Kolom

Mendekatkan Sains ke Masyarakat

M. Alaudin - detikNews
Kamis, 18 Mar 2021 11:10 WIB
Hands holding mobile phone on blurred night city as background
Sains menumbuhkan sikao kritis sehingga masyarakat mampu menangkal hoaks (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/B4LLS)
Jakarta - Tidak bisa dipungkiri, dunia sains di Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara lain. Hasil penilaian PISA menunjukkan Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan tingkat literasi sains yang rendah dan cenderung stagnan sejak 2012.

Secara umum, masyarakat kita masih menganggap bahwa menekuni sains seperti Fisika, Kimia, dan Biologi itu sulit, sehingga belajar sains menjadi momok. Hal ini bisa dilihat salah satunya dari ketertarikan calon mahasiswa terhadap jurusan-jurusan ilmu dasar (MIPA). Peminat jurusan MIPA selalu lebih rendah dibandingkan dengan ilmu-ilmu terapan, seperti Farmasi, Teknik, Akuntansi, dan Hukum.

Di sisi lain, arus deras informasi saat ini membawa dampak negatif, bahkan cenderung menimbulkan konflik. Kabar bohong maupun berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan beredar luas dan viral secara maya sehingga dipercaya sebagai suatu kebenaran.

Penyebaran informasi-informasi bohong ini sudah tidak mengenal usia. Hal ini jika tidak diantisipasi akan sangat meresahkan karena dapat mengancam persatuan bangsa. Sebut saja, saat Pilpres 2014 polarisasi masyarakat begitu terasa.

Sekarang juga demikian, di tengah pandemi Covid-19, banyak beredar hoaks terkait penyakit ini. Mulai dari cara pencegahan dan pengobatan yang tidak jelas sumber ilmiahnya sampai penolakan vaksinasi. Kemenkominfo melaporkan lebih dari dua ribu informasi hoaks telah beredar selama pandemi. Jauh lebih banyak daripada masa-masa sebelumnya.

Persebaran berita-berita bohong tersebut sebenarnya dapat dihindari apabila masyarakat terbiasa berpikir kritis. Selalu mengecek kebenaran suatu berita. Tidak mudah percaya dan tidak mudah pula menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya.

Pola Pikir dan Perilaku Ilmiah

Minat sains yang rendah dan mudahnya informasi bohong beredar di masyarakat bisa jadi saling terkait. Sains mengajarkan untuk selalu berpikir kritis dan analitis. Seorang saintis tidak akan mudah percaya pada data, berita, atau informasi yang tidak rasional. Saintis tidak menilai kebenaran dari viralitas. Jika masyarakat melek sains, maka berita yang tidak jelas sumbernya tidak akan mudah tersebar, apalagi dipercaya.

Untuk mengatasi persebaran berita-berita bohong, maka perlu lebih mendekatkan cara berpikir sains pada masyarakat. Lantas, bagaimana membuat masyarakat agar lebih dekat dengan pola pikir sains ini? Tentu saja dengan mempromosikan sains.

Mempromosikan sains bukan hanya mengabarkan hasil-hasil riset terbaru. Tetapi lebih dari itu menumbuhkan rasa keingintahuan yang lebih besar tentang alam sekitar. Media perlu menampilkan sains yang lebih "ramah", menyampaikan sains dengan bahasa yang sederhana dan cara yang menarik. Media dapat memfasilitasi para saintis untuk lebih sering tampil. Misalnya, menyediakan rubrik khusus untuk para saintis membawakan sains secara populer atau menampilkan tokoh-tokoh sains yang inspiratif.

Figur-figur saintis dalam negeri perlu lebih dimunculkan untuk memotivasi dan menginspirasi masyarakat. Dulu, kita mengenal sosok seperti Presiden ke-3 Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie. Meskipun, beliau ini lebih tepat sebagai teknokrat bukan saintis murni. Beliau adalah inspirasi bagi anak-anak sekolah di tahun 1990-an. Beliau adalah alasan bagi jutaan orang tua Indonesia untuk mendorong putra-putrinya belajar lebih giat dan bersemangat pergi ke sekolah.

Selanjutnya, promosi sains juga harus dibarengi dengan perbaikan pengajaran sains di sekolah. Pengajaran sains harus lebih menekankan pada sains sebagai proses bukan sebagai produk. Pengajaran sains di kelas jangan hanya menunjukkan fakta, teori, prinsip, model, dan hukum, tetapi siswa perlu diajak untuk bereksperimen dan mendalami langsung proses ilmiah. Sebenarnya hal ini sudah diamanatkan oleh kurikulum dan banyak sekolah yang sudah menerapkannya. Namun kenyataannya, kemampuan berpikir kritis siswa dan minatnya terhadap sains tidak banyak berubah sebagaimana ditunjukkan dari hasil penilaian PISA.

Terkait hal ini, beberapa hal perlu mendapat perhatian. Pertama, adanya tuntutan yang lebih menekankan pada pencapaian target kurikulum, sedangkan waktu yang tersedia terbatas. Kedua, sistem penilaian yang masih menekankan pada penguasaan konsep (aspek produk) daripada proses. Jadi, pembelajaran sudah dirancang dan dilaksanakan dengan membawa siswa memahami produk sains melalui suatu proses, namun sistem penilaian belum mendukung ke arah itu. Hal lain yang perlu juga dicatat adalah masih lemahnya pengetahuan dan wawasan guru terhadap hakekat sains.

Pembelajaran sains yang baik akan menumbuhkan pola pikir dan perilaku kritis pada siswa. Siswa akan memiliki sikap ilmiah, yaitu selalu mencari bukti sebelum menarik kesimpulan, berhati-hati ketika membuat interpretasi pada hasil pengamatan, dan terbiasa mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang logis.

Memang tidak perlu semua menjadi saintis, tetapi pola pikir dan perilaku ilmiahlah yang perlu dibangun di masyarakat, yaitu pola pikir yang kritis dan analitis. Dengan pola pikir yang demikian, informasi-informasi provokatif, bohong, dan palsu tidak mudah menyebar di masyarakat.

Simak juga 'Jokowi Minta Tanaman di Food Estate dari Data Sains':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)