Kolom

Bangkitnya Edukator Kesehatan di Media Sosial

Reyner Valiant Tumbelaka, Clarissa Azalia Maheswari - detikNews
Senin, 15 Mar 2021 15:10 WIB
BERLIN, GERMANY - SEPTEMBER 19:  A shopper ltries out the new Apple iPhone 6 at the Apple Store on the first day of sales of the new phone in Germany on September 19, 2014 in Berlin, Germany. Hundreds of people had waited in a line that went around the block through the night in order to be among the first people to buy the new smartphone, which comes in two versions: the Apple iPhone 6 and the somewhat larger Apple iPhone 6 Plus.  (Photo by Sean Gallup/Getty Images)
Foto ilustrasi: GettyImages
Jakarta - Banyaknya berita dari berbagai sumber yang beredar di masyarakat yang tak terbendung membuat masyarakat harus lebih bijak dan teliti dalam menyaring informasi yang dapat dipercaya. Hal ini sangat penting karena informasi yang akurat dapat menciptakan perubahan perilaku yang signifikan terhadap gaya hidup individu dan kelompok.

Seiring dengan perkembangan informasi yang semakin pesat terutama dalam beberapa tahun belakangan, para edukator kesehatan yang sebelumnya menggunakan media sosial untuk konsumsi pribadi telah mengubahnya menjadi alat untuk membahas berbagai isu kesehatan (contohnya: antivaksinasi)

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam melawan virus corona, salah satunya dengan program vaksinasi. Para edukator kesehatan pun juga turut serta berkontribusi dalam memerangi virus ini melalui konten edukasi yang mereka bagikan melalui media sosial.

Para content creator dari kalangan health educator meluangkan waktunya untuk melakukan riset yang mendalam dan mengemasnya dengan cara yang sederhana dan menarik agar dapat menghasilkan konten yang berkualitas dan mudah dimengerti oleh masyarakat. Mereka berusaha untuk menjadi jembatan antara ribuan riset yang telah dilakukan para peneliti dan masyarakat awam agar pesan dapat tersampaikan. Hal ini mereka lakukan semata-mata untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Indonesia.

Informasi yang biasanya hanya dapat dinikmati satu arah melalui media masa, kini dapat terasa lebih dekat dengan adanya komunikasi dua arah melalui sosial media. Masyarakat dapat berinteraksi secara langsung dengan para health educator dengan harapan dapat menekan angka hoaks yang beredar.

Selain dapat berinteraksi secara langsung melalui fitur live pada berbagai platform, masyarakat dapat memilih dan menyesuaikan bentuk media sosial seperti apa yang paling cocok dengan mereka. Sebagai contoh platform Instagram yang menyajikan informasi dalam bentuk caraousel yang hadir dengan gambar dan informasi singkat sehingga masyarakat dapat mendapat informasi dari segi visual.

Selain itu ada platform Youtube yang menyajikan informasi dalam bentuk video berdurasi agak panjang, atau platform TikTok yang menyajikan informasi dalam bentuk video singkat dengan diselipkan gerakan-gerakan lucu yang membuat masyarakat dapat menyerap ilmu dengan cara yang menyenangkan.

Berikut merupakan para health educator dengan ribuan bahkan ratusan ribu pengikut di media sosial yang telah mencurahkan ilmunya dengan konten yang berkualitas. Mulai dari Profesor Ari Fahrial Syam, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dengan akun Instagram @dokterari yang kerap melakukan live streaming dan membuka forum diskusi untuk memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.

Ada juga yang lebih banyak membahas berita seputar Covid 19 terkini melalui akun spesialis penyakit dalam lainnya, RA Adaninggar dan Decsa Medika berada di belakang akun @ningzsppd dan @dokterdecsa, memberikan informasi dan edukasi tidak hanya tentang penyakit dalam secara umum, tetapi juga memerangi informasi yang menyesatkan tentang protokol perawatan kesehatan dan vaksinasi Covid-19.

Berfokus pada pandemi, kami memiliki @pandemictalks, yang salah satu inisiatornya adalah Kamil Muhammad, seorang peneliti Indonesia di Jepang yang fokus pada bedah saraf, atau @adamprabata, Adam Prabata adalah kandidat PhD di bidang ilmu kedokteran yang juga berbasis di Jepang.

Tidak hanya fokus pada situasi pandemi dan informasi, dokter profesional lainnya mengikuti tren yang baik dan layak ini, membangun media sosialnya untuk mengedukasi sesuai bidang kedokteran yang dikhususkan dan diminati. Sebagai contoh yaitu dr. Richard Lee, MARS, AAAM yang kerap membagikan informasi seputar krim berbahaya untuk para wanita melalui kanal Youtube dan TikTok-nya.

Ada juga Ayman Alatas, @aymanalts dengan tingkah lucunya membahas mengenai hoaks seputar kesehatan yang beredar di masyarakat melalui platform TikTok. Dewa Nyoman, @dr_dewa, mendidik masyarakat dan dokter lainnya tentang cara menghadapi medikolegal, dan @dokterpendaki di belakangnya adalah seorang ahli bedah ortopedi dan penggemar pendakian gunung yang memberikan wawasan tentang pengobatan luar ruangan.

Dan, masih banyak lagi. Mereka juga melakukan kolaborasi guna menghadirkan audiens baru dan ide-ide baru mengenai bagaimana mengedukasi masyarakat.

Dengan adanya para health educator yang mau berbagi ilmu melalui media sosial mereka, kebenaran informasi yang didapat akan mencapai jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan cara yang lama. Terlebih lagi free access movement ini telah mengubah cara dokter menyampaikan promosi kesehatan dari sumber-sumber terpercaya kepada masyarakat yang pada akhirnya dapat menggeser dan menghilangkan sekat-sekat sosial maupun geografis sehingga dapat menembus berbagai lapisan masyarakat bahkan populasi yang dulunya sulit dijangkau.

Tercurahnya banyak ilmu yang dapat didapat secara murah tapi tidak murahan ini merupakan suatu hal yang patut disyukuri dan dimanfaatkan.

dr Reyner Valiant Tumbelaka, M.Ked.Klin, Sp.OT dan dr. Clarissa Azalia Maheswari

(mmu/mmu)