Mimbar Mahasiswa

Sisi Buruk Arsitektur Hijau di Perkotaan

Radya D - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 13:30 WIB
Pekerja membersihkan kaca gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (23/2/2021). BPJS Ketenagakerjaan mengungkapkan kasus kecelakaan kerja di Indonesia menurun.
Bangunan dengan banyak kaca untuk memaksimalkan pencahayaan dalam ruang (Foto ilustrasi: Agung Pambudhy)
Jakarta - Seiring semakin kuatnya isu lingkungan, arsitektur hijau menjadi tren pembangunan dewasa ini. Arsitektur hijau merupakan pendekatan dalam pembangunan sebuah bangunan dengan meminimalisasi dampak buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Gerakan ini dapat membantu kita untuk mencegah kerusakan lingkungan berlangsung lebih panjang dengan memperhatikan bagaimana seharusnya kita membina sebuah bangunan dan kawasan.

Arsitektur hijau dapat dipastikan memiliki tujuan yang baik. Namun, bila kita memperhatikan baik-baik, terdapat beberapa hal yang luput dalam bagaimana kita seharusnya mengaplikasikan arsitektur hijau.

Bila Anda mencari arsitektur hijau atau green architecture dalam mesin pencarian, maka gedung dengan berbagai macam vegetasi memenuhi layar Anda. Gedung dengan bukaan berupa jendela besar juga sering mengisi stereotype arsitektur hijau. Beberapa hal tersebut pun sering kita jumpai pada gambar-gambar ilustrasi yang menceritakan bagaimana arsitektur ikut mengubah cara pandang kita dalam cara kita membangun.

Tetapi, benarkah aplikasi arsitektur hijau yang sering kita lihat merupakan solusi dalam menekan efek negatif perubahan iklim yang terus menghantui kita?

Perlu diketahui, arsitektur hijau pada dasarnya bertujuan untuk merancang bangunan yang ramah lingkungan. Ramah lingkungan yang dimaksud adalah dapat mengurangi jejak karbon dan berkelanjutan. Jejak karbon tidak memiliki definisi yang cukup konkret, namun dapat dipahami sebagai gas sisa hasil kegiatan manusia. Namun, pada beberapa kasus justru usaha tersebut berlawanan dengan tujuan awal.

Hal tersebut merupakan sisi buruk yang jarang diperhatikan banyak orang. Berikut adalah contoh-contoh kasus yang terjadi.

Peletakan vegetasi pada gedung-gedung tinggi

Apabila kita menatap gedung-gedung pencakar langit, terkadang dapat terlihat tanaman-tanaman yang diletakkan pada dinding setiap lantai. Sekilas terlihat ramah lingkungan, karena keberadaan tanaman dapat menurunkan suhu area tempat terletaknya tanaman tersebut.

Tetapi, sesungguhnya hal ini dapat merugikan pada hal lain. Tanaman-tanaman tersebut perawatannya membutuhkan satu hal penting, yakni air. Sedangkan letaknya yang sangat tinggi dari permukaan tanah membuat air harus dipompa. Pompa tersebut tentu akan menggunakan listrik yang tidak sedikit. Mengingat listrik yang kita gunakan masih menggunakan energi fosil, pada akhirnya jejak karbon yang ingin dikurangi malah menjadi bertambah dengan keberadaan tanaman tersebut.

Penggunaan kaca besar

Untuk memaksimalkan pencahayaan dalam ruangan, banyak bangunan-bangunan yang dirancang dengan bukaan atau jendela dengan kaca yang besar. Bila dirancang dengan baik tentu dapat menghemat penggunaan listrik untuk lampu dalam ruangan, terutama ketika siang hari. Tetapi, bila tidak tepat justru akan menjadi bumerang.

Penggunaan kaca yang besar dapat menyerap sinar matahari yang intens, apalagi bila bukaan tersebut tidak dirancang untuk mengurangi kesilauan cahaya matahari. Sinar yang masuk nantinya dapat meningkatkan suhu dalam ruangan. Ini akan mendorong penggunaan pendingin ruangan (AC), terlebih kalau bangunan tersebut tidak memiliki sistem sirkulasi yang baik. Walaupun pendingin ruangan yang diproduksi belakangan ini tidak menggunakan gas freon yang merusak lingkungan, tetapi tetap terdapat jejak karbon dari listrik yang digunakan.

Biaya yang mahal

Desain yang ramah lingkungan dan berkelanjutan cenderung tidak murah. Mulai dari biaya yang dibutuhkan untuk jasa konsultasi tenaga profesional seperti arsitek, material, teknologi, dan masih banyak lagi. Mengingat produknya yang masih baru, mendesain dan membangunnya hingga selesai membutuhkan biaya yang sangat banyak. Sehingga, pembangunan bangunan dengan standar arsitektur hijau tidak dapat diakses sebagian besar masyarakat. Maka, pembangunan gedung yang menerapkan arsitektur hijau tidak dapat memenuhi tujuan keberlanjutan.

Memelihara dan melestarikan lingkungan perlu menjadi fokus dalam pembangunan pada ke depannya. Untuk menerapkan hal tersebut, perlu menekankan pada pengurangan jejak karbon yang kita hasilkan dalam suatu bangunan. Tak lupa isu keberlanjutan dan aksesibiltas perlu dipertimbangkan. Keberlanjutan perlu menjadi hal yang tak luput diperhatikan, sebab tanpa hal tersebut kita akan menambah masalah baru dalam isu lingkungan.

Selain itu, aksesibilitas juga harus menjadi bagian yang tak terpisahkan, sebab gerakan arsitektur hijau tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak dapat dilakukan oleh masyarakat secara luas.

Dengan segala fakta yang sudah dipaparkan, bukan berarti usaha-usaha dalam mewujudkan arsitektur hijau menjadi tidak perlu dan sia-sia. Kita dapat melakukan beberapa pendekatan lainnya yang lebih mudah, murah, dan dekat dengan kita.

Kita dapat memulai dengan menggunakan bahan material yang ada di sekitar kita untuk mengurangi jejak karbon. Dari sisi teknologi, kita juga dapat mempelajari kembali teknologi yang digunakan dalam seni membangun yang digunakan masyarakat lokal.

Dapat disimpulkan, sisi-sisi buruk yang dibahas bukan untuk menghentikan gerakan arsitektur hijau. Melainkan, untuk sedikit mundur ke belakang dan mempertimbangkan kembali bagaimana seharusnya usaha kita untuk melindungi dan merawat alam kita tidak di jalan yang sesat.

Radya D mahasiswa

(mmu/mmu)