Analisis Zuhairi Misrawi

Pesan Kemanusiaan Paus Fransiskus di Timur-Tengah

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 15:49 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta - Paus Fransiskus Asisi melakukan kunjungan bersejarah ke Timur-Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Semua kunjungannya mempunyai nilai historis, religius, bahkan humanis. Teranyar, Paus Fransiskus berkunjung ke Irak dan bertemu dengan Ayatullah Ali Sistani, Pimpinan Spiritual Tertinggi Syiah Irak yang bermukim di Najaf.

Dua sosok itu menampilkan wajah agama yang substantif. Meskipun keduanya berasal dari dua agama dan keyakinan yang berbeda, tetapi keduanya berjumpa dalam satu titik, yaitu kemanusiaan. Mata airnya adalah Imam Ali bin Abi Thalib yang masyhur dengan ungkapan emasnya, "Manusia itu ada dua macam. Ia bersaudara dalam satu agama yang sama atau ia bersaudara sesama manusia, ciptaan Tuhan."

Jauh sebelum kunjungan bersejarah ini, pada 2017, Paus Fransiskus juga berkunjung ke Mesir berjumpa Imam Besar al-Azhar, Syaikh Ahmed al-Tayyeb. Kunjungan tersebut menandai kerjasama lintas iman yang diinisiasi al-Azhar dan Vatikan. Kedua poros institusi keagamaan terbesar di dunia ini telah mencapai titik mufakat, bahwa dialog merupakan jalan emas untuk membangun peradaban kemanusiaan.

Kebhinnekaan dan perbedaan agama merupakan sebuah keniscayaan, sebagaimana dikonfirmasi dalam kitab-kitab suci, khususnya al-Quran dan Alkitab. Semua yang ada di muka bumi, khususnya agama-agama merupakan rahmat Tuhan kepada umat-Nya agar senantiasa memancarkan ajaran-Nya ke seantero dunia. Di dalam al-Quran disebutkan, jika Tuhan mau, maka tidak sulit bagi-Nya untuk menciptakan satu agama saja di muka bumi ini. Tetapi Tuhan telah menakdirkan kita semua meyakini agama dan keyakinan yang berbeda-beda (QS. Hud: 118).

Setelah kunjungan ke al-Azhar, Paus Fransiskus Asisi dibalas dengan kunjungan serupa oleh Imam Besar al-Azhar, Syaikh Ahmed al-Tayyeb ke Vatikan dengan pesan utama agar umat agama-agama dapat menjadi faktor pencerahan umat dalam memerangi terorisme dan kekerasan yang kerap mengatasnamakan agama. Kedua sosok sentral dalam Islam dan Katolik itu berpelukan sebagai simbol persahabatan dan persaudaraan yang kokoh.

Tidak hanya berhenti di situ saja, keduanya menandatangani Piagam Persaudaraan Umat Manusia se-Dunia yang saat ini terus dirayakan oleh kedua institusi tersebut di Abu Dhabi pada tahun 2019 lalu. Forum spektakuler itu dihadiri oleh 400 tokoh agama dari berbagai belahan dunia. Vatikan dan al-Azhar menyepakati pentingnya bahasa kemanusiaan menjadi instrumen untuk membangun kehidupan yang lebih damai di masa mendatang. Paus Fransiskus Asisi juga melakukan misa terbesar di Timur-Tengah.

Bulan lalu, kami para alumni al-Azhar di Indonesia merayakan Hari Piagam Persaudaraan Umat Manusia se-Dunia itu untuk menyalakan api persaudaraan di antara umat agama-agama agar hidup ini dipenuh dengan toleransi dan perdamaian. Kesepakatan antara Paus Fransiskus dan Imam Besar al-Azhar harus menjadi guidance dalam rangka membangun peradaban kemanusiaan di tengah ancaman konflik dan kekerasan atas nama agama.

Perhatian Paus Fransiskus terhadap kawasan Timur-Tengah bukan tanpa alasan. Sebab dalam beberapa dekade terakhir, Timur-Tengah yang dikenal sebagai tanah kelahiran para Nabi dan orang-orang suci itu selalu tidak pernah sepi dari perang, perpecahan, konflik, dan kekerasan, yang sedihnya kerap mengatasnamakan agama. Konflik tidak hanya terjadi di antara umat agama-agama, melainkan juga terjadi di antara umat seagama dan sesama warga bangsa. Lihat konflik di Yaman, Libya, dan Suriah. Semuanya merupakan tragedi kemanusiaan yang sulit dinalar, kenapa konflik itu terjadi menyejarah, bertahun-tahun tanpa solusi.

Dalam konteks tersebut, Paus Fransiskus menggarisbawahi pentingnya kemanusiaan sebagai bahasa yang dapat menyadarkan sebagian besar umat agama-agama di Timur-Tengah. Sebab tidak ada kebaikan dalam konflik dan kekerasan. Timur-Tengah yang dikaruniai Tuhan dengan kekayaan melimpah, tetapi mereka tidak bisa menjamin tumbuh suburnya nilai-nilai kemanusiaan. Padahal mereka mempunyai agama dan Nabi yang sejak lama menyalakan obor perdamaian dan keadilan.

Istimewanya, Paus Fransiskus tidak hanya membangun dialog dengan al-Azhar yang dikenal sebagai benteng kaum Sunni. Ia juga melakukan dialog dengan Imam kaum Syiah dalam lawatannya yang terakhir. Secara implisit, Paus Fransiskus ingin membukakan hati kita, bahwa persaudaraan sejatinya dibangun kepada siapapun, tidak memandang kelompok, mazhab, dan keyakinannya. Kita harus adil sejak dalam pikiran dan hati nurani.

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia di muka bumi, karena kita berbeda dengan makhluk Tuhan lainnya yang tidak mempunyai akal budi. Kita mempunyai hati nurani yang bisa menjadi kompas untuk membedakan baik dan buruk, maslahat dan mudarat. Namun, sayang seribu sayang, kita kerap kali terjerumus dalam hubungan konflik dan kekerasan, karena fanatisme dan egoisme yang berlebihan, yang kemudian menjadikan kita seolah-olah harus bermusuh-musuhan secara permanen. Padahal kita semua bersaudara. Kita adalah manusia, yang dimuliakan Tuhan.

Pesan kemanusiaan yang diinisiasi Paus Fransiskus dan disambut baik oleh kedua tokoh sentral Muslim, Imam Besar al-Azhar di Mesir, Syaikh Ahmed al-Tayyeb dan Imam Besar Syiah di Irak, Ayatullah Ali Sistani di Irak akan menjadi terobosan dan inspirasi dunia, bahwa kita mempunyai tanggungjawab sejarah dan tanggungjawab peradaban untuk mewarisi nilai-nilai kemanusiaan kepada siapapun. Yang mempertemukan dan mendekatkan kita semua dalam hakikat kita sebagai manusia, ciptaan Tuhan.

Tuhan menghendaki kita semua menjadi duta-duta toleransi dan perdamaian di mana pun kita berada dan hidup. Timur-Tengah dan dunia, termasuk kita di negeri ini harus kembali ke jalan yang benar, khitah kemanusiaan kita. Kita harus meninggalkan dan menanggalkan berbagai ambisi kekuasaan dan kerakusan hidup yang sudah menjadikan hidup ini menderita. Sejak lama, Timur-Tengah luluh lantak akibat konflik, perang, dan kekerasan. Saatnya Timur-Tengah menyambut seruan Paus Fransiskus bersama Imam Besar al-Azhar di Mesir dan Imam Besar Syiah di Irak untuk menyemai nilai-nilai kemanusiaan demi tegaknya peradaban kemanusiaan.

Zuhairi Misrawi cendekiawan muslim, kader NU, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di Middle East Institute Jakarta

(mmu/mmu)