajar dengan baik.

Lita Edia Harti, S.Psi Direktur Sekolah RA dan SDIT Amal Mulia Depok


Simak video 'Banyak Wali Murid Ragu Sekolah Tatap Muka, Wagub Riza: Tak Kita Paksa':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)