Kisah Ahmadiyah dan Muhammadiyah
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Perbedaan Ahmadiyah dengan Islam (pada umumnya) memang tidak baen-baen. Penafsiran tentang nabi gitu loh, tentu bukan perkara enteng. Tapi sebesar apa pun perbedaan itu, jangan sampai terjadi pemaksaan apalagi kekerasan.Kekerasan yang terus berulang menimpa Ahmadiyah mengingatkan saya akan kisah penyebaran Muhammadiyah. Di kampung halamanku, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, awal penyebaran Muhammadiyah juga diwarnai ancaman kekerasan.Saya masih ingat ayah dimusuhi bahkan dikucilkan orang kampung gara-gara ikut dan menyebarkan Muhammadiyah. Masjid Muhammadiyah yang didirikan ayah dan pengikutnya sering dilempari batu. Kadang juga masjid itu ditaruh kotoran manusia. Ayah juga diancam akan dibunuh.Kejadian itu terjadi sekitar 26 tahun lalu atau pada tahun 1980-an. Saat itu mayoritas warga Kaliwungu menjadi pengikut Nadhatul Ulama (NU). Meskipun agamanya sama Islam, bagi warga kota yang dikenal sebagai kota santri itu, Muhammadiyah menjadi barang aneh.Salat yang dikerjakan warga Muhamamdiyah bagi orang NU terlihat nyeleneh. Bacaan salatnya selain surat Al Fatihah dan takbir berbeda dengan NU. Salat subuh dan salat tarawih juga berbeda. Saat salat subuh, warga Muhammadiyah tidak pernah membaca doa qunut, sebaliknya warga NU membacanya. Sementara salat tarawih di NU sebanyak 23 rakaat di Muhammadiyah hanya 11 rakaat.Perbedaan yang mencolok lagi terjadi saat salat Id baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Muhammadiyah selalu, kecuali hujan, salat Id di lapangan. Sementara NU biasa salat di masjid. "Masa salat kok di lapangan, di lapangan itu kan banyak najis karena banyak kotoran anjing," olok orang NU waktu itu.Selain itu, NU dan Muhammadiyah juga berbeda dalam hal menyikapi tradisi. Muhammadiyah sangat keras terhadap pencampuran tradisi dalam agama. Sedangkan NU lebih lunak.Akibat perbedaan itulah, waktu itu, Muhammadiyah dianggap agama lain, bukan Islam. Masyarakat di kampung saya bahkan mencap anggota Muhammadiyah sebagai kelompok yang tidak akan masuk surga.Kini kisah hampir serupa menimpa Ahmadiyah. Memang masalah perbedaannya lebih besar karena menyangkut tafsir soal nabi. Penafsiran tentang nabi gitu loh, tentu bukan perkara enteng. Masalah nabi bukan lagi masalah furu'iyah (hal-hal sekunder) seperti teknis salat.Islam (pada umumnya) mengakui Muhammad sebagai nabi terkahir. Tapi bagi Ahmadiyah, Muhammad sebagai nabi yang paling mulia. Setelah Muhammad masih ada nabi lain yakni Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah.Namun harus diingat, selain masalah nabi itu, Ahmadiyah tetap menjalankan syariat Islam. Mereka mengucapkan kalimat syahadat yang merupakan syarat utama untuk menjadi muslim, melakukan salat sampai berhaji.Sayang akibat perbedaan itu terjadi kekerasan terhadap gerakan yang mengaku beranggota 500 ribu orang di Indonesia itu. Masjid Ahmadiyah dirusak, rumah dibakar dan mereka harus mengungsi. Terakhir mereka berniat minta suaka politik ke Australia dan Kanada.Menghadapi kekerasan yang terus berulang itu, Menag Maftuh Basyuni meminta Ahmadiyah menjadi agama baru, lepas dari Islam. Kata Menag, kekerasan terhadap Ahmadiyah akan berakhir jika gerakan itu tidak mengaku-aku sebagai Islam.Solusi ala Menag itu patut disesalkan. Sebagai orang Islam, Menag tentu tahu kisah Bilal. Budak Umayyah itu tetap memilih Islam walaupun dia dicambuk, kaki dan tangannya diikat dan tubuhnya ditindih batu.Dalam sebuah agama, perbedaan penafsiran dengan gradasi yang berbeda akan selalu terjadi. Maka itu tidak perlu memaksa seseorang untuk memeluk agama atau keluar dari agamanya agar terjadi tafsir yang sama.Solusi agama baru itu tidak akan menjadi jembatan bagi Ahmadiyah dan Islam untuk menemukan jalan keluar terbaik. Bisa-bisa solusi itu akan menjadi amunisi baru untuk kembali melakukan kekerasan terhadap Ahmadiyah.Selain itu, seperti kata Gus Dur, dengan solusi itu, Menag akan jadi bahan tertawaan. Sebagai menteri agama, masa Maftuh lupa bila agama itu bukan ciptaan manusia?Keterangan Penulis:Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(/)











































