Kolom

Cakupan Besar-Besaran Vaksinasi Covid di India

Tjandra Yoga Aditama - detikNews
Senin, 01 Mar 2021 13:00 WIB
Mantan Direktur Perlindungan Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama.
Prof Tjandra Yoga Aditama (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

India beberapa waktu ini banyak dibahas di berbagai berita di Tanah Air dalam kaitan bahwa kasus COVID-19 pernah sekitar 100 ribuan sehari pada sekitar September 2020, dan belakangan ini turun jauh menjadi sekitar 10 ribuan saja --turun 10 kali lipat. Tulisan kali ini khusus tentang vaksinasi di India. Sesuai artikel di Jurnal Ilmiah Internasional Lancet, 1 Maret 2021 (sudah terbit versi online-nya) yang berjudul The world's largest COVID-19 vaccination campaign, maka India mentargetkan memvaksinasi 300 juta orang sampai Agustus 2021 --jadi hanya dalam tujuh bulan saja.

Angka ini terdiri dari: 30 juta petugas kesehatan dan petugas pelayanan publik lini terdepan, dan 270 juta usia tua dan usia di bawahnya tapi dengan komorbid.

Vaksinasi sudah dimulai pada 16 Januari, tiga hari sesudah Indonesia memulai, dan sampai 28 Februari sudah divaksinasi 14,3 juta orang, jadi tinggi sekali cakupannya, dengan menggunakan dua jenis vaksin, Covishield (by Serum Institute of India Ltd) dan Covaxin (by Bharat Biotech International Ltd).

Angka 14,3 juta akan secara besar-besaran (digunakan kata eksponensial meningkat) mereka tingkatkan mulai 1 Maret, antara lain dengan tiga cara.

Pertama, selain di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, akan mengikutsertakan fasilitas pelayanan kesehatan swasta, sehingga masyarakat akan mudah mendapat tempat vaksinasi di dekat rumah dan lingkungannya, tanpa harus antre, mendaftar, dan berbagai prosedur birokrasi lainnya; tinggal langsung datang saja dengan membawa kartu identitas.

Kedua, vaksinasi di fasilitas pemerintah sepenuhnya gratis, di fasilitas swasta (klinik dan RS) membayar 250 rupees (sekitar Rp 50 ribu rupiah saja), walaupun di RS yang amat mewah sekalipun (tanpa tambahan biaya apa-apa lagi).

Ketiga, sasaran mulai 1 Maret adalah petugas kesehatan dan petugas publik lini terdepan yang belum divaksinasi pada Januari dan Februari; mereka di atas 60 tahun yang belum divaksinasi pada Januari dan Februari, dan semua orang dengan usia 45 - 59 tahun dengan komorbid.

Prof Tjandra Yoga Aditama mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara yang berkantor di India sejak 2015 sampai 2020

(mmu/mmu)