Kolom

Apa Sebaiknya Guru Jadi Selebgram Saja?

Dyah Rengganis - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 10:19 WIB
Ilustrasi Instagram
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, saya sedang menilai tugas-tugas online siswa ketika sesuatu mengusik saya. Karena bosan memasukkan nilai gaib alias banyak siswa yang tidak mengumpulkan tugas, saya membuka Twitter. Terdapat beberapa tren pada hari itu, dan yang paling menarik perhatian saya adalah Rachel Vennya. Hmm, ada apa?

Rachel Vennya adalah seorang selebgram terkenal dengan jutaan pengikut di Instagram dan sejauh yang saya ketahui, dia juga menjual produk-produk fashion untuk bayi. Setelah saya selidiki ternyata pada saat itu Rachel sedang melayangkan gugatan cerai pada suaminya. Para warganet pun heboh mem-posting cuitan mengenai hal ini. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang mengaku jadi banyak belajar dari kasus yang sedang dialami oleh selebgram tersebut.

"Dari Rachel Vennya kita belajar..." begitu cuitannya. Hal ini tentunya mengusik perhatian saya. Jika biasanya belajar itu identik dengan buku pelajaran, sekolah, dan guru. Sekarang, ternyata kita juga bisa belajar dari selebgram.

Tak hanya selebgram Rachel Vennya saja yang sering dijadikan bahan pelajaran. Baru saja kemarin, ada Lora dan Gaga yang membuat orang-orang jadi banyak belajar juga. Jika menengok beberapa tahun ke belakang, ada nama Awkarin yang juga menyita perhatian para warganet yang haus akan belajar. Masih banyak nama-nama selebgram lainnya yang jumlahnya mungkin melebihi jumlah guru di suatu sekolah.

Saya perhatikan, seringkali apabila terjadi kasus yang menimpa para selebgram, entah itu kasus sindir-menyindir mengenai kemewahan, atau kasus hubungan antarindividu selebgram yang melibatkan perasaan, atau kasus saling "menumpahkan teh" kelakuan selebgram lain, para warganet pun setia mengikuti kasus mereka dan bahkan menjadikannya sebagai bahan belajar.

Lah, itu kan hidup, hidup mereka, kenapa malah kita yang menjadikannya sebagai bahan belajar? Begitu pikir saya waktu itu. Karena saya penasaran, saya mencoba menganalisis sendiri kenapa orang-orang tertarik dengan selebgram dan konten-kontennya.

Perubahan gaya hidup zaman sekarang, dari yang biasanya dimulai dari tradisi lisan, kemudian beralih menjadi tradisi digital-screen-time atau apalah namanya, memang secara langsung bisa mengubah cara seseorang berpikir dan belajar. Seringkali orang lebih suka melihat apa yang ditayangkan langsung dan mana yang mudah diakses, misalnya dari HP yang sekarang ini sudah merupakan kebutuhan selain pangan, sandang, papan. Dan, tentunya yang lebih menarik untuk disimak. Konten mereka pun seringkali dikemas sedemikian rupa sehingga membuat orang-orang jelata berandai-andai dan menginginkan kehidupan mereka.

Gaya hidup dan pola pikir selebgram itu tanpa sadar mempengaruhi orang-orang. Oleh karena itu, orang-orang sekarang menjadikan selebgram sebagai idola, sebagai sesuatu yang menuntun mereka dalam kehidupan ini. Orang-orang menyebutnya sebagai life goals yang kemudian menjelma menjadi berbagai goals lain. Misalnya relationship goals, wedding goals, body goals, travel goals, dan lain-lain. Masih ada banyak goals-goals lain yang dikemas menarik dan terlihat membahagiakan sehingga orang kebanyakan mengikutinya dan dijadikan sebagai pedoman hidup.

Orang kebanyakan ini tentu saja tidak hanya orang yang sudah dianggap dewasa oleh negara. Anak-anak usia SD, SMP, SMA, kebanyakan sudah mempunyai akun Instagram sendiri. Para pelajar ini sering menghabiskan waktu dengan memperhatikan konten selebgram yang diidolakannya. Mereka lebih menyukai para selebgram yang mempunyai cara komunikasi yang lebih baik daripada guru mereka.

Nah, berdasarkan analisis ini, saya berpikir bahwa para pelajar sekarang lebih mengidolakan selebgram daripada guru mereka yang dianggap sudah kuno, ketinggalan zaman, dan tidak gaul. Ujung-ujungnya, mereka jadi tidak perhatian lagi dengan guru. Tugas daring tidak dikerjakan, nilai banyak yang kosong, dan guru akan dibuat pusing saat membuat laporan hasil belajar.

Saya yakin masalah ini tidak hanya dihadapi oleh sekolah saya saja. Cuitan di Twitter beberapa waktu lalu juga membuat saya merasa tidak sendiri. Waktu itu saya menemukan dari akun-akun bahwa banyak guru mengeluhkan murid-muridnya hanya sedikit yang mengerjakan tugas.

Padahal, sesuai anjuran pemerintah, tugas daring itu sudah disesuaikan dengan kemampuan murid. Materi pembelajaran yang sangat banyak itu diringkaskan agar menjadi ringan. Tugasnya pun sedikit; tidak sampai membuat orang-orang sekelurahan gotong royong untuk menyelesaikannya. Para guru berusaha mendesain seefisien mungkin agar pihak murid tidak merasa terbebani dalam menghadapi pembelajaran daring.

Bahkan, demi tercapainya pembelajaran daring yang maksimal, guru pun menjadi pembuat konten dadakan. Misalnya, membuat video pembelajaran untuk diunggah ke aplikasi agar mudah diakses.

Dibandingkan dengan guru, tentu saja selebgram itu punya tim desain yang canggih. Urusan bikin konten menarik tentu saja mudah sekali. Bandingkan dengan guru yang bekerja sendirian tanpa tim. Meskipun sudah ada aplikasi untuk menyunting konten, konten yang dibuat tetap saja dirasa tak menarik. Karena itu tak heran mereka lebih suka belajar dari selebgram Rachel Vennya daripada Bu Rejeki guru Ekonomi.

Haruskah ada konten tertentu yang dibuat oleh guru yang mirip-mirip selebgram agar murid tertarik untuk belajar?

Sebenarnya, guru di masa pandemi ini juga hampir mirip dengan selebgram; para guru tidak bisa bertemu murid secara langsung dan para selebgram itu juga tidak bisa bertemu dengan pengikut mereka secara nyata. Guru dan selebgram juga sama-sama memberikan bahan belajar. Bedanya, konten-konten pembelajaran yang dibuat guru tidak semenarik yang dibuat oleh para selebgram itu.

Lalu, bisakah dijadikan solusi bahwa mungkin sebaiknya guru menjadi selebgram saja agar para murid mau mengikuti dan menyimak konten pembelajaran?

Mungkin tak ada salahnya juga guru jadi selebgram. Tinggal buat akun instagram dan sisipkan di antara materi pelajaran, konten yang mirip-mirip dengan punya selebgram itu. Misalnya, video Bu Rejeki guru Ekonomi yang sedang unboxing tas dan sepatu yang baru saja dibeli lewat olshop, kemudian membahas tentang pendapatan perkapita penduduk suatu negara yang ideal agar bisa belanja di olshop berkali-kali tanpa mikir.

Atau, video Pak Bambang guru olahraga yang sedang nangis-nangis karena diputus oleh pacar karena body shaming, kemudian membuat konten olahraga dan diet sehat agar bisa mencapai body goals sekaligus memberi materi belajar kepada muridnya. Muridnya akan dapat tiga materi belajar sekaligus; materi penjasorkes, materi body goals, dan materi melupakan mantan.

Bukannya saya cemburu dengan selebgram-selebgram itu. Tidak, saya tidak cemburu dengan perhatian orang-orang pada mereka. Saya juga tidak cemburu dengan uang ratusan juta yang mereka hasilkan dibandingkan dengan ratusan ribu yang saya dapatkan. Ah, sudahlah! Namanya juga zaman sudah berubah. Atau dibalik saja ya, biar selebgram itu yang jadi guru agar murid-murid tertarik belajar? Kan mereka sudah banyak dijadikan bahan belajar.

Dyah Rengganis guru

(mmu/mmu)