Kolom

Kebangkitan Pasar Saham

Deo Peter Surbakti - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 14:00 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto ilustrasi: Pradita Utama
Jakarta -

Pasar saham Indonesia bisa dibilang sedang dalam kondisi yang begitu baik. Hal ini tidak lain karena meningkatnya jumlah investor lokal yang sangat signifikan. Tren menabung saham sendiri memang sedang sangat marak digandrungi oleh para kaum muda-mudi di Indonesia. Belum lagi hasil Sensus Penduduk 2020 memperlihatkan bahwa lebih dari setengah penduduk di Indonesia adalah generasi pemuda yaitu generasi Z sebesar 27,94 persen dan generasi milenial sebesar 25,87 persen dari total penduduk. Dengan kata lain, jumlah investor lokal yang potensial memiliki jumlah yang sangat besar.

Tren menabung saham sendiri dipercaya akan bertahan lama dan bahkan terus bertambah luas mengingat penyebarannya yang tidak terbendung. Di tengah derasnya arus informasi saat ini, informasi mengenai saham, cara membeli saham dan lainnya memanglah sangat mudah diperoleh. Oleh karenanya, pengenalan saham kepada masyarakat luas sangatlah mudah untuk dilakukan. Pengenalan ini hendaknya tidak sekadar sebagai pengenalan sepintas yang hanya mengajak keikutsertaan namun memang pengenalan yang mendalam hingga masyarakat mengerti manfaat dan risiko yang dihadapi.

Menabung saham sendiri sebenarnya berarti membeli surat berharga yang diterbitkan perusahaan. Tujuan penerbitan surat tersebut adalah menunjukkan bahwa pembeli saham turut serta sebagai pemilik dari perusahaan tersebut. Surat ini memiliki nilai yang berubah-ubah seiring dengan perkembangan perusahaan tersebut. Tentunya semakin besar perusahaan tersebut, maka nilai surat tersebut juga akan meningkat. Nilai ini dapat berubah-ubah dalam hitungan bulan, minggu, hari, bahkan jam. Biasanya surat-surat ini diperjualbelikan pada publik melalui badan resmi yang sudah ditunjuk pemerintah atau di Indonesia yaitu Bursa Efek Indonesia.

Gerakan menabung saham sendiri sebenarnya sudah lama digaungkan oleh pemerintah, namun gerakan ini benar-benar dianggap berhasil pada 2020 silam. Bagaimana tidak, menurut catatan Otoritas Jasa Kependudukan (OJK), komposisi kepemilikan saham yang biasanya didominasi oleh asing, berhasil dibalikkan oleh investor lokal dengan penguasaan saham milik investor lokal sebesar 51,67 persen. Selain itu, hampir setiap harinya terdapat antrean pendaftar baru sebagai investor lokal. Umumnya kelompok investor ini didominasi oleh mereka kelompok pemuda.

Peningkatan gerakan menabung saham tentu tidak hanya didasari oleh minat para milenial yang sangat tinggi, namun juga didukung oleh fasilitas yang serba praktis dan mudah saat ini. Proses pendaftaran investor yang bersifat daring dan persyaratan ringkas serta banyaknya aplikasi pendaftaran menjadi salah satu faktor penunjang yang signifikan. Untuk mendaftar sebagai investor saat ini, anda tidak perlu pergi ke sana kemari, sudah banyak aplikasi yang menawarkan pendaftaran melalui online. Selain itu berkas yang diperlukan pun sangatlah sederhana, sehingga hampir tidak ada kendala jika memang ingin menjadi seorang investor.

Di balik profit yang sangat menjanjikan, saham juga tentunya memiliki risiko tersendiri. Tidak semua orang yang melakukan investasi di pasar saham memperoleh keuntungan. Memang betul saham menawarkan keuntungan yang jauh lebih besar dibanding uang yang hanya disimpan di bank, tapi risiko kehilangan nilai uang tersebut juga turut menyeringai di belakangnya. Penurunan nilai perusahaan hingga failed-nya sebuah perusahaan bisa mengakibatkan seorang investor justru kehilangan seluruh uangnya. Oleh karenanya pemilihan saham yang akan dibeli sangat menentukan di masa depan.

Lebih Dinamis

Peningkatan investor lokal adalah sebuah gerakan yang sangat bagus bagi perekonomian Indonesia. Perekonomian Indonesia selama ini terkenal memiliki pasar yang luas karena tingkat konsumen yang tinggi sehingga banyak perusahaan asing memilih berinvestasi di Indonesia. Pergerakan pola konsumtif menjadi investif lantas akan membuat pasar di Indonesia menjadi lebih dinamis.

Perekonomian akan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat jika nantinya perekonomian ditopang oleh investasi dibanding konsumsinya. Jika nanti kepemilikan saham lokal jauh lebih tinggi dibanding asing, hal ini akan sangat bagus karena berarti Indonesia tidak perlu bergantung lagi pada modal asing.

Pemilihan saham yang dibeli oleh investor lokal juga akan sangat memengaruhi pergerakan roda ekonomi di Indonesia. Faktor pertama yang menjadi penentu tentunya adalah kepemilikan perusahaan tersebut. Investasi pada perusahaan milik asing sebenarnya bukan sesuatu yang salah, namun tentunya ini justru dapat mematikan perekonomian bangsa sendiri. Akan sangat baik sebenarnya jika para investor mampu melakukan investasi pada perusahaan lokal atau setidaknya perusahaan milik negara. Nilai investasi mereka tentunya tidak hanya mendorong perekonomian, namun turut menyejahterakan masyarakat.

Selain itu, pemilihan perusahaan yang mampu bersaing di tingkat nasional atau global juga menjadi salah satu faktor yang penting. Di tengah melambungnya gerakan menabung saham yang terus digaungkan, tanpa disadari telah terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat. Uang yang biasanya digunakan untuk konsumsi mulai dialihkan ke pasar modal untuk pembelian saham. Tanpa disadari hal ini mengakibatkan konsumsi menurun dan pasar nasional mulai agak lesu.

Hal ini juga yang diperlihatkan oleh BPS pada tingkat konsumsi rumah tangga yang terus menurun pada kuartal II dan III tahun 2020. Meskipun pandemi merupakan faktor utama pendorong turunnya konsumsi, pengalihan konsumsi ke investasi juga menjadi salah satu fenomena yang bisa ditemui pada banyak masyarakat. Investasi saham pada perusahaan multinasional jelas menjadi pilihan terbaik yang akan mendorong perusahaan-perusahaan lokal lainnya untuk meningkatkan daya saing.

Jika investor lokal ini terus berkembang dan menciptakan pasar modal yang baik tentunya para pengusaha akan semakin bergairah membuka usaha di Indonesia. Di saat momen emas inilah para generasi muda Indonesia hendaknya tidak hanya menjadi penonton namun mampu menjadi pengusaha yang aktif. Semakin banyak pengusaha-pengusaha lokal tentunya akan semakin mendorong perekonomian ke arah yang lebih baik. Mulai dari perusahaan dengan daya saing kuat hingga luasnya lapangan pekerjaan yang tersedia akan menjadi manfaat besar jika potensi ini dapat dimaksimalkan.

Hal sebaliknya yang akan terjadi jika pengusaha asing lebih aktif di negara sendiri yaitu masyarakat tidak akan mendapat manfaatnya sepenuhnya. Mulai dari pengelolaan sumber daya alam milik sendiri yang dikelola asing hingga keuntungan yang sangat minim dari pengelolaan tersebut. Selain itu, kesejahteraan masyarakat juga akan semakin terpuruk dan rakyat Indonesia akan terus dipandang sebagai rakyat kelas kedua. Tentunya hal ini tidak boleh terjadi jika Indonesia tidak ingin terjajah lagi secara tidak langsung.

Langkah penting yang harus dipersiapkan oleh pemerintah adalah menjaga iklim investasi yang sedang bagus dan terus mendorong masyarakat untuk melakukan investasi. Selain itu, penyiapan masyarakat untuk mempersiapkan usaha juga menjadi sebuah pekerjaan besar yang harus dicicil sejak dini. Usaha-usaha yang dipersiapkan hendaknya tidak hanya sebatas UMKM lagi, namun pemerintah hendaknya mulai bisa melirik dan mendukung perusahaan-perusahaan yang berprestasi di tingkat nasional.

Dukungan pemerintah bagi perusahaan-perusahaan yang telah menguasai tingkat nasional akan mendorong mereka untuk mengembangkan usaha mereka ke tingkat internasional dan membuat Indonesia semakin maju.

Deo Peter Surbakti pengamat pasar saham

(mmu/mmu)