Sentilan IAD

Lahirnya Oligarki Youtuber

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 23 Mar 2021 19:25 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta - Selama empat tahun terakhir, dalam setiap kesempatan bicara tentang fenomena media sosial, saya selalu menyebut-nyebut tentang "demokratisasi wacana". Istilah itu, entah tepat entah tidak, saya sampaikan terutama terkait ruang dan panggung dalam bersuara, yang sekaligus mempengaruhi pergeseran gaya berkomunikasi di hadapan massa (tentu saja massa digital).

Maksud saya, di era pra-digital, panggung-panggung hanya dikuasai beberapa gelintir kekuatan, yaitu para penguasa industri media. Ruang bicara alias saluran untuk menyampaikan pendapat secara masif ke hadapan khalayak ramai tidak banyak, dan masyarakat luas pun tergantung kepada media. Sehingga, terbentuklah karakter arus informasi yang nyaris bersifat top down.

Pada masa itu, media-media punya kuasa untuk memilih siapa saja yang mereka sukai, untuk diberi podium. Orang yang tidak punya akses ke media, atau dipandang jauh dari kapasitas tertentu untuk mengakses corong media, ya tidak pernah memperoleh ruang itu. Kalau toh mereka berbicara, saluran diseminasi yang bisa mereka akses adalah ruang-ruang obrolan di mimbar perkuliahan, juga di warung kopi, pos ronda, grup arisan, majelis pengajian, atau jalur bisik-bisik tetangga.

Namun tiba-tiba semua berubah cepat sejak era digital tiba, lebih-lebih lagi era media sosial. Setiap orang jadi punya kesempatan yang nyaris sama untuk melipatgandakan efek dari suara mereka. Setiap orang punya potensi sebagai produsen informasi yang efektif, sehingga karakter top down pada masa lalu lambat laun mengabur. Pendek kata, setiap orang yang tidak punya akses atas panggung lama akhirnya bisa berkata, "Oh, aku nggak dapat panggung itu? Nggak masalah. Aku bikin panggungku sendiri!"

Dan, kita tahu, panggung-panggung baru pun bermunculan dengan gila-gilaan. Panggung lama semakin sepi, tatapan mata jutaan manusia terpecah ke mana-mana, ukuran-ukuran kapasitas tertentu sebagai syarat mengakses corong persebaran suara tak lagi ada. Bahkan belakangan, saya amati media-media digital dalam kategori pers pun memahami dan menghormati atmosfer baru itu.

Tidak usah jauh-jauh, contoh kasus kecilnya ya saya sendiri. Saya bukan siapa-siapa, bukan elit pengetahuan, tidak punya kapasitas apa pun dalam ukuran-ukuran lama. Tapi saya berisik di panggung baru, dan itu pelan-pelan menjadikan saya bisa mengakses ruang-ruang lama dalam wajah baru dan dalam lanskap situasi yang juga baru.

Itulah yang saya sebut-sebut sebagai demokratisasi wacana, sekali lagi terlepas dari apakah istilah itu tepat atau tidak. Poinnya, dalam demokratisasi itu muncul kesetaraan dalam kesempatan menyebarkan suara seluas-luasnya, hingga kemudian sangat berpengaruh juga dalam gaya berkomunikasi di depan massa. Jika dulu gaya komunikasi formal cenderung lebih dominan (khas elit pengetahuan), sekarang siapa pun bahkan bisa menuliskan "hahaha!" dengan santai, di media-media serius, di tulisan-tulisan yang juga serius.

Beberapa waktu lalu, saya mendengar istilah dan pembacaan yang lebih jitu atas situasi ini dari budayawan kondang Irfan Afifi. Dia tidak menyebut demokratisasi, melainkan "desentralisasi". Poin yang dia tekankan adalah pusat (kebudayaan) telah terpecah, menjadi banyak sekali pusat di mana-mana, di pelosok, di sudut-sudut. Walhasil, sebenarnya tak ada lagi yang namanya pusat. Tentu saya sangat setuju.

Gejala tersebut, entah mau disebut demokratisasi atau desentralisasi, sesungguhnya juga terjadi pada medan-medan aktivitas yang lain, bukan cuma dalam industri informasi. Dalam industri buku juga, misalnya, jenis industri lain yang dekat dengan dunia saya. Dulu, ada kekuatan yang terlalu dominan di level nasional dalam industri buku. Bahwa produksi buku alias penerbitan relatif mudah, itu benar. Tapi kesempatan pemasaran nyaris dimonopoli oleh satu jaringan ritel raksasa.

Setelah era medsos hadir, jalur-jalur pemasaran baru terbentuk dengan masif, ceruk-ceruk pasar yang baru pun tergarap. Mulai toko-toko buku di akun-akun medsos, hingga marketplace. Lebih-lebih lagi semasa pandemi, ketika orang lebih suka di rumah daripada pergi. Akibatnya, banyak toko milik si jaringan ritel raksasa gulung tikar, dan cipratan berkahnya menyebar ke toko-toko online. Dalam industri buku (sebenarnya dalam industri yang lain-lain juga), zaman digital telah memecah orientasi atas "pusat", sebab kekuatan-kekuatan baru terus bermunculan.

Ini tentu menyenangkan. Inilah demokrasi dan kesetaraan. Inilah pemerataan kesempatan, dalam cara yang sebaik-baiknya.

Hingga kemudian hari-hari belakangan ini tiba, dan mimpi indah itu kok rasa-rasanya bakal segera sirna. Kita akan geragapan bangun, mengucek-ngucek mata sejenak, lalu sadar bahwa pusat yang mengeropos lalu menciptakan ribuan kekuatan kecil di sudut-sudut baru pelan-pelan akan mengantarkan kita kepada menggumpalnya kekuatan yang kecil menjadi besar, menjadi semakin besar, dan akhirnya yang kecil tadi pun dengan cepat akan menjadi segelintir pusat yang baru lagi.

Ribut-ribut permainan catur kemarin itu adalah gejala kuatnya. Ada keributan yang menyedot perhatian jutaan orang, bisa dikatakan skala internasional, minimal lintas negara. Salah satu pelaku keributan segera disambar oleh akun Youtube milik seorang mantan pesulap. Keributan yang lebih besar lagi pun meledak, pelaku lain tidak terima, lalu dia menulis surat terbuka kepada Sang Mantan Pesulap, meminta ruang dan panggung, panggung dihadirkan oleh Si Mantan Pesulap, dan keributan kian menjadi-jadi.

Dalam segenap keberisikan itu, terjadi perputaran ekonomi yang sangat besar. Bahkan untuk hadiah (untuk tidak menyebut "honor narasumber") disediakan fulus tiga ratus juta, nominal honor yang rasanya tak cukup mudah disediakan oleh lembaga media. Lalu, ke mana media-media? Ya, media-media yang semestinya masih besar itu harus rela hati menjadi penjumput remah-remah, dengan memberitakan ulang saja huru-hara di Youtube Sang Mantan Pesulap.

Tentu saja ini bukan dosa media. Tapi bagaimana alur cerita yang berjalan membuat kita melihat bahwa tatapan mata jutaan orang telah direbut dengan sangat efektif oleh kekuatan kecil yang tak lagi layak mengaku kecil, para tokoh yang terlibat dalam keributan juga seolah tak lagi memikirkan alternatif panggung selain di panggung yang kecil-tapi-tak-lagi-pantas-mengaku-kecil itu, dan yang seolah kecil tampak sekali sangat berpotensi untuk menjadi lebih besar dan lebih besar lagi.

Hasilnya, pemusatan itu akan segera terjadi lagi. Bukan cuma pemusatan perhatian dari jutaan pasang mata, melainkan juga pemusatan perputaran ekonomi. Industri-industri akan berebut mendapatkan serpihan ruang marketing di panggung kecil-yang-tak-lagi-boleh-mengaku-kecil, kue yang seharusnya bisa disebar untuk, katakanlah, menghidupi jurnalisme (juga media dan ribuan awaknya) akan mengumpul hanya ke beberapa gelintir orang saja, dan kesetaraan serta pemerataan yang semula diangankan itu akan jadi mimpi yang sia-sia.

Maka, khalayak banyak yang semula bergembira karena mendapatkan banyak alternatif bisa jadi tak akan lama lagi semakin kehilangan alternatif. Ini bukan lagi demokratisasi, bukan pula desentralisasi. Ini proses dalam menciptakan sentral-sentral yang baru. Hampir sama dengan apa yang berlangsung di masa lalu. Bedanya, kali ini proses itu berlipat-lipat lebih instan, tanpa sistem kendali, tanpa tata aturan yang bisa mengamankan hak jutaan pasang mata yang menyimak tanpa henti, dan setelah ini entahlah apa lagi yang akan terjadi.

Dan Anda semua yang awalnya membayangkan bisa menjaga panggung-panggung Anda sendiri, akan menjadi penjumput remah-remah juga tak lama lagi. Hahaha!

Iqbal Aji Daryono penulis penjumput isu remah-remah

(mmu/mmu)