Bom Bunuh Diri, Benarkah Bermotif Agama?

Tony Rosyid - detikNews
Senin, 29 Mar 2021 12:31 WIB
Ilustrasi Fokus Bom Bunuh Diri di Medan (Luthfy Syahban/detikcom)
Foto: Ilustrasi Bom Bunuh Diri (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta - Booommm... booomm... booommm... entah sudah berapa kali bom itu meledak di negeri Pancasila yang damai ini. Apakah spontan, berdiri sendiri, atau ada kaitan dengan peristiwa atau kepentingan lain?

Agama dibawa-bawa, karena tak ada isu yang lebih sensitif dan seksi dari agama. Padahal, tak ada satupun agama yang mengajarkan bom bunuh diri. Tak ada satupun ayat suci di semua agama yang melegalkan terorisme.

Hampir di setiap peristiwa bom bunuh diri dan terorisme, ada simbol-simbol agama. Entah itu tempat ibadah, cadar, kitab suci, lelaki yang berjenggot, atau jubah. Dilakukan oleh orang yang terhubung dengan pengajian atau organisasi agama. Ini untuk memperkuat stigma bahwa pelakunya punya motif agama.

Bom bunuh diri dan terorisme adalah fakta adanya "kebodohan sekelompok orang" yang boleh jadi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang setiap saat digunakan untuk menjadi instrumen kepentingan dengan menggunakan isu agama.

Bodoh, karena pelaku dipastikan tak mengerti struktur logika dalam beragama. Orang-orang seperti ini rentan untuk didoktrin, dibaiat, disentuh motivasinya dan digerakkan untuk bom bunuh diri. Apalagi, mereka punya masalah hidup yang membuatnya tak menemukan solusi. Orang-orang semacam ini mudah untuk disentuh dan digerakkan.

Setiap bom meledak, umumnya masyarakat marah, mengutuk, dan melaknat para pelakunya. Islam seringkali dijadikan obyek tuduhan. Jadi bulan-bulanan, seolah Islam agama teroris. Stigma ini berangsur surut setelah para tokoh, ormas dan organisasi Islam dunia terus berupaya memberi penjelasan tentang Islam ke masyarakat.

Islam agama toleran, bukan agama permusuhan. Islam menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, serta melindungi setiap nyawa dari segala bentuk intimidasi dan ancaman pembunuhan. Islam menyuarakan persaudaraan, persahabatan, kebersamaan, hidup berdampingan secara damai, dan tegas melawan kedzaliman. Seruan inilah yang semakin hari membuat masyarakat global mulai memahami nilai-nilai Islam.

Dalam konteks peristiwa bom bunuh diri, ada yang melihat lebih kritis. Mencari-cari kaitan bom bunuh diri dan terorisme dengan peristiwa nasional dan global yang sedang terjadi. Lalu mencoba menganalisis polanya, dan membaca siapa pihak yang layak diduga berada dibalik fakta kebodohan bom bunuh diri itu. Kemudian berupaya menelaah sasaran dan tujuannya.

Karena itu, peristiwa bom bunuh diri perlu diusut tuntas. Mulai dari pelaku, orang-orang yang terlibat, jejaringnya, dan pihak-pihak yang diduga berada di balik peristiwa bom bunuh diri. Tanpa pengusutan dan upaya membongkar dengan tuntas, peristiwa semacam bom bunuh diri ini tak akan berhenti, dan keberadaannya akan menjadi ritual yang mengganggu kenyamanan berbangsa, terutama hubungan antar umat beragama.

Jangan hanya berhenti di pelakunya, tapi tangkap juga otaknya. Jika ada! Kalau bisa membongkar dan mengusut tuntas para pihak di balik peristiwa bom bunuh diri, maka akan semakin mudah untuk menemukan motif yang sesungguhnya. Kalau motif ditemukan, lebih mudah untuk mengantisipasinya.

Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa (mae/mae)