Kolom

China, Contoh Nyata dalam Mengatasi Kemiskinan

Sukron Makmun - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2021 10:05 WIB
Sino Fintech
Presiden China Xi Jinping bertemu masyarakat Provinsi Gansu (Foto: Dok. Sino Fintech)
Jakarta -

"Kemiskinan itu merusak dan menjerumuskan manusia (pada kekufuran)," demikianlah adagium Arab berkata. Di saat penguasa-penguasa Arab berlomba membangun menara super tinggi serta monumen-monumen tanda kekayaan negeri dan kebesaran pemimpinnya, pemerintah China justru sibuk mengentaskan kemiskinan sampai ke pelosok-pelosok desa.

Pemerintah China telah membuat rencana matang yang mampu mengubah nasib rakyatnya. Upaya memberantas kemiskinan telah dilakukan sejak lama dan sukses. Sepanjang jalan menuju 'nol' kemiskinan itu, mereka mengalami lika-liku penuh onak duri, rela berproses dalam luka derita. Dalam komunike yang diumumkan Sidang Komite Sentral Ke-18 Partai Komunis China (PKC), ada 5 gagasan sebagai skema umum pembangunan ekonomi yang sangat penting guna mewujudkan target perjuangan abad pertama, yaitu pembangunan masyarakat sejahtera di tahun 2020. Pengentasan kemiskinan adalah program prioritas.

Program ini merupakan salah satu misi terpenting PKC. Selama 8 tahun, Presiden Xi Jinping tidak kurang dari 50 kali mengadakan inspeksi dan penelitian tentang masalah kemiskinan ke 14 daerah tertinggal. Penanggung jawab utama PKC di lebih dari 20 provinsi menandatangani surat tanggung jawab untuk pengentasan kemiskinan dengan pemerintah pusat.

Dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-75 lalu, ia optimis dapat mewujudkan kesejahteraan sosial secara menyeluruh sesuai target, bahkan 10 tahun lebih cepat dari yang ditargetkan PBB yaitu pada 2030. Sekitar 3 bulan setelah itu, ia mengumumkan bahwa program pengentasan kemiskinannya telah berhasil, signifikan dan komprehensif.

Sino FintechKabupaten Etnis Muslim Hui Linxia Gansu yang berkembang menjadi makmur dan modern Foto: Dok. Sino Fintech

Saat peringatan Hari Pengentasan Kemiskinan Nasional Ke-7, ia menyampaikan bahwa pemerintah bertekad meningkatkan kualitas hidup masyarakat, melakukan revitalisasi pedesaan, meningkatkan jumlah lapangan kerja agar income bertambah; meningkatkan pendidikan, kesejahteraan dan layanan kesehatan. Pemerintah berusaha keras mengatasi dampak pandemi COVID-19. Dalam jangka waktu 40 tahun pasca reformasi dan keterbukaan, setidaknya 700 juta warga terbebas dari kemiskinan, indeks kontribusi pengentasan kemiskinan melampaui 70 persen.

Usia peradaban China lebih dari 5.000 tahun. Kini China kembali menjadi center of gravity peradaban. Dalam hal ekonomi, berhasil menyalip Amerika dan Jepang, serta mampu beradaptasi dengan tatanan dunia modern yang lebih pragmatis, objektif dan inklusif. Dunia tidak bisa menyangkal bahwa saat ini adalah era Asia, dan China lah pemimpinnya.

Padahal pada tahun 80-an, sebatang sabun mandi terpaksa dibagi dua. Keadaan China sangat memprihatinkan. Bahkan sampai akhir 2016, di China masih terdapat beberapa daerah di wilayah otonomi Tibet dan wilayah lain seperti Xinjiang Selatan, Liangshan (Sichuan), Nujiang (Yunan) dan Linxian (Gansu) yang masyarakatnya belum beruntung seperti masyarakat di daerah lain. Mereka hidup dalam garis kemiskinan: lingkungan buruk, tingkat pendidikan dan pendapatannya rendah. Jumlah populasi miskin di seluruh daerah tersebut sekitar 3,83 juta jiwa. Kini, semua teratasi. Target nol persen kemiskinan hampir terpenuhi.

Sino FintechSuasana salat Jumat di Provinsi Gansu China Foto: Dok. Sino Fintech

Komite Sentral PKC dan Dewan Negara China mengeluarkan surat edaran terkait pengentasan kemiskinan daerah tertinggal. Pemerintah dan rakyat bersatu padu mengatasi masalah kemiskinan. Sebanyak 3 juta lebih pejabat diutus ke daerah tertinggal. Dalam 8 tahun 1.800 orang lebih menjadi relawan program ini. Pemerintah pusat mengalokasikan dana 18,948 miliar yuan untuk daerah-daerah tersebut. Tunjangan sebanyak 4,903 miliar yuan digelontorkan untuk proyek pengadaan air minum bagi 2,8 juta penduduk, dan irigasi untuk kebutuhan 12,191 juta petani. Dana miliaran untuk revitalisasi lingkungan desa dan rumah penduduk. Sebanyak 280 miliar yuan untuk proyek jalan (akses) antar desa. Dalam jangka waktu 5 tahun subsidi dan investasi untuk proyek transportasi di daerah-daerah tertinggal ditambah.

Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional merelokasi penduduk (semacam program transmigrasi) ke tempat yang lebih mudah diakses. Penduduk dengan senang hati keluar dari pegunungan, pindah ke tempat yang lebih baik. Mereka menemukan cara hidup baru dan cara berproduksi. Puluhan ribu wanita didorong untuk bekerja di lapangan kerja milik pemerintah. Lembaga moneter China juga mengalokasikan dana 131,2 miliar yuan untuk mendukung pendidikan pra sekolah. Di antaranya, dialokasikan ke daerah-daerah termiskin sebanyak 30,2 miliar yuan.
Sejak tahun 2018-2020 pemerintah pusat secara kumulatif mengalokasikan sebanyak 24,06 miliar yuan untuk meningkatkan pembangunan pusat-pusat layanan kesehatan masyarakat di level akar rumput.

Hubungan mutualistik pemerintah dan rakyat membuat daerah-daerah yang tertinggal tadi, berubah menjadi daerah padat karya yang sejahtera. Suatu pencapaian yang luar biasa. Pemerintah China terbukti serius memberi akses dan kesempatan untuk semua rakyat, lintas etnis, lintas wilayah dan lintas keyakinan agama tanpa kecuali. Keadilan sosial dapat dirasakan oleh seluruh anak negeri.

Sino FintechMasjid Najiahu di Provinsi Gansu China Foto: Dok. Sino Fintech


Sekarang tidak ada lagi cerita tentang kemiskinan akut di sana, setelah perlindungan dari kelaparan, perlindungan terhadap anak-anak dan orang tua terlantar, serta jaminan untuk mendapatkan pendidikan yang layak dimasukkan dalam undang-undang, sehingga pemerintah China memiliki pijakan kuat untuk menggelontorkan dana yang bombastis guna memerangi kemiskinan secara sistematis.

Indonesia harus belajar dari China, yang telah berhasil dan siap menjalin kerja sama dengan negara-negara lain untuk mengentaskan kemiskinan. Apalagi hubungan kedua negara ini telah berkembang semakin kuat. Keduanya bisa saling melengkapi, menjadi mitra ideal dalam mengembangkan kerja sama saling menguntungkan untuk mencapai tujuan nasional masing-masing.

Sukron Makmun, Intelektual muda NU, Wakil Sekjen PERHATI, Anggota Badan Arbitrase Syariah Nasional, Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri & Kerja Sama Internasional MUI Provinsi Banten.

(akn/ega)