Jeda

Perempuan yang Merokok

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 07 Mar 2021 11:46 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Akhir Januari lalu saya membagikan tulisan dari web perempuanmembaca.com berjudul Bunyai dan Kretek yang ditulis oleh Farah Firyal. Saya membagikan tulisan tersebut ke dinding Facebook saya, dan saya tambahi narasi tentang pengalaman saya bersinggungan dengan perempuan dan rokok. Unggahan saya tadi mendapat banyak respons dari teman-teman Facebook saya. Rata-rata mereka bercerita pengalamannya masing-masing tentang hubungan perempuan dan rokok. Sebenarnya tidak ada masalah dengan komentar mereka sampai ada seseorang yang menghubungi saya via pesan pribadi.

Dia mengaku kecewa dengan saya karena menurutnya saya membagikan info yang sesat dan mengajak perempuan untuk melakukan perbuatan yang tidak benar, yaitu merokok. Katanya mau jadi apa perempuan kalau diberi legitimasi untuk merokok. Ia juga menduga kalau saya membagikan tulisan itu karena saya adalah teman seorang seleb Facebook yang terkenal dengan aktivitas merokoknya. Eh, lhadalah kok jadi ke mana-mana! Saya pun menjelaskan pelan-pelan.

Persinggungan saya dengan rokok dimulai dari ibu saya yang suka menyetok kertas papir atau di tempat kami disebut seg. Kertas papir ini selain digunakan untuk menjatah para pekerja di sawah yang suka merokok tingwe (linting dhewe, melinting sendiri) juga untuk memberi catatan untuk murid-murid ibu saya. Ibu saya dulunya guru Taman Kanak-Kanak. Seg itu biasanya digunakan untuk mencatat biaya SPP yang belum dibayarkan murid-muridnya. Catatan itu yang diberikan kepada muridnya untuk disampaikan kepada orangtuanya.

Ibu saya sering bingung karena seg-nya hilang. Tentu saja pelakunya adalah saya. Saya suka mengambil seg itu untuk saya emut karena rasanya manis. Kertas papir yang paling saya sukai adalah yang bercap Nanas. Entahlah, manisnya pas menurut lidah saya. Kertas papir merek ini juga yang dibuat kocokan arisan ibu-ibu di desa saya.

Bapak saya perokok. Sepanjang yang saya ingat dia suka merokok merek Bentoel, Tuton, dan yang terakhir yang lebih sering adalah Senior. Ini mungkin akan menjadi perdebatan sekarang soal bad parenting ya, tapi sejak kecil saya sering disuruh bapak saya membeli rokok. Biasanya saya minta upah jajan chiki-chiki atau kalau di desa saya menyebutnya busbus bermerek Gulai Ayam.

Saya juga sering ditugaskan ibu atau simbah putri saya menyiapkan rokok di gelas kalau ada acara slametan di rumah atau digunakan sebagai pelengkap pancen (semacam sesaji untuk leluhur). Saya jadi terbiasa dengan bau tembakau meski orangtua saya kurang suka menanam tembakau karena malas ribet dan lebih suka menanam tanaman pangan. Latar belakang saya yang besar di lingkungan nahdliyin itulah yang membuat saya tidak kaget ketika membaca tulisan dari Farah Firyal tentang hubungan perempuan dan kretek.

Di sebagian besar masyarakat kita rokok masih mempunyai jenis kelamin, seolah-olah hanya laki-laki yang boleh merokok. Perempuan yang merokok akan dicap sebagai perempuan urakan dan nakal. Padahal banyak teman-teman saya, perempuan yang merokok ini berasal dari kalangan pesantren atau orang biasa namun perangainya sungguh lemah lembut, girly, anak rumahan lagi. Asli, kalau soal cuwawakan, pulang malam, campur baur antara laki-laki dan perempuan, saya lebih juara daripada mereka. Dan saya tidak merokok. Stereotip perempuan merokok yang nakal dan cuwawakan jadi tidak valid.

Saya punya beberapa teman baik, perempuan berjilbab dan bahkan bercadar yang merokok. Kebanyakan mereka lulusan pondok pesantren dan bahkan beberapa di antaranya adalah para Ning (sebutan untuk putri kiai di Jawa). Pernah suatu saat ada acara burdahan di rumah seorang teman. Setelah acara selesai, beberapa perempuan teman saya ini ke balkon belakang rumah untuk ngopi dan merokok. Saya melihat Sampoerna Mild dan LA biru di sana. Saya sempat mewawancarai mereka.

"Njenengan napa mboten wantun ngeses teng ngajeng, Ning?" tanya saya kepada seorang teman. Saya bertanya kenapa ia tidak berani merokok di depan publik.
"Wah mangke geger, Mbak Impian. Mpun, ngudud ngge piyambak mawon," teman saya menjawab nanti bisa jadi ribut, jadi merokok untuk pribadi saja. Dan ini diamini oleh teman-teman lain yang ada di situ.

Saya maklum, mereka paham kalau merokok masih identik dengan laki-laki atau perempuan yang tidak baik, jadi lebih baik merokok buat diri sendiri saja. Mereka bercerita kalau sebenarnya di pesantren NU hal itu biasa. Beberapa Bunyai (istri kiai) juga merokok. Saya teringat cerita teman saya, seorang Gus, yang dulu sering didhawuhi ibunya untuk membeli rokok. Bunyai ibunya Gus ini suka merokok merek Surya 16.

Kalau teman-teman saya yang dari kalangan pesantren ini memilih menyembunyikan kebiasaannya, ada teman saya lagi yang memilih terang-terangan. Ia teman satu almamater saya yang sekarang sudah menjadi penyair yang cukup dikenal dan mendapatkan suami seorang penyair juga. Ia perempuan berjilbab dan berasal dari keluarga Muhammadiyah. Menurut saya unik, karena kalau Nahdlatul Ulama lebih luwes menghukumi rokok, tidak dengan Muhammadiyah. Jadi teman saya ini jadi triple minority; sudah perempuan, berjilbab, dari keluarga Muhammadiyah pula.

Ia senang sekali ketika saya membagikan tulisan Farah Firyal yang ada kutipan dari Kitab Hasyiatul Bajuri karangan Syekh Al Bajuri. Syekh Al Bajuri dhawuh bahwa jika seorang suami memiliki istri yang punya kebiasaan meminum kopi dan merokok, maka suami wajib menyediakan nafkah tersebut. Begini kutipan yang saya dapat, "Wajib juga untuk istri (bagi suami) buah-buahan yang banyak dijumpai di masa itu...juga kopi dan rokok jika istri terbiasa meminum kopi dan merokok."

Teman saya senang sekali karena katanya suaminya adalah suami yang pengertian dengan tidak lupa untuk memberi nafkah rokok buatnya. Di luar ranah kesehatan, perempuan memang punya hak untuk merokok.

Cerita lain soal rokok saya dapatkan dari teman-teman Facebook saya. Seorang teman bercerita kalau kebiasaan merokok sebenarnya berasal dari kebiasaan nginang (menguyah sirih dan pinang) oleh mbah-mbahnya terdahulu. Mulai generasi ibunya, kebiasaan nginang ini ditinggalkan. Alasannya waktu itu ibunya sudah sekolah ke luar kota. Jadi wagu dong, di kota kok masih nyusur (susur ini tembakau rajang kering yang dibentuk bulat-bulat yang biasa untuk membersihkan mulut setelah nginang).

Apalagi nginang ini kan dipandang jorok karena ludahnya berwarna merah. Jadi ibu teman saya ini memilih merokok sebagai pengganti nginang, yang diteruskan oleh teman saya walau sekarang ia berhenti. Saya juga ingat pengasuh sepupu saya dulu juga merokok. Ia biasa dijatah rokok oleh Pakdhe saya. Tentu saja ia tidak boleh merokok di depan anaknya yang masih bayi.

Walau saya bukan perokok, tapi saya memang punya ketertarikan kepada tembakau dan rokok, terutama kretek. Saya mengagumi tokoh Rara Mendut yang dikenal dengan ludahnya yang manis. Kekaguman yang sama ketika membaca novel Gadis Kretek dengan tokoh Dasiyah atau Jeng Yah ciptaan Ratih Kumala. Jeng Yah ini adalah Rara Mendut versinya. Gadis yang terkenal karena ludahnya yang manis. Saya juga membaca buku tentang Pak Djamhari penemu kretek, dan saya lanjutkan dengan membaca novel Sang Raja karya Iksaka Banu tentang kisah hidup pendiri pabrik rokok Bal Tiga di Kudus, Pak Nitisemito.

Bahkan saya minta tolong teman saya di Kudus untuk menemani saya ziarah ke makam Pak Nitisemito sekaligus napak tilas latar novel tersebut. Sungguh menyenangkan berkeliling kota Kudus karena bau tembakau senantiasa semriwing. Saya sering diledek teman saya karena pernah jatuh cinta dengan seseorang yang bau keringatnya mirip bau rokok almarhum bapak saya. Tentu saja teman saya meledek karena kisah cinta saya berakhir ngenes.

Teman Facebook yang memprotes saya lewat pesan pribadi tadi masih keukeuh dengan argumennya tentang sesatnya tulisan yang saya bagikan. Ia bercerita tentang menyebalkannya orang yang merokok sambil berkendara. Dengan nada yang marah ia bercerita kalau roknya bolong terkena percikan api dari perokok di jalan. Lho, jangan salah, saya memang tidak anti-rokok, tapi kalau saya jadi dirinya pun juga akan misuh-misuh kalau melihat orang merokok sambil berkendara.

Saya juga akan marah dengan orang yang merokok di depan bayi dan perempuan yang sedang mengandung atau orang merokok di ruangan ber-AC, misalnya. Mereka jelas melanggar peraturan, mau laki-laki atau perempuan ya sama saja. Jelas saja mereka melanggar aturan berkendara dan membahayakan orang lain, tapi soal rokok itu urusan lain.

Agak lama ia tidak membalas sampai saya berkesimpulan kalau ia sudah mengakhiri obrolan kami. Ketika saya mau mematikan handphone untuk di-charge, ia membalas pesan saya lagi. Mbak Impian ini kok dari tadi membela perokok, mendukung perempuan untuk merokok. Jangan-jangan aslinya sampeyan ini perokok juga kan?

Saya menepuk jidat. Halah, wis angel, angel. Angel tenan tuturanmu!

Mendungan, 22 Februari 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

Lihat juga Video "Kemenko PMK: 25,9% Pemuda Merokok, Asal Muasal Penyalahgunaan Narkoba":

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)