Kolom

Menanti Kiprah "Jalan Sunyi" Artidjo-Artidjo Muda

Suzan Lesmana - detikNews
Rabu, 03 Mar 2021 11:24 WIB
Anggota Dewan Pengawas KPK Artidjo Alkostar bersiap mengikuti upacara pelantikan Pimpinan dan Dewan Pengawas KPK di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/12/2019). Presiden Joko Widodo resmi melantik lima orang Dewan Pengawas KPK periode 2019-2023 yaitu Artidjo Alkostar, Harjono, Syamsuddin Haris, Tumpak Hatorangan Panggabean dan Albertina Ho. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.
Artidjo Alkostar saat dilantik menjadi Anggota Dewan Pengawas KPK (Foto: Antara)
Jakarta -

Sepertinya Hari Kehakiman Nasional yang diperingati setiap tanggal 1 Maret agak berbeda pada 2021 ini. Begitu epik, karena jatuh tepat sehari setelah kematian seorang mantan hakim agung yang disegani seantero negeri. Seakan-akan semesta pun membuat sebuah peringatan "penjemputan" kembalinya sang mantan hakim agung ke haribaan pencipta-Nya. Ya, dia adalah Artidjo Alkostar yang wafat pada Jumat (28/2) pukul 14.00 WIB dalam usia 72 tahun di pengujung Februari yang sendu, sesendu negeri ketika Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada Jumat (26/2) malam.

Sebagaimana kita ketahui tanggal 1 Maret diperingati sebagai Hari Kehakiman Nasional, yang diatur pertama kali dalam Peraturan Pemerintah Nomor 94/2012 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Hakim. Saya pikir peringatan Hari Kehakiman Nasional dapat dijadikan tonggak atau estafet penerus profesi Sang Hakim Artidjo agar terus memperjuangkan keadilan ditegakkan pada semua lapisan masyarakat di ranah hukum di Indonesia.

Artidjo sudah terkenal komitmen dan ketegasannya. Tak tebang pilih memutus kasus-kasus hukum yang memperkarakan siapa pun orangnya di negeri ini. Mulai kasus mantan Presiden Soeharto hingga kasus pembunuhan aktivis Munir. Pendeknya Artidjo bak algojo bagi para koruptor-koruptor yang telah "merampas" aset bangsa yang bukan hak mereka.

Artidjo adalah seorang anak petani yang teguh dengan komitmen menegakkan jargon para hakim: "Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa" dan selaras dengan prinsip "Fiat justitia ruat caelum" atau hukum harus tegak sekalipun langit akan runtuh, versi sang negarawan Romawi lebih dua ribu tahun lalu, Lucius Calpurnius.

Sepak terjang sang Artidjo dapat dilacak dalam jejak digital di internet. Sejak duduk menjadi Hakim Agung pada tahun 2000 hingga pensiun pada Mei 2018, Artidjo tetap berada di jalur konsistensinya terhadap pelaku-pelaku korupsi. Dingin dan tak pandang bulu. Meski terlihat "rapuh" posturnya dan sering berjalan tanpa dikawal, namun sosoknya telah membikin ngeri para koruptor, atau mereka yang kebetulan kasusnya berhadapan dengannya.

Sepertinya bagi Artidjo hukum bukan sesuatu yang dapat selesai di atas meja makan, apalagi tawar menawar. Integritas diri, keyakinan akan hukum dan keadilan, dan ilmu hukum serta pengalaman yang lekat dalam dirinya bak perisai tebal yang akan melindunginya dari segala godaan. Namun ia tak dapat menghindar dari kematian saat mendapat tugas akhirnya sebagai anggota Dewan Pengawas KPK, pascapensiun sebagai Hakim Agung.

Sosok Artidjo mengingatkan saya akan kisah Khalifah Umar bin Khattab yang tidak mempunyai istana atau rumah. Saat ditanya Raja Romawi, orang Madinah menjawab kalau bertemu Umar kalau tidak di masjid, ya di halaman masjid yang ada pohon rindang --biasanya pemimpin kami tidur di situ. Lalu ketika bertemu dengan Umar, Raja tersebut mengatakan, "Engkau bisa tidur karena engkau telah berlaku adil, sementara kami? Masih bersikap tidak adil, masih takut kehilangan tahta, masih takut harta dicuri."

Artinya, betapa rasa adil menjadi kata kunci bagi seorang pemimpin atau siapa pun yang diberi amanah dalam suatu jabatan publik. Dengan keadilan yang ia tegakkan, Umar dapat tidur nyenyak karena tidak ada beban yang mengelayut pikiran dan hatinya. Begitu juga Artidjo yang merasa nyaman saja meski pernah menjabat hakim agung, namun tak tergoda memiliki kendaraan mewah. Artidjo tetap menjadi seseorang yang sederhana. Dari total hartanya yang dilaporkan ke LKHPN, jumlahnya mencapai Rp 922 juta seperti dilansir detikcom, namun ia tidak memiliki satu pun kendaraan bermotor. Mungkin ia tak butuh itu. Bukankah kendaraan termewah manusia adalah keranda jenazahnya?

Kini, kita menantikan Artidjo-Artidjo muda. Masih banyak pekerjaan rumah kasus korupsi dan kasus-kasus hukum lainnya bagi para hakim-hakim muda yang sedang meniti kariernya sebagai penegak hukum negeri. Sebagai sebuah profesi yang berada di jalan sunyi, memang para hakim harus bebas dan melepaskan diri dari perasaan memihak demi menghindari keputusan yang tidak adil dan subjektif.

Itulah makanya mereka harus membatasi diri berinteraksi dengan publik, termasuk hingar bingar dan riuh rendahnya media sosial yang sangat dinamis. Dengan demikian, para hakim dapat fokus, merenungkan kasus per kasus secara objektif, namun tetap berada dalam koridor hukum yang seharusnya. Dan, kita pun kadang kala perlu jalan sunyi dan sepi di tengah hiruk-pikuk dunia untuk sejenak menarik diri dan merenung mencari solusi tanpa harus ada intervensi. Jalan itulah yang selama ini ditempuh seorang Artidjo yang membuatnya tetap menjadi "mutiara" yang tak ternilai harganya justru karena tidak minta dihargai, tidak ada koneksi selain integritas diri.

Suzan Lesmana humas LIPI dan penulis, tinggal di Cibinong

Simak juga 'Artidjo Alkostar Berpulang, Pengawal Rasa Keadilan Telah Tiada':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)