Kolom

Romantisasi Hujan, Hilangnya Lahan, dan Masa Depan Petani

Irwan Nuryadin - detikNews
Sabtu, 13 Mar 2021 14:14 WIB
Ilustrasi anak dan hujan
Foto ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Selama ini kita sering mendengar orang meromantisasi hujan dan aromanya. Situasi yang paling sering diromantisasi adalah ketika rinai hujan pertama kali menyentuh tanah. Ada perasaan bernostalgia, haru, dan bahagia bercampur aduk ditimbulkan oleh aroma hasil perkawinan antara rinai dan permukaan tanah ini. Kita menyebut aroma ini petrikor.

Pujangga, anak muda yang tengah dimabuk cinta, dan para musisi sering menyisipkan kata-kata yang meromantisasi hujan dan aromanya. Paul Kelly, seorang musisi asal Australia bercerita dalam lagunya yang berjudul Petrichor:

It hasn't rained six months or more

Until today, a sudden pour
Now I can smell the petrichor outside
The sighing ground gives up its love

Petrikor, aktor di balik romantisasi hujan pada lirik lagu itu, adalah senyawa geosmin yang dihasilkan oleh bakteri Streptomyces tatkala hujan menyentuh tanah. Saat rinai hujan jatuh membasahi bumi yang berpori, udara dalam pori membentuk gelembung yang mengambang dan membawa aroma yang menyenangkan yang dihasilkan bakteri tadi.

Lantas, mengapa manusia terjebak dalam nostalgia ketika menghirup petrikor ini? Apa hubungannya aroma yang disebabkan tetesan hujan baru yang menyentuh permukaan tanah dengan perasaan bahagia yang berkecamuk di dada?

Senyum Nenek Moyang

Nenek moyang kita dahulu bertahan hidup dengan cara bercocok tanam. Teknik bercocok tanam di masa lalu masih sangat sederhana dan mengandalkan sumber air dari hujan. Saat hujan turun membasahi tanah, senyum nenek moyang kita merekah. Telah terbayang musim tanam; mereka pergi ke ladang yang luas dengan riang gembira dan penuh pengharapan.

Sebelum musim tanam tanaman utama, ladang mereka tanami dengan kacang-kacangan. Inilah pupuk dengan kearifan lokal. Kacang-kacangan mampu mengikat nitrogen dari tanah. Nitrogen sebagai salah satu sumber pupuk, mampu membuat tanaman tumbuh lebih baik. Kelak saat musim tanam tanaman utama datang, tanah lebih kaya akan unsur hara.

Nenek moyang kita dengan bijak mencintai bumi yang telah memberinya makan dengan mengistirahkan tanah setelah masa panen tanpa terburu-buru menanaminya lagi. Ketika masa panen, senyum mereka makin melebar; hasil panen cukup untuk menghidupi keluarga tanpa perlu mengenal benda yang kelak akan dipuja-puja oleh anak cucu mereka sebagai sumber kebahagiaan: uang.

Keistimewaan-keistimewaan di ataslah yang membuat nenek moyang kita memulai musim tanam dengan perasaan bahagia dan penuh pengharapan. Mereka menanti hujan yang turun setelah masa kering yang lama.

Aroma yang tercipta tatkala rinai menyentuh tanah kering tadi digunakan oleh nenek moyang kita sebagai pertanda hujan telah turun meski tempat turunnya hujan berada pada jarak yang cukup jauh dengan posisi nenek moyang kita berada. Sedikit saja senyawa itu muncul, aromanya mampu dihirup oleh leluhur kita. Begitulah cara nenek moyang kita beradaptasi dengan kondisi alam.

Kemampuan menghidu petrikor ini diduga oleh para ilmuwan diturunkan secara genetis kepada kita. Meskipun para pembaca yang saat ini tengah menyimak tulisan ini bukanlah seorang petani, pembaca tetap memiliki kemampuan menghidu petrikor. Setidaknya itulah yang pernah saya baca dalam suatu tulisan yang dipublikasikan di CSIRO, Pusat Penelitian Riset Nasional Australia. Singkatnya, romantisasi aroma hujan ada dalam DNA kita.

Namun, dewasa ini lahan pertanian semakin menyempit digantikan oleh kluster-kluster perumahan mewah yang besaran cicilannya hanya mimpi belaka bagi masyarakat dengan penghasilan UMR. Mirisnya, seringkali rumah-rumah tersebut tidak dihuni dan hanya dijadikan sebagai jalan investasi.

Seperti yang saya alami di kampung halaman saya. Bangunan-bangunan "mewah" --mepet sawah-- mulai berjejer-jejer menyisakan lahan tanam padi yang tinggal seperempat bahu saja.

Harga pupuk yang makin mencekik leher, serangan hama yang terjadi karena kita bernafsu membuat panen tiga kali dalam setahun tanpa mengistirahkan tanah mulai mengikis senyuman petani.

Harga jual panen yang anjlok karena panen raya yang bersamaan, permainan tengkulak serta kebijakan impor yang tidak tepat waktu menambah penderitaan petani. Kebahagiaan, pengharapan dan semangat petani tatkala dimulainya musim tanam perlahan terkikis.

Apalagi keterampilan bertani mulai menghilang di kalangan anak muda. Kaum muda lebih memilih untuk bekerja serabutan di kota ketimbang mluku, tandur, menyiangi rumput atau mbawon hasil panen. Bahkan saya hingga saat ini belum bisa menepati janji kepada eyang saya untuk menjadi penerus pengolah lahan sawah.

Terlampau banyak alasan yang membuat kebahagiaan, semangat, dan pengharapan di kalangan petani luntur.

Mulai Terkikis

Pertanyaan terbesarnya, jika kemampuan manusia meromantisasi aroma hujan diturunkan secara genetis karena pada musim tanam para petani bersuka cita, bagaimana dengan keadaan saat ini? Kebahagiaan petani mulai terkikis, manusia tak lagi menganggap hujan sebagai sebagai sesuatu yang melulu menyenangkan. Bahkan sesekali hujan dikutuk sebagai penyebab banjir oleh manusia seperti saat ini. Sebagian warga Semarang dan Jakarta, misalnya, kompak mengutuk hujan.

Prediksi saya, tidak menutup kemungkinan kemampuan anak cucu kita di masa depan untuk menghidu petrikor akan lenyap seiring hilangnya petani dan lahan. Manusia sudah tidak berbahagia saat hujan baru tiba. Kemampuan menghidu petrikor sudah tidak signifikan lagi untuk manusia.

Akankah kita membiarkan hal itu terjadi? Siapkah kita melihat petani dan ladang sebagai lambang ketahanan pangan serta petrikor sebagai diksi pilihan para pujangga menghilang dari kamus kehidupan?

Saya belum siap. Para sarjana yang menimba ilmu terbaik di bidangnya sebaiknya memulai kembali menghidupkan kepakarannya. Membumikan ilmu yang mereka dapat di kampus nan megah itu. Tak hanya sekadar kerja di bank atau mengejar status kedinasan belaka.

Setelah pagebluk ini berakhir, pemerintah sebaiknya mulai berpikir ulang memberikan kursus keterampilan bertani bagi anak-anak muda yang sudah tak pernah lagi menginjakkan kaki mereka di sawah tadi. Tahun 2030, ketika Indonesia tengah memiliki bonus demografi, semoga tidak menyisakan air mata belaka karena banyaknya pengangguran.

Tentu kita semua masih ingin melihat para pujangga menyisipkan diksi petrikor pada puisi mereka, dan kita semua tetap ingin bernostalgia saat hujan turun sembari menghidu petrikor di senja hari yang indah.

Irwan Nuryadin anak seorang petani, tengah menempuh program pendidikan dokter spesialis anak

(mmu/mmu)