Kolom

Menakar Geliat Merger dan Akuisisi Pascapandemi

Ali Riza Fahlevi - detikNews
Kamis, 25 Feb 2021 10:51 WIB
Bank Syariah Indonesia
Foto: Angga Aliya Firdaus
Jakarta - Meskipun tren kasus Covid-19 yang terjadi di Indonesia belum menunjukkan penurunan, setidaknya telah tibanya vaksin Sinovac ke Indonesia beberapa bulan lalu, dan diikuti dengan dimulainya tahap awal vaksinasi kepada beberapa golongan masyarakat telah memberikan sedikit angin segar bagi para pelaku usaha. Sebelumnya, hampir satu tahun banyak para pelaku usaha yang dibuat seakan "hidup segan mati pun tak mau" akibat pandemi ini.

Hadirnya vaksin pada awal tahun ini seakan juga memberikan sinyal kepada para perusahaan untuk saatnya berbenah dan mengejar kembali apa yang tertinggal selama satu tahun terakhir. Termasuk di dalamnya untuk kembali berlari cepat guna meningkatkan value perusahaan yang pada tahun sebelumnya yang cenderung lesu.

Tentu, pandemi Covid-19 yang terjadi sejatinya tidak meluluhlantakkan seluruh industri yang ada. Bahkan bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam jasa pengiriman barang, komunikasi, hingga e-commerce menjadi bagian dari beberapa sektor industri yang seakan harus "berterima kasih" atas adanya pandemi ini.

Namun, terlepas adanya beberapa sektor industri yang seakan menuai "berkah", kita sepakat bahwa pandemi ini berimbas buruk terhadap hampir seluruh perusahaan, Dalam masa yang sulit ini, beragam cara dilakukan untuk setidaknya mampu menjaga eksistensi perusahaan. Salah satunya merger dan akuisisi (M&A). Setidaknya sudah tercatat beberapa perusahaan yang terlibat dalam pelaksanaan strategi ini.

Sebagai contoh, pada Mei 2020, Kasikorn, perusahaan perbankan asal Thailand, telah merampungkan akuisisinya terhadap Bank Maspion. Akuisisi yang dilakukan diharapkan mampu untuk membantu pengembangan digital banking di Indonesia, menggaet customer baru, hingga meningkatkan value perusahaan. Akuisisi tersebut tercatat sebagai salah satu akuisisi terbesar di Indonesia pada tahun lalu, dengan nilai transaksi yang mencapai Rp 36, 6 triliun.

Tidak ketinggalan, pada awal kwartal kedua tahun yang sama, PT Urban Jakarta Properterindo mengakuisisi PT Ciptaruang Persada Property senilai Rp 633 miliar, yang akhirnya menjadikan PT Urban Jakarta Properterindo sebagai pemegang saham mayoritas perusahaan dengan kepemilikan 51%.

Beberapa contoh M&A yang terjadi di Indonesia pada 2020 tersebut setidaknya memberikan gambaran bahwa pandemi yang tengah dihadapi tidak menyurutkan perusahaan untuk tetap bertahan, bahkan terus berusaha untuk meningkatkan kinerja dengan berbagai strategi.

Namun, tentunya tidak semua perusahaan dalam masa yang sulit ini memiliki perspektif yang sama dalam melihat M&A itu sendiri. Meskipun tercatat terdapat beberapa perusahaan yang terlibat dalam pelaksanaan M&A pada masa pandemi ini, tetapi tidak sedikit pula perusahaan yang mengurungkan niatnya untuk melakukan keputusan besar ini. Hal ini dapat dilihat dari tidak terdengarnya lagi rencana akuisisi yang akan dilakukan oleh Bank BJB terhadap Bank Banten hingga pengujung 2020.

Harapan 2021

Pada 2021 ini, tepatnya pada Februari ini, setidaknya harapan atas bergeliatnya M&A di Indonesia dimulai atas merger yang terjadi antara tiga bank syariah plat merah, yaitu Bank Mandiri Syariah, BNI Syariah, BRI Syariah, yang menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). Dengan total nilai aset mencapai lebih dari Rp 200 triliun, serta jumlah karyawan tidak kurang dari 20.000 orang pasca-M&A, pemerintah selaku pemegang saham utama menargetkan BSI masuk ke jajaran 10 bank syariah terbesar di dunia.

Meskipun hadirnya vaksin masih menjadikan tahun ini "tahun misteri" bagi beberapa sektor industri, tetapi M&A yang melibatkan tiga bank syariah milik pemerintah tersebut setidaknya mampu merangsang perusahaan-perusahaan dalam sektor industri yang lain untuk bersama terlibat dalam pelaksanaan M&A.

Harapan itu terbuka lebar. Karakteristik internal yang dimiliki Indonesia, termasuk di dalamnya tingginya potential customer yang dapat digaet oleh banyak perusahaan, serta diikuti dengan kecenderungan masyarakat yang konsumtif, menjadikan pandemi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap M&A. Ditambah, Oxford Economics dalam riset terbarunya memproyeksikan bahwa pada 2021 pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada pada level 6% --jauh lebih baik dibanding 2020.

Setidaknya, banyaknya perusahaan yang terlibat dalam pelaksanaan M&A di tengah pandemi pada 2020 lalu menunjukkan bahwa sejatinya pasar M&A Indonesia tidak banyak terimbas dengan adanya pandemi ini. Dan, pada 2021, dengan harapan setidaknya pandemi ini jauh berkurang, M&A akan menjadi strategi yang kian diminati oleh banyak perusahaan di Indonesia.

Terbitnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12 tahun 2020 juga ikut merangsang perkembangan M&A hingga beberapa tahun ke depan. Peraturan baru tersebut, yang meningkatkan modal inti minimum (MIM) perbankan yang sebelumnya sebesar Rp 100 miliar kini menjadi Rp 3 triliun, akan "memaksa" perusahaan perbankan yang memiliki modal inti di bawah yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk melakukan M&A.

Kembali, terlepas beberapa faktor yang mempengaruhi tinggi atau rendahnya keterlibatan perusahaan dalam pelaksanaan M&A, tetapi M&A merupakan strategi yang ampuh yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam segala medan. Dengan perencanaan dan integrasi yang baik, M&A akan menjadi strategi powerful. Ditambah, kedigdayaan strategi ini dalam menguasai pasar dalam waktu yang relatif singkat tidak dapat ditemukan dalam bentuk strategi yang lain.

(mmu/mmu)