Kolom

Pandemi, Keluarga, dan Keintiman Digital

Yohanes Widodo - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 11:15 WIB
Happy young Asian family with children and their mother using computer do school homework at home.
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta - Pandemi Covid-19 membuat semua negara di dunia mengalami krisis multidimensi, mempengaruhi masyarakat, dan mengubah tatanan sosial hingga keluarga. Norma sosial dan keintiman berubah sebagai respons atas pembatasan sosial.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan bahwa pandemi Covid-19 telah membuat keintiman (fisik) dari budaya kita hilang. Salaman, salah satu bentuk keintiman yang dalam banyak budaya menjadi kebiasaan wajib untuk memulai interaksi sosial, sejak pandemi justru menjadi tabu. Mungkin fenomena tidak salaman ini dianggap sementara. Namun, seiring berjalannya waktu "tidak bersalaman" (low touch) menjadi kenormalan baru.

Menurut Hilmar Farid, pandemi menjadikan manusia didorong ke level instingtif: merespons sesuatu dengan memprioritaskan diri sendiri. Self-first yang dulu dihindari kini menjadi normal: tidak salaman, pakai masker, menjauhi kerumunan. Jika ini dianggap normal dan menjadi virtue yang dipegang, perubahan itu akan sangat besar.

Keintiman Digital

Pandemi juga menjadikan lanskap media dan komunikasi digital mengalami perubahan dan percepatan. Percakapan langsung (real time) berbasis suara dan gambar bergerak melalui aplikasi konferensi video menjadi kebutuhan.

Perkembangan media dan komunikasi digital membawa jenis keintiman baru yang disebut keintiman digital. Meski tidak bersentuhan, namun kehangatan dan kedekatan masih tetap ada dan terasa. Interaksi secara digital menjadi lebih terbuka. Semua orang bisa terlibat dalam percakapan meski dia bukan siapa-siapa. Dalam interaksi digital, hierarki sosial menjadi hilang, bahkan jungkir balik.

Fenomena ini memunculkan persoalan etika komunikasi digital. Dalam komunikasi digital, norma kesopanan atau tata krama nyaris hilang. Lihat saja di media sosial, anak muda usia belasan bisa memaki-maki seseorang yang lebih tua bahkan bergelar profesor!

Keintiman digital mentransformasi budaya dengan skala besar dan menjangkau semua orang dalam waktu singkat. Akibatnya, sejumlah orang mengalami gegar budaya. Hal ini terjadi karena orang Indonesia umumnya memiliki tata sosial komunal (paguyuban). Mereka memiliki ikatan sosial yang kuat sehingga sulit menerima pembatasan sosial. Kondisi pandemi yang penuh ketidakpastian juga membuat orang stres, bimbang, dan mudah marah.

Komunikasi Digital dalam Keluarga

Pandemi Covid-19 mendisrupsi rutinitas harian dan bagaimana kita bersosialisasi menggunakan media digital. Terkoneksi dengan orang lain menjadi kebutuhan utama di masa pandemi, terutama agar terhindar dari kesepian yang berujung terganggunya kesehatan mental.

Selama pandemi, penggunaan internet untuk pekerjaan, pendidikan, hiburan, komunikasi, dan interaksi sosial meningkat. Frekuensi dan durasi komunikasi digital juga meningkat, terutama untuk menghubungi anggota keluarga atau teman yang berjauhan guna mendapatkan update kondisi mereka.

Studi Ash Watson dkk (2020) menemukan bahwa di masa pandemi, teknologi digital menjadikan anggota keluarga kerasan di "rumah", tapi juga membantu mereka yang "terpenjara" di rumah, bisa "keluar" dari kungkungan itu. Teknologi digital memungkinkan anggota keluarga yang terpisah oleh jarak mampu merasakan kehadiran orang-orang terdekat secara face to face.

Bagi anggota keluarga yang terpisah, teknologi digital mampu menjembatani konsep "rumah" dan menghadirkan ritual keluarga untuk mengobati kerinduan. Teknologi digital mampu menghadirkan perasaan terkoneksi dan kehadiran yang membuat orang lebih nyaman karena adanya kehangatan, kedekatan, dan kegembiraan yang berperan penting dalam menjaga imunitas.

Selain komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok, komunikasi digital juga dipakai untuk event khusus, misalnya ritual kebudayaan dan perayaan seperti ulang tahun online, pernikahan online, ibadah bersama, serta proyek-proyek kolaborasif dalam lingkup pekerjaan maupun komunitas sosial.

Komunikasi digital bisa dibilang solusi mujarab untuk bertahan di masa pandemi. Bayangkan, apa jadinya jika pandemi tanpa gawai. Bukan berarti komunikasi digital tanpa persoalan. Panggilan video atau konferensi video sulit dilakukan ketika berada di grup besar, belum lagi persoalan koneksi yang tak stabil.

Menatap layar monitor atau gawai dalam waktu lama bisa menyebabkan kelelahan secara fisik dan emosi. Mereka yang sering layar monitor dalam waktu lama bisa mengalami kelelahan akut yang disebut Zoom fatigue.

Disrupsi Ritual Kematian

Pandemi Covid-19 tak hanya mempengaruhi kita yang masih hidup, tapi juga mereka yang sudah mati. Pandemi mendisrupsi ritual penanganan kematian akibat Covid-19. Secara prosedur, proses pemakaman terlarang dihadiri keluarga.

Bagi anggota keluarga, larangan tidak boleh mengikuti proses pemakaman menjadi situasi yang menguras emosi. Putusnya kontak dengan korban selama mereka dirawat, ditambah hilangnya ritual kematian menjadikan duka lebih menyayat.

Dalam budaya Indonesia pemakaman menjadi ritual penting karena di situ menggambarkan adanya ikatan. Ritual pemakaman menunjukkan kedekatan dan penghormatan kepada sosok yang berpulang. Ketika orangtua meninggal, anak bertanggung jawab memandikan dan mengantarkan hingga liang kubur.

Maka, tak heran, banyak warga protes bahkan ada yang mencuri mayat. Terpisah dengan orang terkasih memang bukan persoalan sepele. Di sini, layanan streaming saat proses pemakaman korban Covid-19 bisa menjadi alternatif.

Keluarga menjadi penjaga gawang terakhir pertahanan kita melawan Covid-19. Negara kuat jika masyarakat kuat; masyarakat kuat ketika keluarga kuat. Kemampuan negara menyikapi pandemi sangat tergantung pada bagaimana kita mampu menjaga keluarga masing-masing tetap aman dengan mematuhi pembatasan sosial.

Komunikasi digital memungkinkan kita merasa kerasan dan nyaman berada di rumah, sekaligus bisa keluar dari "penjara" pembatasan sosial. Kemampuan kita memelihara dimensi sosial dengan keintiman digital, termasuk dalam ritual pemakaman korban Covid-19, menjadi penting.

Gotong-royong, keguyuban, dan ikatan sosial berbasis digital menjadi modal berharga untuk menjalani hari-hari pandemi yang entah kapan selesainya.

Yohanes Widodo dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

(mmu/mmu)