Kolom

Indonesia dalam Perkembangan Mobil Listrik Dunia

Rijowan - detikNews
Selasa, 23 Mar 2021 13:38 WIB
Permintaan mobil listrik diperkirakan akan meningkat begitu juga di Indonesia, yuk intip foto-foto pembuatan mobil listrik di beberapa negara.
Foto ilustrasi: Adrian Dennis/AFP
Jakarta - Tesla baru saja memilih India sebagai lokasi pabrik mobil listriknya yang kedua. Bisa dimengerti kenapa India dipilih setelah China yang dipilih sebagai lokasi pertama. Selain keduanya adalah pasar yang besar, India adalah kekuatan industri terbesar ketiga di Asia setelah China dan Jepang.

Tesla sedang berupaya memperluas produksinya. Tetapi industri otomotif adalah industri besar dengan rantai produksi yang panjang. Bagi pendatang baru seperti Tesla yang tidak memiliki industri manufaktur pendukung tentu sangat sulit jika rentetan produksi itu harus dilakukan sendiri, karena itu Tesla membutuhkan mitra besar.

Kenapa tidak menggandeng Jepang? Jepang memiliki sejumlah pabrikan besar yang ditanamkan di berbagai negara. Masing-masing pabrikan telah mengantisipasi akan adanya transformasi industri otomotif; mereka telah bergerak sendiri. Bahkan, mereka telah memamerkan model mobil listriknya.

Berbeda dengan China dan India, pabrikan mereka tidak cukup kuat di pasar luar negeri tetapi lebih banyak memenuhi pasar dalam negeri. Sehingga mereka lebih terbuka untuk kerja sama mengusung brand baru. Di samping, dua negara itu telah memiliki industri komponen yang kuat untuk konsumsi dalam negeri dan ekspor.

Dengan adanya tuntutan teknologi baru, industri otomotif mengalami transformasi. Adanya pemain baru dengan teknologi baru yang diterima pasar, pasar otomotif mengalami reformulasi. Dengan mempelajari terpilihnya China dan India, pertanyaannya, di manakah posisi Indonesia dalam kancah perkembangan mobil listrik ini?

Indonesia memiliki populasi penduduk terbesar keempat di dunia yang merupakan pasar potensial. Emerging market adalah istilah yang disematkan karena pasar Indonesia yang terus tumbuh. Selama ini sebagian besar pasar otomotif Indonesia diisi produk-produk dari pabrikan Jepang. Pada 2019 akumulasi penjualan mobil mencapai 1,043 juta unit. Walaupun penjualan menurun karena pandemi, tetapi diyakini pasar akan kembali bergairah setelah pandemi usai.

Selain pasar yang besar, Indonesia juga dikenal sebagai negara produsen otomotif dengan volume terbesar dari pabrikan Jepang. Pabrikan-pabrikan Jepang ini telah memiliki skema pergantian teknologi ke mobil listrik. Dalam beberapa tahun ke depan mereka akan siap melempar ke pasaran. Dengan demikian, walaupun teknologi otomotif telah berubah, sepertinya pasar mobil listrik Indonesia ke depan tetap akan banyak diwarnai olah produk pabrikan Jepang.

Saingan berat Tesla adalah Jepang di samping Korea, Eropa, dan beberapa pabrikan dari negara lain. Jepang terbukti mampu menyaingi pabrikan Eropa dan Amerika pada era teknologi sebelumnya. Sehingga dapat dimengerti kenapa Tesla memilih China dan India, salah satunya adalah untuk mendapat biaya produksi yang lebih rendah.

Diuntungkan

Bagi Indonesia, perkembangan dunia otomotif kali ini berbeda dengan perkembangan otomotif era bahan bakar. Karena motor listrik atau mobil listrik menggunakan baterai sebagai penyimpan daya menjadikan baterai sebagai komponen yang dominan. Baterai menggunakan nikel sebagai bahan utama, di mana Indonesia adalah penghasil nikel terbesar. Kecuali nikel, tembaga juga mineral penting dalam mobil listrik, di mana Indonesia adalah penghasil tembaga yang cukup besar.

Posisi Indonesia sebagai penghasil nikel terbesar sangat diuntungkan dengan berkembangnya mobil listrik. Keuntungan itu bisa berlipat seandainya Indonesia mampu mengolahnya menjadi produk akhir berupa baterai. Tidak terlalu muluk seandainya Indonesia serius ingin menjadi negara penghasil baterai mobil listrik, mengingat selama ini telah ada industri baterai untuk produksi elektronik.

Indonesia bisa menarik investasi baru untuk pengembangan baterai mobil listrik atau menarik tambahan investasi agar pabrikan baterai elektronik juga mengembangkan baterai untuk mobil listrik. Dengan keunggulan bahan baku baterai, seharusnya lebih mudah juga bagi Indonesia bisa menarik investasi pengembangan mobil listrik. Karena baterai adalah komponen dominan dalam mobil listrik. Secara rata-rata berat baterai mencapai 25% dari berat mobil.

Walaupun lebih mudah bagi Indonesia untuk menarik investasi dalam industri mobil listrik, tetapi harus tetap berhati-hati agar investasi dapat menguntungkan dari berbagai sisi. Kecuali harus menguntungkan secara finansial, investasi juga harus dapat membuka jalan untuk menguasai teknologinya (alih teknologi), sehingga pada saatnya Indonesia dapat mengembangkan sendiri teknologi mobil listrik.

Penelitian-penelitian tentang mobil listrik dan pendukungnya juga harus didorong yang dipadukan dengan penelitian di industri agar proses alih teknologi dapat terjadi dengan tahapan yang jelas. Alih teknologi bukanlah sekadar kemampuan mengoperasikan alat-alat produksi, tetapi penguasaan teknologi dari hulu hingga hilir. Dengan penguasaan yang paripurna teknologi secara umum maupun teknologi industri, secara perlahan posisi Indonesia akan berpindah menjadi pelaku aktif dalam perkembangan teknologi yang pada gilirannya akan menaikkan kesejahteraan rakyat.

(mmu/mmu)