Kolom

Suara dari Kampung Menimbang Sekolah Daring

Ridwan Hasyimi - detikNews
Rabu, 31 Mar 2021 11:00 WIB
Sejumlah adaptasi dilakukan di masa pandemi COVID-19. Salah satunya melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring guna cegah penyebaran virus Corona.
Seorang guru di Tangerang sedang mengajar
Jakarta - Sejak pandemi menerjang, sekolah tatap muka ditiadakan. Sebagai penyiasatan, sekolah migrasi ke dunia maya alias sekolah dalam jaringan (daring). Baru-baru ini Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa sekolah akan dibuka kembali asalkan seluruh guru dan pegawai sekolah sudah divaksin. Sementara, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan, sekolah tatap muka akan dibuka secara bertahap mulai Juli 2021.

Hal ini tentu disambut baik meski banyak juga yang tidak setuju. Mereka yang tidak setuju menganggap kebijakan ini terlalu terburu-buru mengingat grafik Covid-19 Tanah Air belum kunjung menurun. Anak-anak masih sangat berisiko terpapar sebab laju penularan belum sepenuhnya dapat dikendalikan.

Yang setuju juga punya argumennya. Sekolah daring telah membawa sekian dampak buruk bagi siswa, orangtua, maupun guru. Sudah banyak orangtua, guru, maupun siswa yang mengeluhkan repotnya Kegiatan Belajar Mengajar model seperti ini. Apalagi buat siswa tingkat Sekolah Dasar; yang belajar bukan cuma siswa, melainkan orang tuanya juga. Alhasil, karena harus menemani anak belajar daring, banyak pekerjaan orangtua yang terbengkalai yang berpotensi meningkatkan potensi stres bagi orangtua.

Belum lagi soal kondisi dan pendidikan mental anak-anak. Bagi anak-anak, sekolah bukan hanya tempat mempelajari ilmu-ilmu, melainkan ruang bermain dan bersosialisasi dengan sesamanya. Dari sekolah (tatap muka) ia tidak hanya belajar bagaimana pembagian bekerja dalam matematika, tapi juga belajar bagaimana nikmatnya berbagi jajanan dengan sesama. Anak tidak hanya belajar soal toleransi dan tenggang rasa ala Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, tapi juga dapat langsung mempraktikkannya dengan teman atau guru yang "berbeda" dengannya.

Tapi, sekolah daring juga tidak sepenuhnya buruk. Jika menggeser atau memperluas sudut pandang, ada juga sisi baiknya. Misalnya, anak jadi lebih sering berada di rumah. Keluarga punya waktu lebih banyak untuk berkumpul bersama. Orangtua lebih tahu sejauh mana perkembangan kecerdasan dan kemampuan anak. Bagi ayah dan ibu yang biasanya menerima laporan perkembangan anak tiap enam bulan sekali, kini bisa "lebih mengenal" anaknya sebab melihat proses belajarnya, bahkan terlibat secara langsung tiap harinya.

Hal ini penting untuk meluruskan status sekolah. Sekolah bukanlah pabrik pencetak "anak pintar". Bukan pula lembaga pengasuhan anak. Dengan memasukkan anak ke sekolah, orangtua tidak otomatis terbebas dari tugas mendidik anak. Apalagi dengan kurikulum pendidikan terbaru di mana guru sebatas bertugas sebagai fasilitator, orangtua khususnya dari anak-anak usia Sekolah Dasar masih harus "ikut sekolah".

Kondisi ini memang tidak mudah. Orangtua dituntut selalu memperbaharui pengetahuannya demi berada satu frekuensi dengan anak. Apa yang dulu dipelajari orangtua ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kini telah diajarkan di Sekolah Dasar. Terlebih dengan kebaruan-kebaruan pengetahuan dan teknologi yang belum pernah dipelajari orangtua semasa sekolah dulu, dalam hal ini orangtua musti selalu up date. Sulitnya, hal ini harus dilakukan orangtua di tengah segala kesibukan kerja dan mengurus rumah tangga.

Internet memang membantu. Sebagian orangtua membolehkan anaknya untuk berselancar mencari berbagai informasi dan pengetahuan yang ia perlukan di dunia maya. Tapi orangtua juga perlu waspada dengan "liarnya" dunia maya. Kecuali jika selalu didampingi, oran tua tidak bisa sepenuhnya tahu apa yang dilihat anak di gawainya. Sejumlah platform memang menyediakan fitur khusus anak-anak, seperti Kids Space dari Google, misalnya.

Tapi yang namanya anak-anak punya rasa ingin tahu yang tinggi. Apa yang dilarang biasanya justru mengundang penasaran. Pada titik ini orangtua musti arif dalam memberi kebebasan mengakses internet pada anak. Di satu sisi anak musti diberi kepercayaan. Orangtua tidak harus berburuk sangka bahwa anak mengklik konten "aneh-aneh". Di sisi lain, waspada juga perlu. Atur agar anak hanya dapat mengakses informasi tertentu yang sesuai dengan usianya.

Bagi sebagian orangtua yang tinggal di kampung, kekhawatirannya pada "liarnya" dunia maya bukan satu-satunya persoalan. Di kampung, seperti tempat saya tinggal, jangankan mengklik konten "aneh-aneh", jaringan internet pun masih belum merata. Di sini, dan di banyak kampung lain, hanya ada satu provider yang sinyalnya dapat kami akses. Itu pun jauh dari kata high speed. Kuota gratis yang dibagikan pemerintah kadang kala masih tersisa banyak sampai habis masa aktifnya.

Ketika sekolah daring di sejumlah tempat dengan akses internet yang memadai dibuat semirip mungkin dengan sekolah tatap muka melalui aplikasi Zoom Meeting, Google Classroom, dan aplikasi semacamnya, di kampung saya sekolah daring tingkat Sekolah Dasar tidak lebih dari "setoran tugas" via WAG.

Pagi hari guru akan memberi materi plus tugas via WAG kelas. Anak diberi tengat sampai jam tertentu untuk mengerjakan dan menyetor tugasnya dengan cara mengunggah foto atau video tugas tersebut ke WAG. Seringnya, materi dan tugas hanya berupa perintah untuk membaca dan mengerjakan halaman tertentu pada buku paket atau Lembar Kerja Siswa (LKS).

Model seperti ini hanya salah satu varian dari sekolah daring. Model belajar demikian dilakukan atas banyak pertimbangan pihak sekolah. Kecuali soal jaringan internet, "ketidakakraban" anak-anak dan orang tua pada teknologi juga jadi pertimbangan lain.

Beberapa hari lalu, seorang guru muda di sekolah anak saya mengirim tautan Google Form ke grup WA orangtua siswa. Maksudnya agar memudahkan siswa mengisi daftar hadir dan mengunggah tugas. Tapi, sebagian orangtua justru protes sebab dianggap terlalu rumit dan bikin pusing.

Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Masa pandemi adalah masa darurat. Kenormalan baru bukan hanya memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan meminimalisasi mobilitas, melainkan juga mem-"baru"-kan aktivitas sehari-hari di rumah. Yang diguncang bukan hanya sistem dan metode pendidikan, tapi juga mental para orangtua, siswa, dan guru.

Dengan segala kendala, persoalan, kebaikan, dan keburukan sekolah daring, bagi kami yang tinggal di kampung, setidaknya sampai saat ini, sekolah tatap muka masih lebih baik. Kurva pandemi Tanah Air memang belum kunjung melandai, tapi segala ikhtiar terbaik telah kita lakukan. Apa yang direncanakan Mendikbud tentang pembukaan sekolah tatap muka Juli nanti semoga tidak harus terkoreksi lagi.

Ridwan Hasyimi orangtua siswa yang tinggal di kaki Gunung Sawal, Jawa Barat

Simak juga 'Mengintip 'Daring Ruang Riung' untuk Sekolah Online di Sukabumi':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)