Analisis Zuhairi Misrawi

Kang Jalal, Ulama Ensiklopedis yang Mendunia

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 12:56 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Kabar kepulangan KH Jalaluddin Rakhmat ke haribaan Allah pada Senin (15/2) lalu sangat mengejutkan publik di seantero Tanah Air. Panggilan akrabnya, Kang Jalal, menjadi pembicaraan di laman Twitter, Facebook, dan Instagram. Berbagai komentar dan kenangan tentang almarhum memenuhi jagat media sosial.

Perihal kepulangan Kang Jalal pada hari Senin itu, saya tiba-tiba teringat Rasulullah SAW, sosok yang sangat diidolakan dan dicintai almarhum juga wafat pada hari Senin. Almarhum tidak hanya menjadi pengikut setia Rasulullah dan keluarganya, melainkan juga ditakdirkan Allah pulang pada Hari Senin mengikuti jejak Sang Nabi teladan umat Islam.

Dua minggu sebelumnya, saya dikabari Kang Jalal positif Covid-19. Mungkin saya sosok pertama yang mendapat kabar sedih ini. Sejak saat itu, saya menangis tiada henti, karena terbayang betapa beratnya perjuangan almarhum menghadapi pandemi ini, dan negeri ini tentu belum siap kehilangan sosok cendekiawan Muslim terkemuka itu.

Saya mendapatkan cerita bahwa almarhum di akhir-akhir hayatnya masih menerima tamu, karena semata-mata mengamalkan pesan Rasulullah, bahwa Muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir yaitu Muslim yang menghormati tamunya. Almarhum mempunyai banyak murid dan pencinta dari berbagai penjuru Tanah Air, bahkan dunia.

Perihal wafat karena Covid-19 ini sebenarnya perlu pencerahan, khususnya bagi umat Muslim dan juga umat agama-agama lain. Wafat karena Covid-19 bukanlah aib. Bahkan sebaliknya, wafat karena Covid-19 adalah syahid. Hal tersebut ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-'Asqalani di dalam kitabnya, Badz al-Ma'un fi Fadli al-Tha'un, bahwa siapapun yang meninggal dunia di tengah pandemi, sesungguhnya ia wafat dalam keadaan syahid.

Rasulullah SAW bersabda, barang siapa meninggal dunia di tengah pandemi, sesungguhnya ia mati syahid. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, yang dalam ilmu hadis disebut muttafaq 'alaih, kesahihannya tidak diragukan lagi. Saya haqqul yaqin, Kang Jalal dan istri tercinta wafat sebagai syahid, sesuai dengan keinginannya untuk menjadi syahid, mengikuti jejak pujaannya.

Saya sendiri sering berjumpa Kang Jalal, baik dalam forum-forum ilmiah maupun bincang-bincang santai sambil minum teh. Sejak mondok, saya sudah membaca karya-karya almarhum, khususnya Islam Aktual dan Islam Alternatif. Kedua buku ini menjadi bacaan yang menyegarkan dan mencerahkan bagi santri tahun 90-an, bahkan hingga saat ini.

Saya sendiri berutang budi pada almarhum, karena berkat kedua buku tersebut, saya dapat menikmati keindahan Islam yang bersumber dari Rasulullah dan keluarganya. Saya menjadi kader NU yang paling beruntung karena dikenalkan pada ajaran Islam yang indah, penuh cinta, dan keramahtamahan, sebagaimana pesan Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dalam kitab al-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Muslimin, bahwa kita umat Islam hendaknya mencintai dan meneladani Rasulullah dan keluarganya.

Kebetulan dalam beberapa bulan terakhir, saya rutin membaca (kembali) kedua buku tersebut pada pagi hari sebelum memulai aktivitas. Saya masih merasakan ketajaman, keindahan, dan kearifan Kang Jalal dalam menggunakan kata dan merangkai makna. Wajah Islam yang ramah, bukan Islam yang marah, sangat terasa dalam tulisan-tulisannya. Saya menerawang pada masa lalu saat masih di pesantren dan masa-masa kuliah di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, karena kedua buku itu menyertai perjalanan keilmuan saya.

Dalam konteks khazanah pemikiran Islam kontemporer di negeri ini, Kang Jalal menjadi salah satu sosok penting yang menginspirasi para pemikir Muslim. Ia sosok pemikir Muslim par-excellent yang dapat disejajarkan dengan Gur Dur, Nurcholish Madjid, Syafii Maarif, Dawam Rahardjo, KH. Masdar F Mas'udi, KH. Said Aqil Siroj, dan KH. Husein Muhammad. Hampir seluruh pemikir Muslim setelahnya berpijak di atas batu-bata pemikiran yang telah ditorehkan oleh para kampiun pemikir Muslim Tanah Air itu.

Kekaguman saya terus bertambah setelah berjumpa Kang Jalal dalam berbagai forum diskusi dan majelis-maejlis keilmuan daring selama pandemi, yang jumlahnya sangat banyak sekali. Almarhum betul-betul seorang ulama dan cendekiawan Muslim yang sangat istimewa, karena mengusai berbagai bahasa dengan baik, di antaranya Inggris, Arab, Persia, Jerman, dan Prancis. Istimewanya, almarhum menguasai bahasa Arab walau tidak pernah belajar di negara-negara Arab.

Saya selalu terkagum-kagum pada almarhum saat memaknai kata dan kalimat dalam kitab-kitab berbahasa Arab, baik klasik maupun kontemporer. Kualitasnya sangat istimewa, karena maknanya menjadi indah, karenanya pesan dalam kitab-kitab tersebut menerobos relung hati yang terdalam.

Penguasaan bahasa yang luas itu menjadikan Kang Jalal sebagai sosok ulama, cendekiawan, dan pemikir Muslim yang luar biasa dan langka di negeri ini. Bahkan, keilmuan dan kepakarannya diakui dunia, karena dapat menjelaskan ajaran Islam dengan indah. Dalam penguasaan bahasa-bahasa itu pula, Kang Jalal sangat dikagumi oleh Gus Dur dan Cak Nur, karena bacaannya sangat luas. Belum lagi, almarhum sangat menguasai khazanah keluarga Rasulullah SAW, yang tidak mudah diakses bagi para ulama dan cendekiawan lainnya karena mereka tumbuh dalam tradisi dan khazanah Ahlussunnah wal Jamaah.

Saya yang lahir dan tumbuh besar sebagai santri dan kader Nahdlatul Ulama menjadi saksi betapa dalam konteks keilmuan, Kang Jalal merupakan sosok ulama ensiklopedis, rasional, dan detail dalam menguraikan sebuah diskursus, hatta dalam tema yang sulit sekalipun. Di akhir-akhir hayatnya, almarhum membuka kajian daring tentang Maqashid al-Syariah dan filsafat sebagai way of life. Dua tema ini dikenal sulit, dan tidak semua orang mampu menjelaskan dengan renyah dan mudah dikunyah.

Almarhum dapat menjelaskannya dengan mudah. Jika tidak percaya, silakan tonton kanal Youtube MAJULAH IJABI atau JRTV. Ceramah-ceramah almarhum pada akhir hayatnya tersimpan baik di dua kanal Youtube tersebut.

Pada awal pandemi, saya sowan kepada Kang Jalal. Tidak tahu, tiba-tiba saya rindu pada para mahaguru yang mendahului kita semua, seperti Gus Dur, Cak Nur, dan Mas Dawam. Ada dua sosok mahaguru yang masih hidup sebagai jimat intelektualisme Islam, yaitu Kang Jalal dan Buya Syafii Maarif. Saya tergerak untuk ke Bandung berjumpa almarhum. Saya menyimak langsung ceramah dalam majelis Minggu pagi yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube MAJULAH IJABI.

Almarhum meminta saya untuk mengisi majelisnya sebagai penghormatan pada tamu dan muridnya. Tapi saya bilang, "Kang, saya ini orang NU Madura, kalau duduk di kursi kiai bisa dianggap tidak beradab (suul adab)." Almarhum hanya mengumbar senyum khasnya. Ya, Allah...senyum itu yang membuat siapapun yang pernah melihat akan terus mengenangnya, sampai kapan pun.

Dalam pertemuan tersebut, Kang Jalal menghadiahkan kepada saya buku Radical Islam and International Security: Challenges and Responses. Buku ini saya simpan baik-baik, karena kado indah dari mahaguru. Saya simpan baik-baik, karena masih ada coretan tangan dan garis pena almarhum. Di balik pemberian buku ini ada kisah uniknya.

Saat itu, saya mendiskusikan perihal pentingnya persaudaraan (ukhuwwah) dan mahabbah (cinta) di antara sesama, lebih-lebih sesama Muslim, sesama warga bangsa, dan sesama warga dunia. Dalam perbincangan, saya menyampaikan begini, "Salah satu cara untuk menghadapi dan mengatasi problem radikalisme dan ekstremisme, kita harus perkuat wawasan kebangsaan. Sebab kita mempunyai pengalaman baik, bagaimana Bung Karno mengukuhkan Pancasila sebagai dasar kebangsaan kita."

Lalu, almarhum berkata, "Saya setuju sekali, pandangan itu juga dikonfirmasi oleh buku ini. Silakan, Gus ambil buku ini, hadiah dari saya."

Itulah sosok Kang Jalal, seorang ulama ensiklopedis yang menguasai berbagai bahasa asing, membaca ribuan buku, menulis puluhan buku, dan mewariskan pada kita semua perihal pentingnya persaudaraan dan cinta sesama umat Islam, sesama warga-bangsa, dan warga dunia. Almarhum kerap mengutip pesan Imam Ali bin Abi Thalib, "Manusia itu ada gua golongan: golongan yang bersaudara dalam satu agama dan golongan yang bersaudara sesama ciptaan Tuhan."

Itulah ajaran Islam yang terus diperjuangkan dan disebarluaskan oleh Kang Jalan hingga akhir hayatnya, yaitu Islam cinta dan persaudaraan. Almarhum memberi nama khusus atas wacana keislaman itu dengan sebutan Islam Madani. Yaitu Islam yang hadir untuk membangun peradaban dan keadaban, bukan Islam yang dijadikan instrumen untuk menebarkan kebencian dan pasca-kebenaran.

Saya dan semua murid-muridmu menjadi saksi, Kang Jalal adalah orang saleh, ulama yang teguh menyebarluaskan ajaran Rasulullah SAW dan keluarganya, lakal Fatihah, Kang. Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji'i ila rabbika radliyatan mardliyyah...

Zuhairi Misrawi cendekiawan Muslim, kader Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah

(mmu/mmu)