Kolom

Digitalisasi Produk Peternakan di Masa Pandemi

Chairul Rahman Arif - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 10:40 WIB
Para pekerja melakukan perawatan rutin di peternakan ayam petelur di Blitar, Jawa Timur, (2/2/2021). Peternakan ayam petelur masih menjadi primadona untuk menopang ekonomi masyarakat Blitar di sektor pertanian. Sejarah peternakan telur di Blitar dimulai pada era 80an dan terus tumbuh hingga saat ini. (ARI SAPUTRA/detikcom)
Peternak ayam petelur di Blitar, Jawa Timur (Foto ilustrasi: Ari Saputra)
Jakarta - Pandemi Covid-19 menjungkirbalikkan banyak hal, tak terkecuali dunia peternakan. Ketika awal pandemi, pada Maret 2020 lalu, kita banyak mendengar tentang pemusnahan DOC ayam broiler yang dilakukan oleh peternak sendiri. Hal ini ditengarai oleh anjloknya harga jual ayam broiler. Pemusnahan ini bertujuan untuk menekan pengeluaran akibat proses produksi.

Kemudian, belum lama ini harga telur ayam mengalami penurunan harga di tingkat peternak. Hal ini disebabkan pasokan telur yang melimpah sementara permintaannya sedikit. Tidak hanya sebatas di hulu saja, kerugian juga banyak terjadi sektor hilir. Banyak pengusaha yang mengurangi jumlah produksi bahkan hingga gulung tikar karena pembelinya berkurang. Hal ini disebabkan karena daya beli masyarakat yang menurun terhadap produk-produk peternakan. Selain itu, turut dipengaruhi oleh pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Hal ini dilematis, karena pemerintah dalam hal ini sebagai pengambil kebijakan tak hanya memikirkan bagaimana roda ekonomi tetap berputar. Namun, turut memikirkan kebijakan yang dapat menekan angka penyebaran Covid-19. Dengan menurunnya daya beli masyarakat terhadap produk-produk peternakan artinya konsumsi produk peternakan di masyarakat ikut menurun pula. Padahal ketika masa pandemi seperti saat ini, penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan rajin mengonsumsi protein hewani dari produk-produk peternakan.

Di kala kondisi normal saja, konsumsi protein hewani Indonesia masih tergolong rendah dibanding dengan negara-negara ASEAN lain. Data Food and Agriculture Organization (FAO) 2018 menunjukkan total konsumsi protein hewani Indonesia masih rendah dibanding negara-negara tetangga. Konsumsi protein hewani Indonesia baru mencapai 8 persen, sementara Malaysia mencapai 30 persen, Thailand 24 persen, dan Filipina mencapai 21 persen.

Menurut data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 2018, Indonesia rata-rata mengonsumsi 1,8 kg untuk daging sapi, 7 kg daging ayam, 2,3 kg daging babi, dan 0,4 kg daging kambing. Hal ini terpaut cukup jauh jika disbanding konsumsi rata-rata dunia yang mencapai 6,4 kg daging sapi, 14 kg daging ayam, 12,2 daging babi, dan 1,7 kg daging kambing.

Konsumsi protein hewani Malaysia 4,8 kg daging sapi, 46 kg daging ayam, 2,6 daging babi, dan 1 kg daging kambing. Sementara Filipina mencapai 3,1 kg daging sapi, 12,6 kg daging ayam, 15,4 kg daging babi, dan 0,5 kg daging kambing. Thailand angka konsumsinya mencapai 1,7 kg daging sapi, 14,5 daging ayam, dan 10,4 daging babi, sedangkan Vietnam tingkat konsumsinya 9,9 kg daging sapi, 13 kg daging ayam, 30,4 kg daging babi dan 1,7 kg daging kambing.

Konsumsi produk peternakan kala pandemi sangat bermanfaat untuk membentuk imun tubuh. Karena produk peternakan kaya akan protein sebagai sumber berbagai zat gizi mikro yang penting bagi tumbuh. Kandungan seperti zat besi, vitamin B12, dan zinc yang diperlukan tubuh untuk membentuk antibodi.

Menjual di Platform Digital

Upaya yang dapat dilakukan dalam memasarkan produk peternakan di masa pandemi adalah dengan memasarkan melalui platform digital. Apalagi Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet terbanyak kelima di dunia. Ditambah pertumbuhan e-commerce di Indonesia juga cukup tinggi.

Sebut saja PT TaniHub Grub, salah satu e-commerce yang bergerak di bidang pertanian dan turunannya. Perusahaan yang hadir sejak tahun 2016 ini fokus memasarkan produk pangan dengan tujuan kesejahteraan petani dan peternak. Dengan platform semacam ini, harapannya para pelaku usaha peternakan tidak kebingungan dalam menjangkau pasar.

Moda transportasi online seperti Gojek atau Grab juga dapat dimanfaatkan para pelaku usaha peternakan. Keamanan pengantaran dari pihak penyedia menjadi nilai lebih di mata penggunanya. Para pelaku usaha harusnya dapat menangkap kesempatan ketika segala sesuatu beralih ke dunia digital ini sebagai peluang.

Memasarkan produk secara digital memiliki berbagai manfaat. Pertama, akan mengurangi mobilitas sehingga penyebaran virus Covid-19 menjadi terminimalisasi. Hal ini turut mendukung upaya pemerintah dalam melawan pandemi Covid-19. Karena tentu upaya menekan angka Covid tidak hanya bisa dilakukan pemerintah saja. Namun perlu juga dukungan dari berbagai pihak.

Kedua, menjalankan roda ekonomi bagi sektor peternakan. Ini juga menjawab kekhawatiran pemerintah mengenai berjalan atau tidaknya roda ekonomi masyarakat. Dengan menjual produk-produk peternakan ke platform digital, membuka kesempatan bagi para pelaku usaha peternakan memasarkan produknya secara lebih luas.

Manfaat yang ketiga, memaksa para pelaku usaha peternakan lebih kreatif. Dengan menjual produk peternakan di platform digital, pelaku usaha peternakan semestinya lebih inovatif dalam melakukan penjualan. Karena dalam menjual di platform digital membutuhkan cara-cara yang lebih out of the box agar mendapat minat dari pembeli.

Meskipun memasarkan produk peternakan di platform digital memiliki sederet peluang yang sangat menggiurkan, bukan berarti dalam pelaksanaannya tidak memiliki tantangan atau hambatan sama sekali. Perlu analisis yang serius terhadap pasar yang perlu pelaku usaha capai. Selain itu peternak atau para pelaku usaha di bidang peternakan perlu melakukan beberapa analisis untuk melancarkan pemasarannya. Perlu mengetahui siapa yang menjadi target pemasaran, apakah sudah memiliki akses internet yang sudah memadai, dan pertimbangan-pertimbangan lain.

Selain itu, untuk mewujudkan peternak yang mengarah pada kecepatan teknologi digital dalam pemasarannya perlu dukungan dari berbagai stakeholder. Akademisi dan dinas perlu bersinergi untuk mewujudkan peternak yang tidak hanya produksinya bagus, tetapi juga melek pada pasar-pasar di dunia digital. Dengan pendampingan dari berbagai pihak tadi harapannya menjawab tantangan peternak di era digital seperti saat ini.

Simak juga 'Pelatihan Teknologi Digital Untuk UMKM Harus Diperbanyak':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)