Kolom

Memulihkan Hutan Rawa Gambut Sebangau

Hidayat Turrahman - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 09:10 WIB
Sekat kanal di Taman Nasional Sebangau tahun 2020 (Foto: dok. pribadi)
Jakarta - Terletak di Propinsi Kalimantan Tengah, meliputi tiga wilayah administratif yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kabupaten Katingan dengan luas ±542.141 hektar, Taman Nasional Sebangau menjadi salah satu kawasan pelestarian hutan rawa gambut tropika di Indonesia.

Berdasarkan peta kedalaman gambut Wetland 2010, Taman Nasional Sebangau mempunyai variasi kedalaman antara 1 meter sampai dengan 12 meter, atas verifikasi titik kedalaman di lapangan beberapa wilayahnya mempunyai kedalaman gambut hingga 14 meter.

Gambut hutan sangatlah unik, mengalirkan air berwarna hitam khas, mampu mempengaruhi kondisi hidrologi pada DAS Sebangau yang panjangnya mencapai 150 kilometer. Kondisi ini mengindikasikan bahwa hutan rawa gambut di Taman Nasional Sebangau masih relatif baik dan mampu menjadi pengatur stabilitas air di area gambut yang kita tahu bentuknya seperti filter alami (spoon)

Sebelum penetapannya menjadi kawasan Taman Nasional, kawasan Sebangau merupakan area 13 HPH dalam periode tahun 1970-2000-an, yang menyisakan kanal dan jalan sarad di lahan gambut sebagai sarana mudah mengeluarkan kayu. Terdapat 465 unit kanal dengan variasi panjang antara 1 km hingga 20 meter. Jika seluruh kanal ini disambung dalam satu garis diperoleh total panjang 919.213 km mengalahkan jarak antara kota Palangka Raya dan Pontianak.

Upaya memulihkan kondisi gambut Taman Nasional Sebangau ke kondisi yang lebih baik ini tidak semudah membalik telapak tangan. Di awal pembuatannya banyak menghadapi kendala teknis seperti kekhawatiran masyarakat nelayan tradisional akan akses mereka mengambil ikan, mengambil hasil hutan bahan kayu (HHBK), bentuk konstruksi yang sesuai dengan lebar dan arus kanal, jenis bahan yang digunakan, dan berbagai evaluasi lainnya yang pada akhirnya dilakukan rancang bangun kompromi dalam pembuatan sekat kanal.

Bersyukur proses ini secara bertahap dapat berjalan dan dilalui dengan baik. Penyekatan kanal di Taman Nasional Sebangau pertama kali diinisiasi dan dilakukan oleh Mitra Kerja hingga tahun 2016 dengan jumlah sekat kanal sebanyak 1.568 unit sekat dengan berbagai tipe sekat.

Melalui Badan Restorasi Gambut Indonesia tahun 2018 sebanyak 87 unit dan melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional 2020 Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama masyarakat dibangun 176 unit. Sehingga total jumlah sekat kanal yang telah terbangun di Taman Nasional Sebangau berjumlah 1.831 unit sekat kanal.

Mengapa harus disekat?

Berdasarkan definisi dalam Peraturan Pemerintah No. 57 tahun 2017, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017, gambut diartikan sebagai material organik yang terbentuk secara alami dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 cm atau lebih dan terakumulasi pada rawa.

Secara sederhana dapat diartikan bahwa gambut merupakan tumpukan seresah daun, ranting, batang yang mengalami pelapukan secara alamiah sehingga kepadatannya tidak seperti tanah mineral air dapat dengan mudah keluar-masuk melalui rongga-rongga gambut.

Hutan gambut berdasarkan aturan di atas terasosiasi dengan rawa/genangan sehingga kondisinya lembab atau basah. Kondisi terbuka membuat gambut mudah kehilangan air, kelembabannya berkurang yang akhirnya akan sangat rentan terbakar. Kondisi lembab atau basah inilah yang menjadi tujuan akhir dari pembuatan sekat kanal di kawasan gambut Taman Nasional Sebangau.

Dengan pembasahan tersebut suksesi alami area-area terbuka dapat berjalan menuju klimaks, kantong-kantong habitat baru biodiversitas akan tersedia dan kelestariannya dapat dijamin. Berdasarkan data Balai Taman Nasional Sebangau 2020, hutan rawa gambut Taman Nasional Sebangau mempunya ekosistem khas dan biodiversitas tinggi --terdapat 9 jenis primata endemik seperti orangutan, bekantan, owa, monyet ekor panjang, kelasi, lutung, dan tarsius; 808 jenis flora dari 128 suku; 198 jenis burung; 75 jenis ikan; dan berbagai jenis hewan kecil lainnya.

Ancaman kebakaran hutan gambut menjadi ancaman besar bagi ekosistem dan lingkungan, baik tingkat lokal, regional, maupun dunia internasional. Dampak dari kebakaran hutan gambut mampu melumpuhkan hampir seluruh aspek kehidupan baik secara sosial, ekonomi, kesehatan, serta hubungan internasional.

Simak juga 'Jawa Barat Kembangkan Energi Alternatif Ramah Lingkungan':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)