Jeda

Sobat Ambyar, Sobat Gragas, Sobat Gibah

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 21 Feb 2021 10:25 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Saya masih menatap layar laptop ketika panggilan itu datang. Seorang teman mengabari sedang menuju kos tempat saya tinggal. Sebagai teman lama, seharusnya ia paham saya tidak bisa diberi surprise. Saya paling malas dengan orang yang berkabar tiba-tiba akan datang, apalagi saya sedang mengerjakan sesuatu. Kalau sampai teman saya mengabari akan datang, berarti ada sesuatu yang penting yang ingin ia obrolkan. Saya membereskan pekerjaan saya cepat-cepat agar bisa segera menemui teman saya tadi.

Ia datang dengan muka awut-awutan. Lalu saya mengajaknya ke sebuah warung tenda langganan saya yang menyajikan menu berbagai varian susu segar Boyolali beserta berbagai macam makanan ala angkringan. Saya mulai menginterogasinya setelah susu murni hangat dan es susu coklat pesanan kami datang.

"Piye? Mau ngomong apa?" kata saya sambil sedikit mengomel karena ia sudah menginterupsi pekerjaan saya.

"Akhirnya aku ditinggal nikah, setelah delapan tahun runtang-runtung bersama," akhirnya ia menjawab setelah lama terdiam.

Saya menyuruhnya meminum es susu coklatnya dulu sambil menepuk-nepuk pundaknya. Ternyata ia tidak hanya meminum es susu coklat, tapi juga terampil mengunyah sate kikil, dua bungkus nasi kucing, sate usus, dan bakwan sambil menceritakan kesedihannya ditinggal menikah oleh kekasihnya. Tentu saja sambil bercucuran air mata.

Jadi saat itu juga teman saya sudah resmi dibaptis menjadi sobat ambyar. Sebenarnya teman saya ini tipe laki-laki yang sok tegar di hadapan orang-orang kecuali kepada teman dekat macam saya. Saya juga penganut mazhab normalisasi orang putus atau bercerai dalam suatu hubungan. Mungkin karena itu juga ia memilih saya menjadi teman curhat-nya. Saya pun khusuk mendengarkan ceritanya tentang kenangan bersama sang mantan. Tentang romantisnya mereka ketika bermain piano bersama, bagaimana asyiknya ia mancing bersama bapak sang mantan kekasih, atau serunya masak dengan ibu di dapur.

"Bayangin, sudah sedekat itu aku dengan keluarganya. Kok ya tega aku ditinggal," curhat-nya penuh perasaan. Jeru, kalau kata Denny Caknan.

Ia menghabiskan es susu coklatnya dan memesan soda gembira. Edan, nggragas tenan cah iki, batin saya. Saya mengatai teman saya rakus, semua dimakan. Bahkan saya pun belum menyentuh nasi bakar yang saya pesan, karena sibuk mendengarkan cerita teman saya.

"Cah nggragas," akhirnya tidak hanya membatin, tapi saya katakan juga di depan teman saya. Ia paham yang saya maksud. Tapi bukan teman saya kalau tidak ahli dalam membalikkan omongan.

"Halah kayak orang dari daerahmu nggak gragas. Daun kedondong dimakan, kodhok dimakan, krokot dimakan, orong-orong dimakan, bekicot, enthung, bahkan asp..."

Segera saya jejali mulut teman saya dengan tahu isi agar ia segera diam. Enak aja mengatai orang daerahku gragas, wong ia saja makan semua kuliner yang ia sebutkan itu, kecuali yang terakhir yang belum sempat dikatakannya itu. Sepertinya ia lebih cocok dipanggil sobat gragas daripada sobat ambyar.

Kami dikagetkan dengan suara gedebuk dan gelas pecah. Mas pelayan warung yang sedianya mengantar segelas soda gembira pesanan teman saya tersandung kakinya; tidak hanya terjatuh, tapi gelasnya juga pecah. Ambyar. Pemilik warung melarang kami untuk membantu mas pelayan. Ia minta maaf dan segera membersihkan pecahan gelas dan mengganti pesanan teman saya.

Kami kembali mengobrol. Saya katakan pada teman saya tentu saja dengan nada sok bijak bahwa ia bisa diibaratkan seperti gelas yang pecah itu. Pecahan gelas itu kalau tidak segera dibersihkan akan melukai orang lain. Begitu pula dengan hatinya. Hati yang ambyar jangan dibiarkan lama-lama berserakan, karena bisa saja pecahan tersebut akan melukai orang lain.

"Kamu jangan kayak Janaka ya, karena nggak bisa dapetin Anggraini yang lebih memilih Ekalaya, lalu gragas, semua perempuan digasak."

Saya memang suka nyinyir dengan tokoh Janaka atau Arjuna, satriya panengah Pandawa itu. Orang-orang boleh mengidolakan Arjuna yang tampan, tapi sayangnya saya tidak suka dengan Don Juan. Kebetulan teman saya paham tentang wayang, jadi mudah menangkap maksud saya tentang bagian dari lakon Arjuna-Ekalaya itu. Tentu saja idola saya Ekalaya, bukan Arjuna. Sudah betul sebenarnya Anggraini memilih Ekalaya.

Teman saya bilang pelampiasannya bukan perempuan, tapi dengan menenggak oplosan. Ia mencampur ciu Bekonang dengan sirup Marjan rasa melon dan kadang dengan minuman Yakult. Saya bengong, membayangkan ciu dan Yakult saja ngeri. Kok ya tidak meninggal ya teman saya ini? Saya memukul pundaknya, sambil marah karena kegragasannya bisa saja membunuhnya. Saya tidak melarang teman saya minum, asal tidak berlebihan.

Ia meminta saya menghiburnya dengan bercerita tentang gosip-gosip terkini. Sebagai sobat gibah, disuruh menggosip tentu saya senang saja. Kami mulai dari mengobrol tentang gosip orang-orang di sekitar kami. Tentang pertengkaran di media sosial antara si A dan si B, lalu berlanjut seru. Kami sama-sama tertawa melihat para komentator itu ketika gelut. Kadang juga miris kalau mereka kami nilai sudah keterlaluan.

Lalu kami juga membicarakan gosip di dunia penulisan tentang seringnya kasus plagiarisme, sampai pada gosip-gosip orang-orang atau selebritis di Twitter seperti perceraian seorang selebgram, atau pertengkaran sesama artis, penipuan oleh beberapa akun Twitter, isu politik, dan sebagainya.

Kami ngobrol cukup lama dan tidak hal-hal receh saja. Kadang sampai masalah konflik SARA dan pencarian kami tentang agama dan tujuan hidup. Obrolan kami terhenti ketika kami dikode pemilik warung tenda bahwa warung akan segera tutup. Kami segera beranjak untuk membayar pesanan dan pulang.

Sambil mengendarai sepeda motor menuju kos saya, teman saya bilang, "Kamu itu kok apa-apa tahu sih? Gosip apa saja dikomentarin. Wuelok tenan."

Dibilang begitu malah lidah saya kaku. Tidak bisa menjawab. Saya jadi mikir, iya ya, semua hal kok saya komentarin. Sebenarnya yang gragas itu teman saya atau saya?

Mendungan, 17 Februari 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

Saksikan juga 'TOP 5: Jokowi Tegaskan Tak ada Reshuffle, Mobil Warga Terseret Banjir':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)