Kolom

Karakter Siswa Daring

Riduan Situmorang - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 12:06 WIB
YOGYAKARTA, INDONESIA - SEPTEMBER 28: Kharisma Anisa Putri (14), uses her broke screen smartphone for studying online using free wifi provided by the village as to help parents with financial difficulties, they pay 30,000 Indonesian Rupiah or around (USD 2) per month amid the Coronavirus pandemic on September 28, 2020 in Yogyakarta, Indonesia. According to the Indonesian Ministry of Education and Culture data nearly 70 million children have been affected by school shutdowns which started in mid-March. Since it closed on March 16, the school has implemented various methods and approaches to support distance learning. Even so, its implementation in the field still faces various obstacles. The problem is limited support facilities, such as laptops, smart phones, and internet data packages. In addition, parents also claim to not have enough time and feel they lack the knowledge to accompany children to learn online. Indonesia is struggling to contain thousands of new daily cases of coronavirus amid easing of rules to allow economic activity to resume. (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)
Foto ilustrasi: Ulet Ifansasti/Getty Images
Jakarta -

Minggu pertama Februari lalu, saya emosional (bukan dalam arti marah) sampai-sampai orangtua melihat bahwa saya menitikkan air mata. Saya pun terkejut. Saya tak menyangka sampai seemosional itu. Hal ini terjadi saat sekolah kami memanggil siswa bermasalah beserta orangtua ke sekolah. Sebelum itu memang, saya sudah menjumpai siswa-siswa bermasalah ke rumahnya. Namun, ada seorang siswa yang membuat saya begitu berkecil hati. Siswa ini termasuk "manja". Ia tak seperti siswa lainnya yang harus membantu orangtua ke sawah/ladang.

Maklum, kebanyakan orangtua siswa adalah petani sehingga bukan hal aneh, pada pagi hari (jam belajar), beberapa siswa malah harus ke sawah/ladang. Nah, ketika siswa "manja" yang bahkan untuk menyapu rumah pun tak disuruh malah bermasalah, saya pikir ia harus diluruskan. Terutama karena saya mendengar bahwa orangtuanya sangat berharap pada anak bungsunya ini. Semester lalu, saat dia sering tidak hadir dalam PJJ, saya menelepon dan memberi pesan singkat. Tetapi, yang bersangkutan tidak menggubris, juga tidak mengangkat telepon saya. Malah, ia memblokir saya.

Semester lalu juga, saya harus mencari-cari alamatnya karena ia diberi surat panggilan. Saat saya tiba di rumahnya dan disambut orangtuanya, siswa tersebut mengaku bahwa pemblokiran kontak saya hanya terpencet. Tetapi, setelah surat panggilan itu dilayangkan, masih di semester lalu, siswa tersebut tetap mendapat dua lagi surat panggilan. Artinya, tidak ada perubahan perilaku dari siswa setelah surat panggilan pertama. Semakin terbukti, karena pada awal Februari, lagi-lagi siswa tersebut tidak pernah hadir pada PJJ sehingga saya meneleponnya dan memberi pesan singkat.

Seakan Bangkit

Dan, oh, untuk kedua kalinya ia memblokir saya! Saya langsung menyusul ke rumahnya. Orangtuanya menyambut saya. Tetapi, saat saya di rumahnya, siswa tersebut mengaku tidak memblokir saya. Ia mengaku kehilangan gawai. Saya penasaran. Saya menyimpan nomor kontak siswa tersebut dengan gawai istri saya. Ternyata, foto profil siswa tersebut kelihatan dari gawai istri saya. Begitu juga dengan gawai orang lain. Bersebab itu, dalam menasihatinya sekaligus juga siswa lain pada saat orangtua dan siswa dipanggil, saya menjadi sangat emosional di hadapan mereka (siswa dan orangtua).

Saya merasa betapa siswa yang seharusnya secara adab Timur bukan karena kami gurunya, melainkan juga karena mereka lebih muda secara usia (dan mereka bersalah, juga butuh), mesti mempunyai bahasa yang baik untuk mengirimkan pesan singkat kepada gurunya. Tetapi, banyak dari mereka yang hanya memberikan huruf /p/ kepada gurunya. Teramat banyak kisah serupa, bahkan lebih dramatis dari situ. Ada yang mengeluarkan guru dari WAG. Ada yang betul-betul membangkang di WAG dengan menuliskan kata "malas" ketika guru memberi instruksi dari WAG.

Kisah-kisah ini saya dapatkan dari curhat sesama guru. Barangkali, karena mengingat curhatan sesama guru inilah kemudian mengapa saya menjadi sangat emosional saat berbicara kepada mereka. Tetapi, saya sangat bersyukur, sejauh ini, siswa yang bersangkutan sudah berubah drastis. Semoga tidak hanya di awal-awal ini. Itulah kerinduan seorang guru. Guru itu seperti orangtua. Hatinya yang sempat koyak karena sikap anaknya akan dengan mudah sembuh kembali setelah melihat si anak berubah. Kebahagiaan guru terletak pada perubahan siswa ke arah yang lebih baik.

Saya tahu, kisah yang saya alami ini tidak seberapa dengan guru lainnya. Satu hal yang kemudian kita sadari betapa karakter siswa tidak terbangun dengan baik di masa PJJ ini. Ketidaksopanan siswa dalam mengirimkan pesan singkat kepada gurunya adalah contoh kecil betapa selain malas menuliskan kalimat, ia juga tak punya rasa segan lagi pada sosok yang lebih tua. Karena itulah, saya termasuk orang yang sangat curiga bahwa karakter siswa di masa daring ini sangat rapuh. Mental instan dan malas mereka seakan bangkit setelah tahu bahwa mereka akan "lulus" otomatis.

Karena sindrom "lulus" otomatis ini, mereka lantas terjangkit penyakit tidak mau belajar, apalagi berjuang. Hal ini tentu tidak baik untuk masa depan bangsa kita. Bagaimana sebuah bangsa akan bangkit jika penduduknya bermental malas? Jadi, ini bukan soal karakter terkait sopan atau tidak. Ini juga menyangkut soal daya juang siswa yang malah melempem di masa pandemi ini. Sebab, kata Davidson (2008), character education isn't just about helping kids get along. It is about teaching them to work hard, develop their talents, and aspire to excellence ini every area of endeavour.

Semestinya, pada masa PJJ, karakter siswa bisa dibangun. Siswa bisa bermental kerja keras, bukan malah malas belajar karena "lulus" otomatis. Lagipula, pendidikan karakter moda jarak jauh bukan hal baru, malah sangat potensial. Johnson dam Williams (2010) dalam bukunya The Phenomenon of Character Development in Distance Education Course mengemukakan hasil penelitian bahwa dalam jarak jauh, justru mengalami perkembangan karakter, setidaknya pada empat bidang: performance character traits and strengths, moral character, relational character, dan spiritual character.

Masih Banyak Peluang

Tetapi, karakter ini terbangun tak cukup dengan mengandalkan pertemuan virtual dengan siswa. Memang, pada beberapa peristiwa, siswa tetap disiplin. Namun, ada siswa lain yang malah melempem. Pada siswa seperti ini, pertemuan virtual tidak cukup. Peran tripusat pendidikan (sekolah, keluarga, masyarakat) menjadi sangat dibutuhkan. Wawasan menghadapi anak yang sudah melek gawai harus diberikan kepada orangtua. Sebab, dalam pengalaman kami, orangtua mengaku bahwa anaknya selalu belajar dengan menggunakan gawainya sampai-sampai tak bisa diganggu hanya untuk menyapu rumah.

Tetapi, fakta berbicara bahwa tugas si anak yang selalu memegang gawai itu tak memberikan satu pun tugasnya kepada guru. Karena itu, kepada orangtua harus diberi wawasan bahwa siswa sering membuat gawai sebagai alibi belajar, padahal asyik main game atau membuka medsos. Orangtua dan guru harus bertemu rutin supaya jam memakai gawai pada siswa dibatasi pada jam tertentu, terutama pada jam pembelajaran saja. Di luar jam itu, siswa rentan semakin tidak terarah mengingat waktunya akan habis untuk main game, bahkan menonton video tidak senonoh di berbagai aplikasi.

Pada siswa yang sudah masuk radar kami, perlakuan seperti itu membuat siswa semakin disiplin. Artinya, pada masa PJJ ini, karakter siswa tidak bisa dibangun hanya dengan mengandalkan guru. Komunikasi sekolah dan orangtua harus intens. Di samping itu, keseiramaan guru dan orangtua untuk mengarahkan anak didik pun sangat dibutuhkan. Jika saja salah satu dari tripusat pendidikan ini, seperti guru yang terlalu membela anak atau sebaliknya, pelan-pelan hal itu akan membuat siswa merasa bahwa ia didukung satu pihak untuk melanggar aturan. Singkatnya, ternyata masih banyak peluang bagi kita untuk melahirkan siswa-siswa berkarakter di masa PJJ ini.

Riduan Situmorang guru SMAN 1 Doloksanggul-Humbang Hasundutan, Medan

(mmu/mmu)