Kolom

In Memoriam: Herman Lantang, Sang Legenda Pecinta Alam

Abimanyu Isranto - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 11:13 WIB
Jakarta - "Kemarin pas acara tahun baru, kan ketemu Opa Herman, beliau bilang, dulu gue naik gunung gak pake sleeping bag!"

Satu kalimat itu saja yang masih terngiang kalau kembali menengok perkenalan saya dengan Opa—sapaan untuk tetua lelaki di Mapala UI. Satu kalimat yang pernah dan akan selalu mematri penyesalan dalam kotak kenangan saya bersama Opa Herman.

Kalimat itu memang sempat memicu penyesalan sebab ketidakhadiran saya pada acara malam pergantian tahun 2013 ke 2014. Saya mesti terima kenyataan kalau beberapa rekan yang hadir akhirnya punya lebih dulu cerita bersama Opa Herman. Lebih dulu bertatap muka langsung dengan Sang Legenda Pencinta Alam. Padahal, Herman Lantang merupakan salah satu sosok yang mau saya kenali lebih dalam saat menjalani diksar di mapala.

Lalu, bagaimana dengan nasib perkenalan saya? Beruntung saya banyak mengenal Opa dari Catatan Seorang Demonstran dan Soe Hok Gie: Sekali Lagi... Dua buku yang waktu itu cukup untuk menggerakkan badan saya dari halaman rumah di Klender menuju sekretariat Mapala UI di Depok menjelang azan Magrib berkumandang. Tepat pada hari terakhir penerimaan calon anggota baru organisasi pencinta alam itu, saya berhasil mendapatkan formulir.

Kehidupan sebagai "caang"—akronim dari calon anggota—Mapala UI selalu dihiasi oleh cerita-cerita petualangan heroik bin menakjubkan. Mulai dari kisah merintis jalur pendakian gunung Gede-Pangrango, permulaan World Seven Summit Mapala UI, hingga ekspedisi orang Asia Tenggara pertama ke puncak Everest bersama Kopassus. Semua cerita itu saya dengarkan baik-baik dan telaten, termasuk cerita-cerita tentang sosok Herman Onesimus Lantang.

Dulu, saya sebatas mengenal sosok Opa dari tulisan-tulisan. Seberapa dekat ia dengan Soe Hok Gie—tokoh aktivis kampus yang kritis—yang juga pendiri Mapala Prajnaparamita, cikal bakal Mapala UI. Atau, menimba ilmu dari kisah persiapan mereka berdua ketika hendak naik Gunung Slamet dan Semeru. Mempelajari ketegaran dan ketenangannya menghadapi kondisi kritis di Semeru. Bagaimana Opa Herman menyaksikan sendiri napas terakhir keluar dari raga sahabatnya, tapi masih mampu mengkoordinasikan pertolongan untuk segera membawa pulang jenazah Soe dan Idhan Lubis pada Desember 1969 yang kelabu.

Dari kisah-kisah itu, bagi saya kehidupan Opa didominasi oleh dua hal: petualangan dan kematian. Dua hal yang saling beriringan ketika seseorang memutuskan untuk mencurahkan waktunya di alam. Dari petualangan, tumbuhlah organisasi kepecintaalaman yang dirintisnya bersama Soe dan menjadi cikal-bakal kelahiran organisasi kepecintaalaman berbasis mahasiswa di berbagai daerah.

Namun, dari petualangan itu juga Opa bersama dengan Mapala UI berkali-kali dihadapkan pada kematian. Dari kematian itu ia belajar memperkecil kemungkinan terburuk, mempersiapkan petualangan sedetail mungkin sampai selamat kembali ke rumah. Singkatnya, berkaitan dengan kematian itu juga, tidak pernah ada warisan perpeloncoan di Mapala UI hingga hari ini dan bahkan mungkin selamanya. Oleh karena alam bisa "memelonco" manusia kapan saja dan bagaimanapun keadaannya, baik dalam persiapan penuh maupun keteledoran tak disengaja.

Kembali pada perjumpaan langsung saya dengan Opa Herman, peristiwa ini terjadi pada Desember 2016 ketika perayaan 52 tahun Mapala UI. Lelaki yang pada saat itu berusia 76 tahun datang ke ruang perayaan mengenakan setelan biru langit, fedora kulit lengkap dengan pin mapala, setelan khas "pendekar gunung" di acara-acara formal. Padahal untuk sekadar berjalan saja, Opa sudah kepayahan dan harus dibantu dengan tongkat berkaki tiga. Tapi, dari memori itu saya belajar betapa besar rasa cinta Opa terhadap organisasi yang saling membesarkan namanya. Opa hampir tidak pernah absen menghadiri perayaan Mapala UI. Seolah ia selalu tahu waktu kapan harus pulang sekadar untuk menemui para anggota muda atau calon anggota yang kelak jadi bagian keluarganya itu.

Selain dari kisahnya yang dinanti ketika saksi hidup datang ke suatu acara, ada hal lain lagi yang kami tunggu. Saya rasa semua yang tahu sepak terjang Herman Lantang akan sepakat untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk foto bersama. Bahkan, Opa sendiri mahfum dengan kebiasaan ini sampai punya satu-dua line klasik yang akan diucapkan ketika berjumpa dengan anggota yang lebih muda, "Sini foto mumpung gue masih hidup," atau, "Mau foto nggak? Mumpung gue belum mati."

Setelah 22 Maret 2021 berlalu, line klasik itu tidak akan pernah terucap lagi. Opa Herman akan kembali menjadi legenda yang harus puas saya jumpai dalam tulisan-tulisan. Terima kasih Opa Herman, sudah pernah meluangkan waktu sebentar berpose bersama. Hari ini saya kembali belajar tentang kematian, tapi akan selalu ingat Opa ketika alam memanggil untuk berpetualang.

Selamat berkumpul kembali dengan Soe Hok Gie, Idhan Lubis, Ariestides Katoppo, dan Rudy Badil. Petualanganmu bersama mereka sekarang hanyalah menuju keabadian.

Abimanyu Isranto anggota Mapala UI

(mmu/mmu)