Jeda

Jika Tidak Pecah, Pecahkanlah!

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 14 Mar 2021 10:34 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Libur tanggal merah menjelang weekend kemarin, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Bandung (tentu saja, tetap dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat). Teman yang menjadi pemandu saya selama menginap semalam di sana mengajak saya ke sebuah tempat nongkrong baru, sebuah cabang dari jaringan kafe yang sedang hits di sejumlah kota --di Bandung sendiri ada lebih dari satu cabang. Dia sendiri juga belum pernah ke kafe itu, hanya mendapat informasi dari temannya.

Cabang yang kami kunjungi tersembunyi di kompleks sebuah hotel lama. Tidak ada plang papan nama. Kami harus bertanya pada satpam penjaga, dan ditunjukkan bagian belakang. Tapi di mana? Kami hanya mendapati gerumbul pepohonan --ada jalan setapak, tapi nyaris tak kelihatan. Karena hanya itu satu-satunya kemungkinan, kami pun menyusurinya, dengan menyibak dedaunan. Di ujung, kami menemukan sebuah teras rumah tua dengan tulisan nama kafe yang kami cari.

Memasuki kafe itu, kami seperti orang bingung. Tempatnya terbilang aneh. Kami seperti bukan memasuki sebuah bangunan, melainkan justru hanya melewati sebuah gapura menuju area yang luas. Ada ruang terbuka di bagian tengah, dengan banyak pepohonan dan pernak-pernik suvenir. Ada bar di sebuah sudut. Kami terus menjelajah ke bagian-bagian lain, ada bagian seperti ruang tamu, ada bagian seperti ruang khusus yang lebih tertutup, lalu pintu-pintu menuju ruang-ruang lainnya lagi. Di bagian belakang ada dinding kaca dan pintu menuju ke luar, dan di luar lagi-lagi rerimbun pohon, semacam kebun, dan satu set sofa di satu sisinya.

Kembali ke dalam, kami mencoba melihat-lihat ke sisi yang lain, dan pemandangan pun sama, ruang, ruang, ruang....tempat ini luas sekali! Seperti sebuah rumah tua yang baru saja dipugar, tapi bukan untuk direnovasi, melainkan justru dihancurkan. Dinding-dinding yang menghubungkan antar-ruang menganga seperti pintu goa, dengan pinggiran bata yang dibiarkan tersisa.

Melihat ke atas, pandangan langsung menembus rangka-rangka genteng, tidak ada atap langit-langit eternit. Secara keseluruhan, tempat itu terkesan berantakan, seperti rumah yang sudah lama tidak dihuni, kotor, bahkan ada satu sudut yang terkesan gelap dan pengap. Kami datang menjelang sore. Dan, yang lebih membingungkan: di mana-mana orang! Duduk-duduk, ngobrol, berdiri, lalu-lalang, berfoto-foto --di mana-mana!

Saya dan teman saya hanya bisa saling pandang, dengan tatapan heran: tempat seluas ini, tidak menyisakan satu bangku pun? Akhirnya kami ke sudut dekat toilet, dan melihat satu set meja-kursi yang sepertinya baru saja ditinggalkan orang-orang yang sebelumnya menempatinya. Setelah dibersihkan oleh pramusaji, kami pun duduk, memesan minuman dan camilan, menyalakan rokok, dan langsung mengobrolkan apa yang baru saja kami saksikan dan alami: fenomena apa ini?

***

Salah satu pasal dari seni berpikir kreatif yang diajarkan oleh Rod Judkins berbunyi: jika belum rusak, rusaklah. Duduk di kafe itu, sambil sesekali memotret dinding yang jebol, atap yang menganga, dan berbagai kekacauan lainnya, saya teringat itu.

Rod Judkins adalah seorang seniman, penulis, dan dosen. Ia menulis sejumlah buku tentang berpikir kreatif, yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Dia juga mengajarkan berpikir kreatif di St. Martin's College of Art, sekolah seni di London yang terkenal di dunia. Kuliah-kuliahnya mengajarkan bagaimana kreativitas dapat menjadi manfaat praktis bagi individu, perusahaan, dan bisnis dalam bidang apapun.

Dalam bab "Jika Belum Rusak, Rusaklah" di bukunya yang berjudul The Art of Creative Thinking, ia mengisahkan "pertemanan"-nya dengan The Venus de Milo, patung yang berdiri di lobi kampus tempat dia mengajar selama lima tahun. Patung venus yang asli tersimpan di Museum Louvre, Paris namun popularitas patung ini melintasi ruang dan wahana, hadir sebagai gambar di mug, celana, hingga papan luncur, dan direproduksi sebagai sabun, tempat garam, hingga mainan.

Patung tersebut juga telah menginspirasi seniman-seniman besar, termasuk Dali. Namun, sebegitu hebatnya, diakui sebagai lambang klasik kecantikan, patung Venus de Milo sebenarnya penuh kesalahan. Ia merupakan patung anggun seorang dewi tanpa nama yang misterius, dan telah menarik dan mempesona dunia sejak ditemukan pada 1820.

Patung venus adalah jenis patung klasik yang mengikuti komposisi spiral yang luar biasa dinamis, sebuah pemodelan indah dari sosok yang lembut, dengan kepala sedikit menoleh (Judkins menggambarkan: tatapannya tidak pernah bertemu dengan mata kita). Terdapat banyak patung kuno venus, namun Venus de Milo dianggap memiliki pesona tersendiri, justru karena ia tidak sempurna.

Semua jejak cat asli telah menghilang, demikian juga lengannya telah hilang --seperti tubuh yang rusak setelah dimutilasi. Tidak ada yang tahu pose aslinya --mungkin sedang memegang apel, atau cermin di mana dia mengagumi bayangannya. Namun "kerusakan" itu menambah misteri dan daya tariknya. Kata Judkins: keindahan atas ketidaksempurnaan.

***

Dalam hidup ini, kadang lebih mencerahkan untuk menghargai ketidaksempurnaan. Obsesi kita pada kesempurnaan kerap berujung kekecewaan. Ada rasa kebebasan untuk menerima alternatifnya --yang tidak sempurna.

Tempat nongkrong baru anak-anak gaul Jaksel, M Bloc di dekat Terminal Blok M, diluncurkan dengan cepat, sebelum disempurnakan. Kalau kebetulan Anda mengunjunginya pada hari-hari ketika baru saja dibuka untuk publik, maka akan menyaksikan dinding yang baru saja dihancurkan, dan elemen-elemen lain dari kompleks perumahan milik sebuah perusahaan umum yang telah mangkrak selama 25 tahun itu yang sebenarnya belum siap seratus persen untuk dibuka. Namun, semuanya terus ditingkatkan seiring berjalannya waktu.

Sebuah proses inovasi yang berusaha untuk mencapai sesuatu yang lengkap dan sempurna tanpa cacat itu terlalu lambat dan terbatas. Inovasi membutuhkan kekacauan, kesalahan, dan bahkan kegagalan, dan justru dari situ menumbuhkan ide-ide baru. Organisasi, gagasan bisnis, pemikiran, penemuan, selalu bergulat dengan teka-teki bagaimana menumbuhkan budaya inovatif, dengan semua kekacauan dan kesalahan yang menyertainya, ketika "orang perfeksionis" bekerja untuk menolak ketidaksempurnaan.

Ada kalanya kita berada di bawah tekanan, dan dituntut cepat, untuk mengambil sebuah keputusan. Perfeksionisme dapat menjadi hambatan untuk ide-ide baru --ia merupakan sebuah perhentian. Standar yang tinggi tentu saja penting, tak ada perdebatan lagi soal itu. Tapi, perfeksionisme adalah hal lain. Baik bagi kita, dan itu memang mungkin, untuk senantiasa menerapkan standar yang tinggi. Namun, apakah ada manfaatnya untuk mencapai kesempurnaan --sesuatu yang bebas dari kesalahan dan kekurangan?

Baru-baru ini, beranda Facebook saya lumayan ramai dengan aktivitas NAD Challenge 2021. NAD kependekan dari "Nulis Aja Dulu", sebuah komunitas online para penulis, yang kini anggotanya hampir 20 ribu orang. Tahun ini, bekerja sama dengan sebuah penerbit besar, mereka menggelar kompetisi menulis. Para peserta mengunggah satu tulisan per minggu selama dua bulan --ada 8 tema, fiksi dan non-fiksi. Saya terpapar informasi ini karena beberapa teman Facebook yang saya kenal mengikutinya, dan dari situ saya baru tahu mengenai keberadaan komunitas tersebut.

Membaca tulisan-tulisan mereka, cerita-cerita mereka, yang diikutkan dalam NAD Challenge itu, rasanya begitu menyenangkan. Ada spontanitas. Ada kesegaran. Ada sebuah gairah, yang memberikan alternatif bagi kekakuan formalitas menulis yang kadang mengekang. Nulis Aja Dulu. Saya menimbang-nimbang nama komunitas itu. Bagus juga. Tanpa basa-basi, dan sangat memotivasi. Seperti dulu, pernah ada komunitas bernama Bunga Matahari, dengan tagline-nya yang terkenal: semua bisa berpuisi.

Memang begitulah mestinya. Kalau bercita-cita menjadi penulis atau penyair, ya nulis aja dulu --tidak perlu ditakut-takuti ataupun menakut-nakuti diri dengan ini dan itu. Mau buka kedai kopi atau online thrift shop, langsung mulai saja. Pengen liburan, berangkat! Berusaha, dan lakukan sesuatu dalam ketidaksempurnaan. Jika gagal, kau akan belajar banyak hal. Jika tersesat, kau akan mendapatkan pengalaman baru.

Saya menyesap sisa kopi yang sudah dingin dan mengisap dalam-dalam rokok terakhir saya, lalu untuk kesekian kalinya mengedarkan pandangan ke segala penjuru kafe. Dinding yang terkelupas sana-sini. Lantai yang kusam. Tepi-tepi dinding pemisah ruangan yang tak rapi. Atap yang berantakan. Di luar dinding kaca di sebelah sana: taman yang runggut seperti tak terurus. Segalanya tampak awut-awutan.

Tiba-tiba saya teringat kekecewaan saya karena "salah" memilih hotel tempat menginap. Saya terlalu berpatokan pada foto-foto di situs pemesanan. Ternyata kolam renangnya tak seperti yang saya bayangkan. Lobinya sumpek. Sarapannya crowded. Tapi, hei, bukankah saya masih bisa menikmati makanannya yang lezat, dan terlebih lagi, kamarnya yang nyaman dengan view yang indah? Ini jauh lebih menarik. Segera lupakan kesalahan dan abaikan kekurangan. Atau dalam bahasa Judkins: jika pecah, jangan memperbaiknya; jika tidak pecah, pecahkanlah!

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)