Kolom

Wakaf dan Investasi untuk Rakyat

Abdul Munir Sara - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 15:10 WIB
Investasi tabungan
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Wakaf, baik dalam bentuk tanah, bangunan, atau uang tunai (cash wakaf) bisa menaikkan investasi setinggi-tingginya bagi negara atau lembaga swasta dan menurunkan cost of fund-nya seminimal mungkin. Karena prinsip wakaf adalah "kerelaan" melepaskan hartanya untuk kebajikan sosial dan berdaya guna secara sosial melalui pengelolaan atau investasi. Agar barang yang diwakafkan menjadi produktif dan bermanfaat bagi rakyat yang membutuhkan.

Return on investment (ROI) wakaf tidak kembali dalam bentuk capital gain bagi yang memberi wakaf (wakif). Harta yang diwakafkan dan dikelola badan pengelola (nazir) serta ROI akan tetap diperuntukkan bagi kegiatan kemaslahatan umat, dalam bentuk kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Wakif tidak memperoleh margin apapun dari barang yang telah di wakafkan selain mengharapkan kebaikan dan berkah dari Tuhan.

Wakaf secara harfiah berarti menahan (wakafa). Menahan harta untuk diwakafkan dan tidak dipindahmilikkan. Pada umumnya ada tiga bentuk pengelolaan wakaf yang dilakukan berbagai lembaga pengelola wakaf. Pertama, pendekatan produktif, berupa mengelola harta wakaf untuk sektor produktif yang menghasilkan keuntungan. Lalu return dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat dengan tetap mempertahankan nilai pokok dari harta wakaf.

Dalam hal wakaf produktif berupa uang tunai, bisa bersifat investasi langsung (direct investment) ke objek wakaf berupa sektor riil dengan prinsip-prinsip syariah seperti bagi hasil (mudharabah). Surplus dari direct investment ini dikembalikan lagi untuk kegiatan yang menyangkut kemaslahatan umat di berbagai sektor.

Kedua, pendekatan non produktif atau non profit. Misalnya membangun rumah sakit gratis, sekolah gratis, dan berbagai sarana pelayanan masyarakat secara cuma-cuma. Sementara biaya operasional dari wakaf non produktif ini digali dari sumber lain seperti zakat, sedekah, dan infak. Pendekatan non produktif ini agak mereduksi asas wakaf, yakni kedayagunaan atau keswadayaan.

Ketiga, pendekatan terpadu. Menggabungkan aspek filantrophisme dan niaga. Surplusnya disalurkan untuk penerima manfaat (mauquf'alaih) dan/atau untuk operasional institusi pelayanan umat dalam satu layer program.

Dengan wakaf produktif serta berbagai produk derivatifnya, barang/aset yang diwakafkan menjadi lebih berdaya guna untuk tujuan ibadah sesuai niat wakif; menghasilkan kebajikan yang eksponensial. Wakaf produktif bertujuan menjadikan aset-aset tidur seperti tanah dan bangunan atau uang cash,menjadi lebih produktif, sehingga kebaikan bertumbuh secara eksponensial di berbagai aspek kehidupan.

Kampanye Wakaf

Dalam skala negara, pemerintah belakangan melirik potensi wakaf. Pada saat yang sama, konsekuensi ekspansi fiskal meniscayakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit. Pembiayaan defisit yang besar pada APBN dari waktu ke waktu menimbulkan rasio utang terhadap PDB makin tinggi.

Pada saat yang sama pula, pemerintah acap mengandalkan utang dari obligasi/bond dengan bunga yang relatif tinggi. Melalui instrumen wakaf dan potensinya, pemerintah berharap mendapat sumber pembiayaan dari masyarakat. Salah satunya melalui wakaf/cash wakaf.

Kementerian Keuangan menyebutkan, potensi wakaf di Indonesia Rp 217 triliun atau 3,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang bersumber dari 74 juta penduduk kelas menegah. Belakangan, pemerintah getol mengkampanyekan cash wakaf dengan program yang disiapkan. Salah satunya cash wakaf berupa Cash Wakaf Linked Sukuk (CWLS)

Pemerintah sendiri sejak 2018 sudah meluncurkan instrumen wakaf tunai berupa CWLS seri SW001 dengan imbal hasil berupa diskonto dan kupon fixed 5,0 % per tahun yang diserahkan ke Badan Wakaf Indonesia. Optimasi CWLS ini untuk pembiayaan proyek sosial. Untuk CWLS ritel, minimum pemesanan adalah Rp 1 juta dan maksimumnya tidak terbatas.

Bila CWLS jatuh tempo, maka imbal hasil 5,0% tersebut dapat dipergunakan kembali untuk kegiatan amal, baik sosial maupun ekonomi sesuai kenginan wakif dengan tidak mengurangi nilai pokok barang atau uang yang diwakafkan. Prinsipnya, tahan pokok dan nikmati hasil.

Pada intinya, kampanye wakaf yang digaungkan pemerintah melalui masyarakat ekonomi syariah (MES) dalam rangka mengerek investasi pemerintah di sektor riil melalui pembiayaan belanja modal. Dengan wakaf produktif yang makin meningkat, investasi proyek-proyek sosial untuk rakyat makin menigkat pula.

Namun ada catatan khusus, bahwa dengan instrumen derivatif seperti CWLS, pemerintah akan berkelimpahan likuiditas. Pada saat yang sama, likuiditas swasta menjadi seret karena sumber daya publik tersedot ke negara. Oleh sebab itu, anjuran wakaf di nazir swasta pun menjadi menarik dalam rangka meningkatkan likuiditas swasta agar bisa tumbuh lebih baik dengan pembiayaan wakaf.

Untuk Rakyat

Dengan menerbitkan SBSN/CWLS seri SW001, pemerintah berharap dapat mengembangkan investasi dengan wakaf produktif untuk rakyat. Oleh karena itu pemerintah serius mengajak masyarakat yang mampu untuk melakukan wakaf tunai melalui instrumen wakaf pemerintah di Dirjen Pembiayaan Syariah dan Bank Syariah BUMN.

Secara data, investasi di Indonesia selama ini tak ada masalah serius. Investasi terus bertumbuh melalui capital inflow dan investasi asing langsung (foreign direct investment). Realisasi investasi juga besar, melampaui target. Seperti pada 2019 dan 2020; secara kumulatif pencapaian realisasi investasi sepanjang 2020 menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), mencapai Rp 826,3 triliun atau 101,1% dari target Rp 817,2 triliun --surplus Rp 9,1 triliun. Tapi surplus investasi belum optimal me-leverage ekonomi nasional. Investasi langsung tumbuh +2,1% saat ekonomi nasional masih berada di zona kontraksi.

Menurut data International Monetary Fund (IMF), persentasi investasi dari PDB Indonesia dilaporkan sebesar 30,8 % pada September 2020. Rekor ini turun dibanding sebelumnya yaitu 33.9 % untuk Juni 2020.

Indonesia mengalami tingkat pertumbuhan rata-rata tahun ke tahun sebesar 1,4 % untuk periode waktu 1980 hingga 2024. Di antara negara-negara terpilih, Vietnam memiliki tingkat pertumbuhan rata-rata tahun ke tahun tertinggi di 15,78 %. Sedangkan Malaysia memiliki tingkat pertumbuhan rata-rata tahun ke tahun terendah di -0,14 %. Investasi tumbuh lebih baik, tapi rata-rata kontribusinya ke PDB riil kecil (kalah dari Vietnam). Kenapa? Ada beberapa faktor penyebab. Di antaranya sumber daya manusia, rantai birokrasi yang berbelit, serta indeks korupsi yang masih tinggi.

Dari sisi investasi, selama ini Incremental Capital Output Ratio (ICOR) atau rasio investasi modal terhadap output tinggi. Nilai ICOR RI 10. Rata-rata negara ASEAN atau peer cauntries nilai IKOR 6. Untuk menghasilkan satu unit output GDP, biaya investasi modalnya mahal di Indonesia. Kesulitan pembiayaan bukan satu-satunya masalah investasi di Indonesia.

Secara substansi, dapat digali lebih dalam, bahwa wakaf adalah menyerahkan maksimal 1/3 dari harta untuk kebajikan (sosial) kepada mauquf'alaih, agar orang tidak mengakumulasi kekayaan dan menggunakannya secara serakah. Dari sisi kebaruan, wakaf telah mengalami transformasi, menjadi salah satu instrumen pembiayaan yang bisa membantu pemerintah dan swasta untuk membangun proyek-proyek sosial bagi rakyat

Sumber daya publik berupa potensi wakaf tidak semuanya mesti tersedot ke negara secara monopolistik. Wakaf ke nazir swasta juga menjadi catatan lain. Agar swasta memiliki kecukupan likuiditas untuk melakukan investasi ke berbagai proyek sosial. Agar swasta dan pemerintah gotong royong membangun negara, dan agar tujuan investasi benar-benar untuk ibadah, maka lembaga-lembaga pengelola (negara) harus benar-benar bersih dari korupsi.

Abdul Munir Sara peserta Program Kajian 100 Tema Kebijakan Fiskal dan Moneter Institut Harkat Indonesia (IHN)

(mmu/mmu)