Jeda

Ular Piton, "Ikatan Cinta", dan Suka-Duka Ketua RT

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 04 Apr 2021 12:10 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Empat bulanan ini saya sedang terlibat dalam sebuah proyek dengan lima orang teman. Seminggu sekali kami mengadakan pertemuan daring via Zoom. Tiap hari kami tetap koordinasi melalui grup WhatsApp. Nah, ada satu teman kami yang kalau diajak zooming pasti telat. Saya perhatikan semenjak bapaknya menjabat sebagai Ketua RT, ia jadi ikutan sibuk.

"Maaf teman-teman, baru gabung. Tadi harus menenangkan warga kampung. Daffa bikin ulah lagi," sapa dia setelah bergabung dalam forum.

Saya dan empat teman lainnya masih roaming dengan ceritanya. Sekian cerita yang sering ia sampaikan pada kami, sepertinya ia belum bercerita apapun tentang Daffa.

"Siapa Daffa? Anak perumahan? Emang senakal apa kok bisa bikin geger warga?" tanya seorang teman.

"Oh, nganu, Daffa itu peliharaannya tetanggaku, Mbak. Seekor ular piton. Ada dua saudaranya lagi, namanya Quenshaa dan Shalsabella. Gede banget, Mbak. Setiang listrik itu ada kayaknya."

Teman saya misuh-misuh. Ular piton diberi nama seperti Daffa, Quenshaa, Shalsabella. Padhakke cah perumahan wae. Saya membayangkan Daffa, Quenshaa, dan Shalsabella ini adalah balita dan anak PAUD yang lagi aktif-aktifnya, Bund.

"Daffa, ayo pulang. Maem dulu."

"Quenshaa, bobok siang dulu."

"Shalsa, mandi yuk."

Bayangkan, kita menyuruh makan tapi malah kita yang dicaplok. Atau kita tidur, tapi belum sempat bangun karena sudah berada di perut "anak-anak imut" itu. Bukan bermaksud menyinggung pecinta reptil ya. Hanya saya masih asing dengan nama-nama itu dijadikan nama peliharaan berwujud ular piton. Karena bagi saya ular piton bukan peliharaan. Apalagi saya yang takut dengan ular mau bagaimanapun bentuknya. Padahal kalau dipikir, ya sah-sah saja menamakan peliharaan dengan nama apa saja. Seperti anjing teman saya yang diberi nama Anton dan Siti. Atau kucing saya yang saya beri nama Boy.

Teman saya tadi bercerita bahwa warga kampung mengepung rumah pemilik piton tersebut. Mereka mengancam akan menyate tiga ular itu seperti Baru Klinthing (tokoh ular dalam legenda Rawa Pening) kalau ular-ular tersebut tidak segera dipindahkan dari kampung tersebut. Masalahnya tiga ular itu sering lepas dan masuk ke rumah warga. Ada warga yang terkena serangan jantung karena tiba-tiba bangun tidur, Daffa sudah cosplay jadi guling. Atau, tiba-tiba nongkrong santuy di teras tetangga.

Sebenarnya warga tidak menyalahkan ularnya, tapi pemiliknya yang teledor. Nah, masalah seperti ini tentu saja melibatkan Ketua RT. Skill diplomasi, negosiasi, dan penguasaan emosi sungguh dipertaruhkan.

Saya jadi paham, Ketua RT ini memang banyak sekali urusannya, apalagi kalau ada ribut-ribut antarwarga. Kata teman saya ketika pemilihan Ketua RT, bapaknya tidak datang, jadilah bapaknya yang dipilih menjadi Ketua RT yang baru. Saya curiga, kakak saya yang juga menjadi Ketua RT dulunya terpilih karena ia tidak hadir rapat.

Saya pernah berkunjung ke rumah kakak saya yang kebetulan warganya ada yang berselisih. Mereka memilih berunding di emper rumah Ketua RT. Saya menyimak debat mereka dari dalam rumah sambil makan camilan. Nah, ini yang lucu, sepanjang mereka berselisih, bisa-bisanya konsisten memakai krama inggil (bahasa Jawa halus), termasuk ketika marah-marah. Saking seriusnya menyimak geger gedhen tersebut, sampai tidak sadar kalau yang saya makan bukan makaroni asin, tapi pelet ikan. Sudah habis setengah lagi! Pantas saja ada amis-amisnya.

Saya selalu ngakak kalau teman saya sudah cerita soal aktivitas bapaknya menjadi ketua RT. Masa pensiun yang apes, kata teman saya. Mau hidup tenang malah jadi Ketua RT. Bapaknya adalah tipe bapak-bapak gaptek yang baru belajar memakai telepon pintar. Dari teman itu, saya jadi tahu ada grup WhatsApp Ketua RT sedesa. Tak jarang teman saya yang membalas obrolan di sana. Dari obrolan masalah sengketa warga, menentukan jimpitan, jadwal ronda, gosip, tukar menukar tips menghadapi warga, sampai joke bapak-bapak yang wagu banget.

Gara-gara teman saya yang lucu kalau bercerita, kami sampai ketagihan dengan cerita-cerita yang ia sampaikan. Bahkan ketika ia muncul di grup WhatsApp atau rapat di Zoom, bukan kabar dia yang kami tanyakan, tapi bapaknya. Pernah ia jengkel karena sandal gunung miliknya ditukar orang dengan sandal jepit buluk ketika dipakai bapaknya untuk berangkat salat jamaah di masjid. Belakangan ketahuan pelakunya adalah tetangganya yang jengkel karena tidak diberi izin menutup jalan utama untuk panggung dangdutan. Pernah juga kaca rumahnya dilempar orang dengan batu karena orang tersebut tidak diberi izin menginap di kampungnya oleh bapaknya.

Lama-lama kami terbiasa dengan keterlambatan teman kami gabung dalam forum rapat. Ketika kemarin ia terlambat lagi, kami kompak bertanya, "Ngapain lagi? Daffa lagi?"

"Bukan, Mbak. Tadi sibuk nyari genset. Warga protes sama bapak karena tempat kami mati lampu menjelang sinetron Ikatan Cinta main. Nggak mau tahu pokoknya mereka, listrik harus nyala."

Saya bengong. Saya kira berita semacam itu hanya ada di jauh-jauh sana. Ternyata di tempat teman saya juga begitu. Kalau di tempat saya paling warga protes kalau diajak pertemuan di saat jam tayang Ikatan Cinta. Oh ya, saya pernah di-WA tetangga saya di kampung sana kalau ada warga di kampung sebelah yang geger gara-gara ketika mipil jagung sambil nonbar Ikatan Cinta, salah satu ibu-ibu pe-mipil jagung itu gemas dengan tokoh Elsa. Dilemparlah jagung itu ke TV tabung tetangganya. Entah tenaga ibu-ibu itu memang kuat atau TV-nya yang sebenarnya sudah minta pensiun, pecahlah layarnya. Tentu saja hal ini membuat geger. Pemilik TV marah, selain karena TV-nya rusak, juga menghentikan tayangan sinetron Ikatan Cinta dengan terpaksa. Akhirnya Pak RT harus turun tangan meredamkan konflik.

Tapi tidak selalu cerita ngenes yang dibagi teman saya. Kapan itu bapak teman saya dapat ater-ater makanan dari tetangganya. Sekumpulan ibu-ibu PKK merangkap penggemar Ikatan Cinta. Mereka syukuran karena Mas Al dan Mbak Andin tidak jadi cerai. Selain itu sebagai ucapan terima kasih pada Pak RT yang sudah membawa genset ke kampung sehingga mereka tetap bisa menonton Mas Al dan Mbak Andin. Saya memang membaca berita di internet soal ibu-ibu yang syukuran atas rujuknya Mas Al dan Mbak Andin. Sekali lagi, saya kira, hal itu terjadi di tempat yang jauh di sana. Ternyata di kampung teman saya juga terjadi. Saya pikir Mas Al dan Mbak Andin seharusnya berterima kasih pada Pak RT ini.

Karena sering membantu bapaknya untuk urusan warga, dari urusan surat menyurat, pemilu, sampai pembagian BLT, banyak orang yang menaruh perhatian padanya. Ia yang mulanya tidak terlalu terkenal, mendadak sering disapa orang ketika belanja di warung, lari pagi, atau mengurus sesuatu di kantor kelurahan. Bahkan Pak Lurah sempat mau menjodohkan anaknya dengannya. Popularitasnya sebagai anak Pak Erte yang ganteng memang bukan kaleng-kaleng. Pernah kami berkunjung ke rumahnya dan menemui ada satu-dua warga yang minta stempel surat. Semuanya gadis-gadis cantik di kampungnya yang hanya beralasan untuk bertemu dengannya. Kami geleng-geleng, tapi sebagai temannya jujur saja kami juga sering memasrahkan urusan yang melibatkan apapun soal birokrasi karena ia lebih ahli dalam urusan stempel.

Dengan berbagai tugas berat Ketua RT sebagai pelayan masyarakat, saya berpendapat kalau sebaiknya pejabat-pejabat tinggi itu sebelum memimpin harus magang dulu jadi Ketua RT. Biar merasakan mumetnya mengurus ular piton atau mencari genset menjelang injury time penayangan sinetron Ikatan Cinta. Saya jadi teringat dulu ketika diajak muter-muter teman saya di kampung halamannya, sebuah kabupaten di Jawa Timur, dan saya kagum dengan penataan kota dan pelayanan admistrasi kantornya, saya pun memuji, "Bupatimu benar-benar keren ya, nggak cuma di berita."

Sekarang saya jadi mikir, jangan-jangan dulu Pak Bupati adalah Ketua RT.

Gondangrejo, 02 April 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)