Kolom

Kerja Kolaboratif untuk Pembelajaran Tatap Muka

Jefrianus Kolimo - detikNews
Selasa, 16 Mar 2021 15:08 WIB
Setelah hampir setahun tak berangkat ke sekolah karena pendemi virus Corona, murid-murid di sebagian Kabupaten Batang, Jawa Tengah, sudah mulai belajar atau sekolah tatap muka hari ini. Salah satunya di SDN Pandansari yang mulai sekolah tatap muka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes).
Suasana pembelajaran tatap muka kembali di Batang, Jawa Tengah (Foto: Robby Bernardi)
Jakarta - Ketika program vaksinasi Covid-19 untuk kelompok tenaga pendidik mulai dilakukan, terlaksananya pembelajaran tatap muka (PTM) sudah mulai sedikit terlihat. Kita perlu bersyukur sebab tenaga pendidik menjadi salah satu kelompok yang menjadi prioritas program vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Program vaksinasi ibarat jalan lain untuk menggapai asa terlaksananya PTM di sekolah.

Sejauh ini terhitung sudah memasuki hampir 3 semester dalam kalender akademik, model belajar PTM masih belum merupakan sebuah keniscayaan. Beragam kebijakan seperti PTM per shift juga rupanya masih belum menjadi kebijakan yang ampuh dan menjamin terlaksananya PTM yang aman dari cengkeraman Covid-19. Maka dari itu, vaksin bagi kelompok tenaga pendidik bak angin segar.

Butuh Kerja Simultan

Namun secara teori dari banyak ahli, program vaksinasi bukan peluru perak yang dapat sekaligus memutus rantai penularan Covid-19. Masih butuh waktu panjang dan kerja-kerja simultan lainnya agar kekebalan komunitas dapat terbentuk. Karenanya, program vaksinasi bagi kelompok pendidik bukanlah akhir dari situasi pagebluk. Masih ada tembok lain yaitu penerapan protokol kesehatan secara ketat di lingkungan sekolah yang masih menghalangi dan harus dilewati agar kekebalan komunitas dalam komunitas pendidikan dapat segera tercapai.

Penerapan 3M di sekolah yang secara yuridis sudah tertuang dalam perangkat aturan baik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) maupun pemerintah daerah (pemda) merupakan suatu kenormalan baru di lingkungan sekolah. Sekolah seharusnya adalah tempat yang selalu sibuk dengan aktivitas belajar dimana sangat memungkinkan terjadinya beragam interaksi antara para pelaku pendidikan harus mulai bersolek dengan kebiasaan baru di antaranya memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Penerapan 3M di sebagian sekolah dapat berjalan maksimal, namun juga sebaliknya tersendat di banyak sekolah. Ketidakdisiplinan dan ketidaktaatan pada aturan sederhana 3M masih mewarnai situasi kenormalan baru di banyak sekolah.

Sebagai seorang guru, saya mendapati beragam tantangan dalam upaya menerapkan 3M di lingkungan sekolah. Tantangan tersebut berasal dari banyak faktor penyebab. Pertama, siswa yang belum taat dalam memakai masker. Ketidaktaatan siswa sebagai akibat dari ketidakpedulian dan kurangnya simpati karena siswa masih belum mengalami secara langsung kejadian yang sama atau hampir sama.

Sekalipun pernah mengalami kejadian yang sama, jika pengalaman tersebut tidak digunakan untuk tindakan antisipasi maka, ketidaktaatan akan sering dilakukan siswa. Wujud ketidaktaatan tersebut terlihat misalnya ketika masker yang hanya digunakan di dalam lingkungan sekolah namun saat melakukan perjalanan dari atau pulang rumah, sering kali masker dilepas atau disimpan di dalam tas.

Kedua, menjaga jarak terkadang sulit untuk diterapkan di sekolah. Menerapkan jaga jarak di sekolah dimana memberlakukan tatap muka dengan maksimal siswa sebanyak 18 orang per shift sebenarnya bisa secara maksimal diterapkan. Namun persoalannya adalah siswa pada jenjang SD dan SMP sangat sulit untuk mematuhi aturan ini karena usia mereka adalah usia untuk mengeksplorasi diri dalam pergaulan.

Sebagai guru SMP, saya mengamati dan menemukan siswa khususnya pada kelas VII dan VIII sering tidak bisa menahan diri untuk terlibat melakukan obrolan dalam kelompok-kelompok kecil saat pergantian jam pelajaran dilakukan. Siswa usia SMP adalah usia pertumbuhan dimana selalu berupaya untuk menjalin pertemanan dengan siswa lainnya. Sehingga arahan dari guru untuk selalu menjaga jarak selama berada di lingkungan sekolah sering tidak terlaksana ataupun tidak dihiraukan.

Ketiga, ketiadaan akses air bersih di lingkungan sekolah turut menghambat aktivitas mencuci tangan sebelum masuk kelas. Mencuci tangan di sekolah yang dilakukan saat masuk kelas atau keluar kelas adalah upaya pencegahan agar siswa tidak terinfeksi virus melalui perantara buku pelajaran ataupun benda lainnya yang juga sering digunakan secara bersama-sama di dalam ruang kelas.

Menurut anjuran WHO, mencuci tangan yang efektif bisa membunuh virus adalah mencuci tangan dengan menggunakan sabun dengan air mengalir selama 20 detik (unicef.org). Ketua Kawal Lingkungan Hidup DKI Jakarta Mardian mengatakan bahwa anjuran mencuci tangan selama 20 detik setidaknya ikut menyumbang terbuangnya 1,5 liter air untuk satu orang per hari (voi.id). Dengan demikian untuk satu shift, sekolah harus menyiapkan 27 liter air bersih per hari untuk satu kelas (18 orang siswa).

Perhitungan sederhana itu jika diterapkan pada sekolah dengan akses terhadap air bersih yang memadai memang tidak menjadi sebuah persoalan. Tetapi sebaliknya jika diterapkan pada sekolah yang berada pada daerah kritis air bersih, maka mencuci tangan dengan air mengalir selama 20 detik merupakan sebuah kemewahan. Sulitnya akses terhadap air bersih juga menjadi masalah yang saya alami. Sehingga mewajibkan setiap siswa membawa air bersih (1 botol aqua 150 ml) dari rumah masing-masing menjadi solusi yang harus diambil oleh pihak sekolah.

Namun solusi ini juga mendapat pertentangan dari orangtua siswa. Hal ini dikarenakan ketersediaan air bersih di rumah mereka pun jumlahnya terbatas. Oleh karenanya, jika rencana pemerintah masih sesuai jadwal dimana mengizinkan PTM dilaksanakan pada Juli, maka faktor ketersediaan air bersih perlu mendapat perhatian semua pihak.

Selain itu penerapan 3M di lingkungan sekolah juga menemui tantangan lain. Tantangan ini sebagai akibat dari pandangan setiap orang terkait mewabahnya Covid-19 tidak sepenuhnya sama. Pandangan yang berbeda ini berasal dari siswa, orangtua, ataupun guru membuat setiap orang dalam menjangkau peristiwa dengan respons yang tidak seragam.

Pandangan-pandangan semisal Covid-19 adalah hasil dari sebuah konspirasi elite dunia, Covid-19 adalah hasil dari dinamika politik global, Covid-19 adalah penyakit hanya untuk orang kaya ataupun menganggap Covid-19 adalah virus yang biasa-biasa saja adalah beberapa pandangan liar yang masih menghinggapi isi kepala sebagian masyarakat kita. Pandangan seperti ini mengakibatkan penerapan 3M oleh siswa di sekolah sebagai sebuah upaya pencegahan masih belum maksimal.

Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak belum dipahami siswa sebagai sebuah tindakan adaptif untuk melindungi diri, tetapi dipandang sebagai sebuah tindakan pemaksaan.

Bukan Hanya Guru

Vaksinasi Covid-19 bagi kelompok tenaga pendidik bukanlah jawaban akhir dari persoalan bagaimana mewujudkan PTM yang aman di sekolah. Penerapan 3M secara ketat masih merupakan tembok kokoh yang menghalangi jalan terwujudnya PTM yang aman di sekolah . Berpijak dari tantangan yang saya gambarkan di atas, keberhasilan PTM bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab guru.

Karenanya, jika semua tenaga pendidik di Indonesia sudah divaksin dan PTM kembali dilangsungkan, maka perlu kerja kolaboratif yang melibatkan semua pihak baik guru siswa dan orangtua. Kerja kolaboratif adalah kendaraan untuk menapaki jalan menuju PTM yang aman dari gangguan Covid-19.

Jefrianus Kolimo guru di SMPN Satu Atap Eirobo, Sabu Raijua

Lihat juga Video: Sekolah di Pangandaran Gelar Pembelajaran Tatap Muka

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)