Kolom

Tarik Ulur Pembelajaran Tatap Muka

Tundung Memolo - detikNews
Selasa, 16 Mar 2021 13:52 WIB
Sejumlah sekolah di Kabupaten Bogor, mulai melakukan uji coba belajar mengajar tatap muka. Salah satunya adalah SMAN 1 Citeureup.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Mendikbud Nadiem Makarim menyatakan belajar tatap muka di sekolah bisa dimulai pada Juli 2021. Salah satu sebabnya adalah vaksinasi Covid-19 untuk tenaga pendidikan ditargetkan rampung pada Juni 2021. Skema tatap muka, sebagaimana disampaikan Pak Nadiem, tidak 100% belajar tatap muka seminggu full, namun disiasati dengan 2 sampai 3 kali seminggu. Tentu saja dilakukan dengan sistem rotasi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Pertimbangan utama lainnya bahwa banyaknya siswa yang dikhawatirkan akan putus sekolah serta kesulitan orangtua mendampingi belajar anak ketika di rumah. Opini Pak Nadiem di atas tentu dikuatkan oleh fakta di lapangan, bahwa kebosanan siswa belajar di rumah semakin bertambah. Bahkan temuan di lapangan, pada jam sekolah banyak siswa yang keluar rumah untuk pergi ke tempat-tempat tertentu.

Di sisi lain, jumlah terkonfirmasi positif Covid-19 masih bertambah yang kata epidemolog merupakan hasil dari pilkada dan liburan nataru. Akibatnya sektor pendidikan pun akhirnya jalan di tempat. Pembelajaran tatap muka yang sedianya akan dilakukan pada Januari 2021, akhirnya ditunda sampai kisaran Juli 2021.

Kuatnya rencana tatap muka pada Juli 2021 ini dibarengi sasaran vaksinasi Covid-19 untuk tenaga pendidikan mencapai angka 5,5 juta, yang akan rampung pada Juni 2021. Kegiatan vaksinasi untuk tenaga pendidikan ini telah dimulai di SMAN 70 Jakarta. Meski demikian, akankah program vaksinasi ini terus berjalan serta bagaimana kesiapan tenaga pendidikan menghadapinya, ini yang menjadi tanda tanya.

Artinya, mampukah pemerintah menyelesaikan vaksinasi untuk tenaga pendidikan ini selama 4 bulan ke depan dengan capaian target 5,5 juta jiwa tersebut? Lalu langkah apa sajakah yang dilakukan oleh pemerintah untuk mempercepat sampainya vaksin pada tenaga pendidikan tersebut, ini pertanyaan yang perlu secepatnya pemerintah menjawab hingga mensosialisasikan. Ingat bahwa jutaan tenaga pendidikan tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan beragam geografis serta persepsi tentang vaksin.

Di sisi lain, kekhawatiran timbulnya kluster sekolah tentu masuk akal, karena transmisi penularan Covid masih terus meningkat. Sehingga beberapa kepala daerah banyak yang memutuskan untuk menetapkan belajar dari rumah dengan mengefektifkan pembelajaran secara daring.

Ada yang perlu digarisbawahi dan diberikan catatan kita bersama bahwa fakta di lapangan masih dijumpai keikutsertaan siswa dalam pembelajaran secara daring masih rendah dengan berbagai alasan yang dikemukakan. Di antaranya adalah kuota habis, sinyal tidak mendukung, serta kesulitan konsentrasi saat belajar di rumah.

Di perkotaan misalnya, banyak siswa yang menggunakan kuota utama bantuan Kemendikbud justru digunakan untuk bermain game. Adapun di daerah pedesaan, banyak siswa yang membantu orangtua untuk bekerja pada jam-jam belajar sekolah serta pergaulan dengan lingkungan luar yang kurang kondusif.

Keprihatinan-keprihatinan di atas tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Setidaknya ada dua hal yang bisa diambil, yaitu pemerintah melakukan langkah-langkah pemercepatan vaksinasi untuk tenaga pendidikan sehingga rampung sebelum ajaran baru, selanjutnya jaminan kesiapan dari sekolah untuk menyambut siswa perlu segera direalisasikan. Jangan sampai siswa, orangtua, dan guru masih menunggu kapan dan kapan pembelajaran tatap muka terlaksana.

Jika dua hal di atas diabaikan, maka peluang pembelajaran tatap muka terlaksana akan semakin mengecil. Akibatnya akan semakin menguatkan bahwa kebijakan pembelajaran tatap muka yang digulirkan selama ini masih menjadi tarik ulur.

Tundung memolo, M.Sc guru SMP Negeri 3 Kepil, Wonosobo


(mmu/mmu)