Sentilan IAD

Ekstremisme dan Kemalasan Berpikir Rumit

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 30 Mar 2021 18:47 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta - Berdiri di hadapan banyak pilihan itu tidak gampang. Kita mesti memilih salah satu, namun di saat yang sama kita tahu bahwa pilihan yang lain masih ada. Situasi demikian membawa kita kepada kerumitan, dan berpikir rumit itu berat. Karena berat, hanya sedikit orang yang suka. Karena tak banyak orang suka dengan yang rumit dan pilihan yang banyak, yang simpel-simpel lebih mudah mendapatkan peminat.

Dan, puncak dari segala simplifikasi adalah pikiran-pikiran ekstrem. Maka, segala jenis ekstremisme pun muncul di muka bumi.

Saya tidak tahu, apakah teori saya barusan juga merupakan salah satu bentuk simplifikasi ekstrem. Bisa jadi iya, sebab saya pun punya potensi sangat besar untuk malas berpikir rumit. Tapi saya ingat, pernah suatu sore saya mendapatkan satu pengalaman spiritual terkait kerumitan ini.

***

Ceritanya, pundak saya tiba-tiba ditepuk seseorang. "Cari apa, Mas?" begitu dia tanya. Cari apa kau bilang? Saya kepingin menjawab bahwa di setiap detik dalam kehidupan, saya hanya mencari kebenaran sejati. Tapi saya paham, jawaban itu bikin rumit. Padahal, ketika pundak saya ditepuk itu, sesungguhnya yang saya cari memang bukan kebenaran, melainkan satu pilihan di antara belasan menu di warung nasi Padang.

Betul, saya berdiri terbengong-bengong cukup lama di depan jejeran menu enak-enak itu. Paling gampang sebenarnya saya ambil saja gulai tunjang. Tunjang di warung langganan saya itu terkenal empuk, selalu ada tulangnya, sehingga terjamin bukan tunjang-tunjangan hasil sulapan dari limbah pabrik jaket kulit seperti yang pernah saya tonton di liputan kriminal sebuah stasiun televisi.

Sialnya, di rak sebelah atas ada gumpalan putih penggoda iman, yaitu gulai otak. Tidak semua warung nasi Padang di Jogja menyediakan gulai otak. Langsung terbayang betapa gumpalan gurih itu lumer di mulut saya, dipadu dengan sambal ijo dan bumbu rendang, dan terciptalah after taste yang khas dan sulit dicari tandingannya. Ah, atau piring kecil di sebelahnya? Cumi isi telor, menu yang juga tak kalah ganas dalam menawarkan bujuk rayu nikmatnya dunia. Hmmm.

Lalu tiba-tiba ingatan saya diserang oleh lembar laporan dari laboratorium kesehatan yang belum lama saya datangi. Kolesterol saya masuk ke predikat severely high! Sontak, bayangan mengulum gulai otak, atau mengunyah gulai tunjang dan cumi-telor, membuat saya ingat bahwa saya masih ingin sehat, agar bisa terus hidup dan melanjutkan perjuangan pencarian kebenaran.

Saya pun menggeser pandangan ke menu-menu standar. Tongkol, kakap, telur balado, daging cincang, ayam pop. Saya mulai galau. Saya suka ikan, tapi ikan bakar saja. Kalau di warung Padang kok makan ikan, saya merasa kurang mantap. Legitnya racikan bumbu terlezat di dunia itu semestinya dipadu juga dengan yang legit-legit. Daging tongkol itu agak kering, seret saat ditelan, kurang sefrekuensi dengan pasangan bumbu-bumbunya. Ayam pop? Sebenarnya oke, tapi saya jadi teringat ayam krispi pinggir jalan yang biasanya jadi jajanan rutin anak saya. Rasanya tetap kurang berkelas.

"Cari apa, Mas?" Saya terhenyak. Pencarian kebenaran saya diinterupsi oleh Si Uda pemilik warung. Dia mungkin tidak paham bahwa perlu waktu kontemplasi yang cukup di hadapan banyak sekali pilihan. Dan saya mulai yakin bahwa nasi Padang adalah makanan yang sebenarnya hanya cocok bagi leissure class, orang-orang yang bisa meluangkan waktu untuk berpikir.

Itu tentu berbeda dengan pengalaman spiritual saya yang lain. Misalnya ketika jajan pecel lele, atau sate kambing. Di warung-warung itu, pilihan tidak banyak. Kalau mampir ke tenda pecel lele, selalu saya hanya beli lele. Buat saya, makan ayam atau bebek goreng di warung pecel lele adalah pelecehan atas spesialisasi. Begitu pula di warung sate kambing. Pilihan saya di situ hanya dua: sate kambing satu porsi, atau dua porsi sekaligus yaitu sate dan tongseng. Simpel. Saya tidak perlu membuang waktu dan energi untuk berkontemplasi.

Pilihan yang banyak memang rentan membuat kita lebih rumit dalam berpikir. Dan berpikir rumit itu berat, karena itu tak banyak orang suka. Saya tak hendak mengatakan bahwa tak banyak orang suka nasi Padang, tentu itu keliru. Tapi kebanyakan orang yang makan nasi Padang rasa-rasanya juga lebih memilih berpikir simpel saja, enggan yang rumit-rumit. Itulah kenapa menu terlaris di warung Padang tetap rendang dan rendang.

***

"Prof, dalam agama, bagaimana hukumnya Anu?" seseorang di antara jamaah pernah bertanya kepada profesor pakar Alquran itu.

Sang Profesor mengernyit sebentar, tampak berpikir keras. Kemudian dia menjawab dengan pelan. "E e e, ada... lima pendapat ulama terkait apa yang Anda tanyakan."

Kemudian Pak Prof memaparkan satu demi satu dari kelima pendapat itu. Detail, runtut, dan tergelar lengkap semuanya. Dia tidak mengatakan bahwa hanya satu saja dari kelimanya yang harus diikuti. Padahal dari kelima pendapat yang ia paparkan itu, ada dua menyatakan boleh, ada dua lagi menyatakan wajib dihindari, ada satu mengatakan haram. Selebihnya, dia menyerahkan keputusan kepada si penanya.

Sang Profesor memulai jawaban dengan mengernyit, dan akhirnya penanya yang mendengarnya lebih mengernyit. Dia sepertinya juga dipaksa untuk berpikir, sebab ada banyak pilihan di hadapannya. Jelas, kali ini pilihan itu lebih membingungkan, sebab urusannya dengan agama, dengan Tuhan, bukan cuma dengan kolesterol. Saya membayangkan, sampai ia meninggalkan forum, lalu pulang ke rumah, kernyitan di jidatnya itu belum betul-betul hilang.

Itu berbeda sekali dengan forum lainnya, yang pernah saya simak di suatu sore menjelang buka puasa Ramadhan.

"Ustazah, menurut Ustazah, kelompok X itu bagaimana?"

Tak perlu mengernyit dulu, Sang Ustazah menggenggam mikrofon dengan mantap, lalu menjawab dengan nada yakin seratus persen. "Kelompok X itu ka-firrr! Nabinya A, bukan Nabi Muhammad! Hati-hati dengan tipu daya mereka!"

Simpel. Enak. Tidak ada paparan pilihan-pilihan dari beragam pendapat. Tidak perlu ada renungan, kontemplasi, atau kernyitan-kernyitan di dahi saat memilah informasi-informasi. Si penanya langsung manggut-manggut, tampak puas dengan jawaban yang ia dengar, lalu duduk setelah mengucapkan terima kasih.

Berpikir itu memang berat. Orang lebih suka diarahkan, ditunjukkan dengan sesuatu yang serba jelas, tanpa peduli bahwa sesungguhnya ada banyak wilayah abu-abu. Berpikir rumit bukan sesuatu yang menyenangkan dan membawa kegembiraan. Semangat yang meledak-ledak rata-rata muncul bukan karena aktivitas panjang dalam berpikir, melainkan karena kita melihat bahwa yang hitam itu hitam, dan yang putih itu sepenuhnya putih.

Maka, berteman dengan orang-orang yang punya seribu satu jenis pikiran itu juga rumit dan berat. Kita harus mendengar Si Bambang berpikiran A, Si Budi berpikiran B, Si Dewi berpikiran C, Si Tuti berpikiran D. Kita sendiri punya pikiran E, tapi harus mau mendengarkan semua pikiran kawan-kawan kita itu, atau minimal mengakui bahwa mereka punya pikiran yang berbeda, dan pikiran E milik kita tidak sendirian saja di dunia. Bukankah itu berat?

Jauh lebih mudah kalau banyaknya pilihan itu diabaikan, lalu pikiran E dipaksakan di atas pikiran-pikiran yang lain. Atau kalau tidak bisa begitu, ya mending kita tidak bersentuhan sama sekali dengan mereka yang punya pikiran ABCD, lalu berkumpul saja dengan orang-orang yang sama-sama pikirannya cuma E dan E dan E. Itu jauh lebih enak. Lebih nyaman. Dan sembari menikmati kenyamanan itu, lebih gampang bagi kita untuk membayangkan bahwa semua pikiran selain E bukanlah pikiran yang layak hadir di muka bumi.

Dari situ, kita bisa tahu pula betapa memusingkannya demokrasi, misalnya. Demokrasi adalah E yang mau tak mau harus menghargai ABCD. Bahkan pada satu titik, demokrasi harus menghargai pikiran lain yang ingin menghancurkan demokrasi itu sendiri, sampai tinggal jadi puing-puing yang tak layak dikenang kembali. Bukankah berdemokrasi itu sangat rumit jadinya?

Hasilnya, bahkan bagi orang yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi pun, berpikir simpel tampak lebih menyenangkan. Sama dengan segolongan orang yang berpikir bahwa siapa pun di luar golongannya harus mati, ada pula segelintir "pelaku demokrasi dan kebhinnekaan" yang juga berpikir bahwa tukang ngebom itu pasti pakaiannya begitu dan begini, tak ada kemungkinan ciri yang lain lagi.

Berpikir simpel dan simplistis memang menenangkan dan menyenangkan. Berpikir panjang di hadapan banyak pilihan itu rumit dan memusingkan.

***

Ngomong-ngomong, saya kepingin tahu, kalau mampir warung nasi Padang, para pengebom itu memilih menu apa ya?

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)