Kolom

Jumat Agung dan Pilatus yang Linglung

Andreas Zu - detikNews
Sabtu, 03 Apr 2021 12:15 WIB
Umat Kristiani melakukan ibadah Jumat Agung di Gereja Salib Suci Paroki Cilicing, Jakarta Utara, Jumat (2/4/2021). Mereka beribadah dengan khidmat.
Ibadah Jumat Agung di Gereka Salib Suci (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Pontius Pilatus meradang. Ia bingung. Ia tak menemu kesalahan Sang Rabi itu. Orang Yahudi menyeret "rabi perusuh" itu dengan tuduhan menyamakan diri dengan Allah. Tapi, apakah itu kesalahan yang diperhitungkan oleh hukum Romawi? Tidak. Itu tak ubahnya persoalan intern geng keagamaan Yahudi. Lalu, bagaimana supaya bisa menjatuhkan hukuman mati yang sesuai dengan hukum Romawi?

Pilatus tak kurang akal. Dituliskanlah INRI di atas Salib Yesus. INRI: Iesus Nazarenus Rex Iudaerom, "Yesus orang Nasareth, Raja Orang Yahudi" Dengan tulisan itu, Pilatus tampak sah menghukum mati Yesus karena Ia mengangkat diri sebagai Raja Yahudi. Mengangkat diri sebagai Raja Yahudi berarti menolak pemerintahan Kaisar Romawi yang menjajah Yahudi. Tulisan itu menjadi pembenar atas tindakan keji itu. Tampak di sini Yesus disalib karena Pilatus takut membela kebenaran.

Takut Membela Kebenaran

Takut membela kebenaran adalah salah satu penyakit masyarakat kita. Tak berani bicara jujur, karena takut teman tidak suka. Tak berani bicara apa adanya karena takut dikucilkan. Apalagi, ditambah budaya ewuh-pekewuh, belum lagi budaya ethok-ethok.

Antarteman takut bicara kebenaran. Di lingkungan kerja, saling memaklumi adalah sebuah kebiasaan. Pejabat takut menyampaikan kebenaran karena elektabilitas dipertaruhkan. Intitusi peradilan ragu-ragu mengetuk palu keadilan karena membabi butanya tekanan. Kita menjadi pilatus-pilatus baru, pecundang asal selamat.

Kebenaran yang ditolak kadang membawa akibat yang runyam. Kalahnya kebenaran membawa golgota kepada mereka yang terpinggirkan. Mungkin di relung hati kita pernah bertanya: sampai kapan "aksi kamisan" berhenti menuntut keadilan dan mengetuk kebenaran? Entah sampai kapan tanah Papua berteriak memprotes ketidakadilan. Entah sampai kapan tragedi-tragedi kemanusiaan terus tidak diselesaikan. Adakah kita bisu membela kebenaran?

Kebenaran yang Disalibkan

Dalam kacamata iman Katolik, wafat Yesus Kristus adalah penebusan dosa. Allah mengasihi manusia hingga mengorbankan putra tunggal-Nya. Yesus mengembalikan Firdaus yang hilang sejak Adam-Hawa jatuh ke dalam dosa. Allah Bapa menerima ketaatan putra-Nya dengan membangkitkan-Nya pada hari ketiga.

Mengembalikan Firdaus berarti mengembalikan segala sesuatu yang tercipta harmonis. Bukankah dalam Kitab Kejadian disebutkan semua diciptakan baik adanya? Wafatnya yang tampak sebagai tenggelamnya kebenaran nantinya akan dibalaskan dalam kebangkitan. Firdaus baru menjadi tempat yang lapang akan kebenaran.

Kematian memang memilukan sekaligus menakutkan. Ia menghantui manusia. Dalam kacamata lain, ketika Pilatus plin-plan, kita bisa melihat kebenaran tampak mati. Ia pilu dihajar dengan sadis. Kita disuguhkan tragisnya hidup manusia. Kita dipertontonkan muramnya nasib kebenaran. Namun, setelah tiga hari, nanti kita akan melihat, Ia dibangkitkan dengan segala kebenaran-Nya.

Mengenang Sang Kebenaran

Jumat Agung adalah momen khusus bagi umat Kristiani untuk merenungkan kasih Allah yang mencintai manusia tanpa sisa. Ia mencintai dengan sepenuh-penuhnya. Kayu salib dan puncak golgota adalah jalan mengasihi manusia. Itulah kebenaran utama.

Yesus akan mengatakan dengan lantang, "Sudah selesai." Iya, ketaatan-Nya kepada Bapa sudah sampai akhir. Iya, jalan mengasihi manusia sudah tuntas. Iya, jalan penebusan sudah sempurna. Itulah kebenaran yang makin tersingkapkan dalam terang kebangkitan. Yesus menghidupi kebenaran dengan kesungguhan. Ia tidak pernah ragu melangkah dalam kebenaran.

Sekali lagi, kita diingatkan kisah dalam Injil. Dalam pengadilan itu, Pilatus bercakap dengan Yesus. Pilatus bertanya, "Jadi, Engkau adalah Raja?"

Jawab Yesus, "Engkau mengatakan bahwa Aku adalah Raja. Untuk itulah, Aku datang ke dalam dunia, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran, setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku."

"Apakah kebenaran itu?" tanya Polatus

Pertanyaan Pilatus adalah pertanda bahwa baginya kebenaran tidak pernah jelas. Bagaimana mungkin dia dapat membela kebenaran kalau kebenaran yang sejati tidak diketahuinya?

Iya, kebenaran harus dipegang supaya dapat dibela kuat-kuat. Semoga kita bisa mengenang kasih Sang Kebenaran itu, menyimpan rapat dalam hati, dan menjadi dasar supaya kita berani menyuarakan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat Jumat Agung!

Andreas Zu Imam Katolik

Simak video 'Paskah di Masa Pandemi, Menag Imbau Umat Kristiani Tetap Taat Prokes':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)