Kolom

Fokus Peningkatan Konsumsi Rumah Tangga

Faishol Amir - detikNews
Jumat, 19 Feb 2021 10:02 WIB
Pembeli berbelanja kebutuhan pokok di salah satu pasar ritel modern di Tangerang Selatan, Kamis (11/2/2021). Dalam Survei Pemantauan Harga (SPH) pekan pertama, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi Februari 2021 sebesar 0,01% secara bulanan (month-to-month/MtM). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan secara tahun kalender sebesar 0,25% dan secara tahunan (year-on-year/YoY) 1,26%. Para analis menyatakan trend inflasi yang melambat di bulan Februari tersebut mendorong ancaman deflasi atau daya beli rendah.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Siang itu saya melipir ke sebuah warung tak jauh dari masjid tempat saya melaksanakan Salat Jumat. Kebetulan sudah masuk jam makan siang. Sembari menunggu hidangan disajikan, saya buka gadget untuk menonton siaran streaming BPS tentang rilis pertumbuhan ekonomi triwulan IV tahun 2020. Kebetulan hari itu jadwal rilisnya dan sudah dinanti-nanti oleh banyak pihak yang ingin mengetahui kondisi perekonomian Indonesia terkini.

Seperti yang sudah diprediksi oleh banyak kalangan, Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) triwulan IV tahun 2020 masih mengalami kontraksi (pertumbuhan minus). LPE Indonesia triwulan IV-2020 mengalami kontraksi sebesar 2,19 persen (y-to-y) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan kontraksi ekonomi juga terjadi pada triwulan II dan triwulan III tahun 2020 (y-to-y). Secara kumulatif, LPE Indonesia tahun 2020 terkontraksi sebesar 2,07 persen (c-to-c) dibandingkan 2019.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengingatkan ancaman depresi ekonomi akan dialami Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang negatif jika dibiarkan hingga kuartal I-2021, maka Indonesia rentan masuk dalam teritori depresi ekonomi.

Definisi depresi ekonomi adalah resesi ekonomi yang berkelanjutan satu tahun atau lebih. Biaya pemulihan ekonomi relatif mahal jika depresi terjadi. Pola pemulihan menjadi U-shape atau bahkan L-shape jika kebijakan ekonomi kurang responsif. (detikcom, 5/2)

Paling Terdampak

Sambil menyantap makan siang, saya menguping percakapan pemilik warung dan beberapa pengunjung yang kebanyakan sopir angkutan umum serta abang ojek online. Mayoritas pembicaraan mereka seputar sepinya penumpang dan lesunya penjualan makanan-minuman sepanjang 2020.

Memang diakui, sejak pandemi Covid-19 menerjang Indonesia mulai Maret 2020 lalu, aktivitas ekonomi terjun bebas. Tercatat 10 dari 17 sektor lapangan usaha yang pertumbuhannya minus. Keresahan pemilik warung, abang ojek online, dan para sopir angkutan umum tercermin dari paling dalamnya kontraksi LPE menurut lapangan usaha. Di mana LPE sektor usaha transportasi dan pergudangan mengalami kontraksi (LPE minus) terdalam sebesar 15,04 persen.

Secara rinci, kinerja subsektor angkutan udara dan angkutan rel yang mengalami kontraksi terdalam di mana masing-masing terkontraksi sebesar 53,01 persen dan 42,34 persen (c-to-c). diikuti selanjutnya pergudangan dan jasa penunjang angkutan; pos dan kurir; angkutan sungai, danau dan penyeberangan; angkutan darat; dan terakhir angkutan laut.

Sektor ekonomi berikutnya yang mengalami kontraksi terdalam adalah sektor usaha akomodasi dan makan minum yang mengalami kontraksi sebesar 10,22 persen. Kunjungan wisatawan, baik manca maupun domestik berkurang drastis. Bahkan pada triwulan IV-2020, kunjungan wisatawan mancanegara berkurang 88,45 persen dibandingkan triwulan IV-2019 (y-to-y). Hal ini menyebabkan tingkat okupansi hotel dan penginapan berkurang drastis.

Dilaksanakannya pembelajaran secara daring juga menyebabkan banyak usaha kos-kosan hingga kontrak rumah di wilayah pusat pendidikan sepi tidak ada peminat.

Adanya pembatasan pergerakan atau mobilitas masyarakat, baik dengan skema lockdown, PSBB hingga PPKM dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Pemberlakuan kebijakan ini mempunyai dampak pada melemahnya kinerja ekonomi. Pembatasan kegiatan yang dilakukan telah menghentikan kegiatan ekonomi masyarakat dan menghambat kegiatan produksi dan distribusi barang

Kontraksi ekonomi tidak hanya terjadi pada kedua sektor di atas. Beberapa sektor usaha lain juga mengalami kontraksi, di antaranya yaitu sektor usaha jasa perusahaan sebesar 5,44 persen; jasa lainnya sebesar 4,10 persen; dan perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 3,72 persen; dan industri pengolahan sebesar 2,93 persen; pertambangan dan penggalian sebesar 1,95 persen; pengadaan listrik dan gas sebesar 2,34 persen; sektor konstruksi sebesar 3,26 persen dan terakhir administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 0,03 persen.

Pada wilayah yang menjadi tumpuan kegiatan ekonomi, tujuan wisata atau pusat pendidikan, maka dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian sangat terasa. Tahun 2020, Pulau Jawa sebagai penyumbang terbesar perekonomian Indonesia dengan kontribusinya sebesar 58,75 persen mengalami kontraksi ekonomi sebesar 2,51 persen (y-to-y). Sedangkan Pulau Bali dan Nusa Tenggara yang menjadi andalan pariwisata Indonesia mengalami kontraksi terdalam hingga mencapai 5,01 persen (y-to-y).

Masih Ada Harapan

Harapan kondisi ekonomi akan membaik disampaikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers secara virtual (5/2) . Airlangga menyampaikan bahwa kontraksi ekonomi mulai mengecil pada triwulan III-2020 sebesar 3,49 persen dan kontraksi kembali mengecil pada triwulan IV-2020 sebesar 2,19 persen (y-to-y). Bahkan LPE triwulan III-2020 tumbuh positif sebesar 5,05 persen dibanding triwulan II-2020 (q-to-q).

Jika ditinjau lebih dalam pada LPE secara triwulanan, kontraksi ekonomi selalu terjadi pada triwulan IV tiap tahunnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya pengaruh musiman pada sektor pertanian, di mana puncak panen terjadi di triwulan-triwulan sebelumnya. Hal yang cukup menggembirakan pada LPE triwulan IV-2020 yaitu kontraksi ekonomi pada triwulan IV-2020 (q-to-q) lebih kecil dibandingkan kontraksi ekonomi pada triwulan IV tahun 2017 hingga tahun 2019.

Hal itu semakin memberi keyakinan bahwa arah perbaikan ekonomi Indonesia semakin nyata. Berdasarkan lapangan usaha, tercatat ada dua sektor usaha dengan LPE yang meningkat pada 2020, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh sebesar 11,60 persen; informasi dan komunikasi sebesar 10,58 persen dibandingkan 2019 (c-to-c).

Laju positif pada sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial ditengarai karena meningkatnya permintaan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Baik sebagai upaya membentengi diri dari bahaya corona maupun adanya permintaan berbagai tes pengujian imunitas dan kontaminasi Covid-19 di berbagai daerah untuk keperluan pendidikan, pekerjaan, dan mobilitas ke wilayah lain.

Sedangkan laju positif pada sektor informasi dan komunikasi salah satunya karena pemberlakuan WFH maupun belajar secara daring sehingga permintaan akan akses internet maupun layanan seluler lainnya meningkat tajam.

Selain kedua sektor ekonomi di atas, ada lima sektor ekonomi lainnya yang masih tumbuh positif meskipun melambat, yaitu pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang sebesar 4,94 persen; jasa keuangan dan asuransi sebesar 3,25 persen; real estate sebesar 2,32 persen; serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 1,75 persen.

Konsumsi Rumah Tangga

Tak sadar makanan yang saya santap hampir habis. Saya pun segera memesan secangkir kopi dan ikut mengobrol dengan para pengunjung dan pemilik warung. Tentu saja protokol kesehatan masih saya ikuti. Cukup lama saya tak menikmati masakan warung. Biasanya istri menyiapkan bekal makan siang karena potensi tertular Covid-19 lebih kecil. Namun siang itu, karena suatu kepentingan, istri saya tak sempat buatkan bekal.

Dipikir lebih jauh, ternyata pengeluaran rumah tangga saya beberapa bulan ini lebih sedikit dibandingkan sebelum pandemi Covid-19. Saya pun lebih memilih menabung kelebihan dana sebagai persiapan hal yang tak terduga. Boleh dikatakan kami menahan laju pengeluaran rumah tangga.

Namun ada banyak juga rumah tangga lainnya "terpaksa" menahan laju pengeluaran rumah tangganya karena pendapatan keluarganya menurun atau bahkan karena kehilangan pekerjaan karena efek pandemi Covid-19. BPS mencatat ada 2,56 juta penduduk usia kerja menjadi pengangguran karena covid-19. Sebanyak 1,77 juta penduduk bekerja namun untuk sementara tidak bekerja (BPS, 2020).

Tertahannya laju pengeluaran rumah tangga menyebabkan LPE komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) tahun 2020 terkontraksi sebesar 2,63 persen dibandingkan 2019 (c-to-c). Padahal komponen PK-RT merupakan penyumbang terbesar PDB menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku tahun 2020 sebesar 57,66 persen.

Namun pemerintah terus berjuang agar laju konsumsi rumah tangga kembali meningkat. Anggaran untuk penanganan Covid dan pemulihan ekonomi telah disiapkan. Misal untuk perlindungan sosial disiapkan dana sebesar Rp 148,66 triliun. Dukungan kepada UMKM dan korporasi yang telah berkontribusi 60,3 persen terhadap PDB diwujudkan dengan penyiapan dana dukungan sebesar Rp 157,57 triliun.

Selain itu ada kebijakan anggaran lainnya terkait kesehatan dan program prioritas kementerian. Sehingga total keseluruhan dana yang disiapkan mencapai Rp 557,3 triliun.

Pemerintah menargetkan ekonomi pada 2021 akan tumbuh 4,5 persen hingga 5,5 persen. Menko Perekonomian menargetkan ekonomi akan bertumbuh positif menuju angka 1,6 persen sampai 2,1 persen di kuartal pertama tahun ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah akan mendorong komponen konsumsi rumah tangga untuk tumbuh 1,8 persen, komponen pengeluaran pemerintah tumbuh sebesar 4 persen hingga 5 persen, dan meningkatkan komponen investasi serta ekspor.

Akhirnya kita semua berharap pandemi ini segera berakhir dan perputaran ekonomi kembali menggeliat agar Indonesia terhindar dari depresi ekonomi. Sekali lagi, kepatuhan akan protokol kesehatan dan dukungan terhadap program vaksinasi nasional yang sedang berjalan menjadi kunci terputusnya rantai penyebaran Covid-19.

Faishol Amir Statistisi Muda BPS

(mmu/mmu)